
Setibanya di rumah sakit, Windi langsung bergegas menaiki lift yang akan mengantarkannya ke lantai tempat Jasmin dirawat. Untung saja sebelum pergi ke rumah sakit ia sempat menanyakan pada Marvel dimana ruangan Jasmin dirawat hingga ia tidak perlu menanyakannya lagi pada petugas rumah sakit.
Dengan langkah kaki yang semakin memelan, Windi berjalan menuju ruangan yang ia yakini ruangan perawatan Jasmin. Sebelum masuk ke dalam ruangan, Windi menghela nafas sejenak lalu membuka pintu ruangan.
Ceklek
Suara pintu ruangan yang terdengar terbuka dari luar tak membuat Jasmin yang tengah tertidur terganggu dari tidurnya.
Windi melangkah dengan pelan dan mata yang sudah berkaca-kaca mendekat ke arah ranjang Jasmin. "Jasmin..." lirih Windi menatap iba pada sosok tak berdaya yang kini tengah terbarinh di atas ranjang.
Tanpa Windi sadari, jika suaranya yang terdengar lirih itu berhasil membangunkan Jasmin dari tidurnya.
"Windi..." Jasmin dibuat terkejut saat membuka mata melihat keberadaan Windi di samping ranjangnya.
"Hai, Jasmin." Windi mencoba tetap tersenyum walau air mata mulai terjatuh di kedua pipinya.
"Hei, kenapa kau menangis." Tanya Jasmin pelan.
"Agh, tidak." Windi segera duduk di atas kursi yang ada di sebelah ranjang.
Jasmin tak percaya begitu saja. Ia menangkap jika Windi sudah mengetahui penyakitnya saat ini. "Windi, apa kau sudah mengetahui penyakitku saat ini?" Tanya Jasmin.
Windi mengangguk mengiyakan. "Kenapa kau tidak pernah bercerita selama ini kepadaku?" Tanya Windi.
"Aku tidak ingin membuatmu merasa kasihan padaku." Jawab Jasmin seadanya.
Windi pun teringat dengan pertemuan pertama mereka di negara S. "Jasmin, apakah saat itu di rumah sakit di negara S kau bukan mengunjungi temanmu yang sedang sakit melainkan mengontrol penyakitmu di sana?" Tebak Windi.
Jasmim terdiam beberapa saat lalu mengangguk membenarkan perkataan Windi. "Maaf telah membohongimu saat itu." Sesal Jasmin.
Walau begitu banyak pertanyaan yang bersarang di pemikiran Windi saat ini, namun Windi memilih diam tak bertanya karena ia tidak ingin menambah pemikiran Jasmin yang tengah terbaring lemah saat ini.
"Windi... bolehkah aku meminta pertolongan padamu?" Tanya Jasmin dengan suara lemah.
"Apa itu?" Tanya Windi.
"Bisakah kau menjaga Arthur di saat aku sedang dirawat saat ini? Ku mohon jangan memberitahukan pada Arthur jika saat ini aku sedang sakit karena ia pasti mengerti apa maksud kata sakit yang kau katakan." Pinta Jasmin. Bukannya ingin memanfaatkan keadaanya yang sedang sakit saat ini untuk mendekatkan Arthur dengan Marvel, namun Jasmin tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa lagi untuk menjaga putranya yang masih kecil.
"Aku akan menjaga Arthur. Kau jangan terlalu banyak pikiran lagi. Untuk saat ini kau cukup fokus pada kesehatanmu dan percayakan jika Arthur akan baik-baik saja bersamaku." Ucap Windi.
"Terima kasih..." lirih Jasmin sambil menahan rasa sakit pada perutnya saat ini.
"Jasmin..." Windi terlihat sangat cemas melihat wajah Jasmin yang tengah merasa sakit.
"Ssst..." Jasmin kembali meringis menahan rasa sakit pada perutnya.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggilkan dokter." Windi hendak bangkit dari duduknya namun tangan Jasmin dengan cepat menahan pergerakannya.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.