Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Percakapan penting


Malam harinya, setelah Windi menitipkan Arthur pada pelayan untuk menemani Arthur tidur, Windi berangkat menuju rumah sakit bersama dengan Marvel. Perjalanan menuju rumah sakit malam itu terasa sangat lama karena Windi sudah tidak sabar untuk sampai dan bertemu dengan Jasmin.


Rasa tidak sabar yang tadi Windi rasakan tiba-tiba berubah saat ia sudah berada di depan rumah sakit. Jantungnya mulai berdebar-debar saat bayang-bayang wajah pucat Jasmin mulai terlihat di depat matanya.


"Sayang?" Marvel menegur istrinya yang nampak melamun.


"Emh, ya." Sahut Windi dengan wajah layunya.


"Ayo." Ajak Marvel menggenggam erat tangan Windi.


Windi mengangguk lalu melangkah bersamaan dengan Marvel.


"Apa kita ingin langsung ke ruang perawatan?" Tanya Marvel sebelum mereka masuk ke dalam lift.


Windi hanya mengangguk tanpa bersuara. Saat ini ia tengah menguatkan hati dan pemikirannya untuk bertemu dengan Jasmin di ruang perawatannya.


Ting


Pintu lift terbuka. Marvel segera membawa Windi masuk ke dalam lift dan menekan tombol lift untuk menuju ruangan perawatan Jasmin berada.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja." Ucap Marvel pada Windi yang nampak gelisah.


"Emh, ya." Windi mengangguk lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Jhoni." Panggil Marvel pada asistennya yang nampak menunggu kedatangan mereka di depan ruangan perawatan Jasmin.


"Tuan Marvel, Nona Windi." Sapa Jhoni dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


Windi mengangguk membalas sapaan Jhoni untuknya. "Apa Jasmin sudah menunggu kedatanganku di dalam ruangan?" Tanya Windi.


"Benar, Nona. Nona Jasmin sudah menunggu kedatangan anda sejak tadi." Jawab Jhoni seadanya.


Windi mengangguk paham. Pandangannya kini beradu dengan Marvel.


"Masuklah." Ucap Marvel seolah mengerti arti tatapan Windi padanya.


"Terima kasih." Ucap Windi.


Marvel mengangguk dan menata istrinya yang kini tengah bersiap masuk ke dalam ruangan perawatan Jasmin.


Ceklek


"Windi..." ucap Jasmin pelan.


Windi melangkah mendekat pada Jasmin seraya tersenyum. Ia tidak ingin memperlihatkan wajah sedihnya di hadadapan Jasmin saat ini.


"Terima kasih sudah datang." Ucap Jasmin setelah Windi berada di sebelah ranjangnya.


"Emh..." Windi tersenyum.


"Ayo duduk dulu." Pinta Jasmin pelan.


Windi menurutinya dengan duduk di kursi yang berada di samping ranjang.


"Maaf karena aku tidak membawa Arthur ke sini." Ucap Windi pelan pada Jasmin.


"Tak masalah... biarkan Arthur tetap di rumah dan tidak melihat keadaanku saat ini." Balas Jasmin tersenyum.


"Jasmin..." Windi memegang tangan Jasmin namun tidak terlalu kuat. "Percayalah jika semua akan baik-baik saja." Windi berusaha memberikan semangat pada Jasmin.


"Ya. Aku harap juga begitu." Balas Jasmin.


Windi terdiam karena kini lidahnya mulai sulit untuk berkata saat menyadari wajah Jasmin nampak lebih pucat dari saat terakhir mereka bertemu.


"Windi... ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Jasmin membuka percakapan penting di antara mereka.


Windi menggangguk dan menatap intens wajah Jasmin.


"Windi... aku tidak tahu kapan Tuhan akan mengambil nyawaku. Aku tidak tahu dengan hari esok apakah aku masih diberi kesempatan untuk hidup atau tidak."


Windi menggelengkan kepalanya berharap Jasmin tidak melanjutkan perkataannya.


"Windi... aku sangat takut jika apa yang aku pikirkan akan terjadi. Aku sangat takut di saat kepergiaanku nantinya aku tidak bisa lagi melihat wajah anakku dan tidak mengetahui bagaimana nasib anakku ke depannya."


***


Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.


Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.