
Windi mencoba memasang kupingnya dengan benar di dekat pintu yang sedikit terbuka setelah mengenal suara siapa yang ia dengar saat ini.
Deg
Jantung Windi berdebar-debar saat sedikit jelas mendengar apa yang tengah Marvel bicarakan pada wanita yang tak lain adalah Jasmin.
"Saya harap anda menghapus segala memory tentang saya yang ada di hidup anda maupun ponsel anda. Anda tahu jelas bukan jika apa yang anda simpan saat ini dapat berpengaruh buruk pada keutuhan rumah tangga saya!" Tekan Marvel menatap tajam wanita yang berada di hadapannya saat ini. Tidak ada lagi tatapan cinta yang ia perlihatkan pada Jasmin. Yang ada hanyalah tatapan penuh peringatan agar Jasmin mengikuti segala perkataannya
Jasmin hanya bisa mengangguk tanpa bersuara karena kini suaranya terasa tercekat ditenggorokan saat melihat tatapan tajam Marvel padanya. Jasmin tak dapat menyalahkan sikap pria itu saat ini kepadanya. Karena apa yang dilakukan Marvel saat ini murni untuk menjaga keutuhan rumah tangganya dan Windi.
Sementara di luar ruangan, Windi masih berupaya mencuri dengan pembicaraan mereka namun ia tidak berhasil mendengarkan apa-apa karena Marvel tak lagi bersuara dan memerintahkan Jasmin keluar dari dalam ruangan kerjanya dengan gerakan tangannya.
Jasmin yang mendapatkan perintah dari Marvel segera mengangguk lalu mengambil berkas yang sudah ditandatangani Marvel.
"Kalau begitu saya keluar dulu, Tuan. Terima kasih." Ucap Jasmin namun Marvel tak menggubrisnya. Dapat Jasmin lihat dengan jelas jika Marvel merasa enggan menatap wajahnya saat ini.
Jasmin pun segera keluar dari dalam ruangan Marvel dengan menahan sesak di dadanya. Mendengar langkah kaki mengarah ke depan pintu, Windi buru-buru mencari tempat persembunyian agar keberadaannya tidak diketahui oleh Jasmin. Untuk saja saat itu meja sekretaris Marvel sedang kosong hingga ia bisa bersembunyi di bawah meja setelah meletakkan rantang yang dibawanya di atas kursi kerja sekretaris Marvel.
Jasmin yang saat itu memang tidak memperhatikan apa-apa setelah keluar dari dalam ruangan Marvel pun berjalan begitu saja meninggalkan lantai tertinggi perusahaan dan masuk ke dalam lift dengan mata berkaca-kaca.
"Nona? Apa yang anda lakukan di sini?" Sekretaris Marvel yang baru saja kembali dari kamar mandi dibuat terkejut melihat Windi tengah berjongkok di bawah meja kerjanya.
"Aw." Karena merasa terkejut mendengarkan suara sekretaris Marvel membuat Windi mengangkat kepalanya hingga berada dengan bawah meja. Windi meringis sambil berusaha keluar dari dalam kolong meja.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" Tanya sekretaris Marvel merasa cemas.
"Maaf, Nona, apa yang anda lakukan di bawah meja saya?" Tanyanya dengan kening mengkerut bingung.
"Emh... saya..." Windi mencoba berpikir cepat mencari alasan yang logis agar dapat diterima oleh sekretaris Marvel. "Saya sedang mengambil kunci kamar saya yang terjatuh di bawah sini." Jawabnya dengan tersenyum kaku.
Sekretaris Marvel nampak semakin bingung mendengarkan jawaban Windi. Namun setelah Windi menunjukkan sebuah kunci di tangannya membuatnya akhirnya mengangguk paham.
"Apa anda ingin mengantarkan bekal makan siang untuk Tuan Marvel, Nona?" Tanyanya sambil menatap rantang yang ada di atas kursi kerjanya.
"Emh, ya. Kalau begitu saya pamit masuk ke dalam dulu." Ucap Windi cepat.
Sekretaris Marvel mengangguk saja dan mempersilahkan Windi masuk ke dalam ruangan kerja Marvel.
"Oh, ya, bisakah kau tidak menceritakan apa yang kau lihat tadi pada suamiku?" Pinta Windi yang merasa takut jika sekretaris Marvel menceritakan apa yang ia lihat tadi pada Marvel.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.