
Keesokan harinya, Windi terbangun dengan tubuh yang terasa pegal dan remuk akibat pertarungannya dan Marvel yang berlangsung cukup lama tadi malam.
"Dia bukan hanya sekedar ingin memangsaku tapi juga mau perlahan membunuhku." Gumam Windi sambil meregangkan tubuhnya. Ditatapnya sosok pria yang tadi malam tak memberi rasa ampun sedikit pun pada dirinya. Marvel sudahl layaknya seorang pecandu yang tidak ingin mengakhiri pertarungan mereka bahkan mengurangi durasinya.
Walau merasakan sakit pada tubuhnya saat ini, namun Windi sama sekali tidak mereasa menyesal atas apa yang terjadi, justru ia merasa bahagia karena sudah berhasil membuat suaminya itu bahagia bersama dirinya dan membayar segala kesalahannya beberapa bulan belakangan ini yang telah mengabaikan suaminya.
"Lebih baik aku mandi dulu." Ucap Windi saat melihat jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Tidak biasanya ia terbangun di waktu seperti saat ini jika tidak karena kelelahan.
Windi turun dari ranjang dengan gerakan pelan agar tak mengganggu Marvel yang masih terlihat terlelap nyaman dalam tidurnya. Setelah berhasil turun dari ranjang, Windi pun segera melangkah menuju kamar mandi dengan melangkah pelan karena bagian intinya yang terasa sakit.
Tak berselang lama setelah Windi masuk ke dalam kamar mandi, Marvel nampak membuka kedua kelopak matanya. Baru saja terjaga, wajahnya sudah dibuat masam karena tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.
"Kenapa dia meninggalkanku. Harusnya dia menungguku untuk mandi bersama." Sungutnya. Karena merasa kesal ditinggalkan oleh Windi begitu saja, akhirnya Marvel memilih tetap diam di atas ranjang sambil menunggu Windi keluar dari dalam kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Windi yang sudah keluar dari dalam kamar mandi nampak menatap bingung suaminya yang sudah bangun namun tetap berbaring di atas ranjang sambil menatap masam padanya.
"Apa apa, Mas?" Tanyanya tanpa rasa bersalah.
Marvel masih diam karena masih merajuk ditinggal begitu saja.
"Kenapa, Mas?" Windi kembali bertanya seraya berjalan mendekat ke arah ranjang.
Windi kini sudah paham kemana arah pembicaraan suaminya. Ia tahu suaminya tengah merajuk ditinggal pergi olehnya. "Maaf, aku sudah merasa sangat gerah. Lagi pula aku pikir jika Mas masih lama akan bangun karena terlalu kelelahan." Tutur Windi lembut.
Mendengar kata kaaf dari mulut istrinya membuat Marvel tak kuasa untuk menahan tetap marah. Diulurkannya sebelah tangannya pada Windi meminta Windi untuk duduk di sebelahnya.
Windi pun menurutinya dan duduk di sebelah Marvel.
"Untuk membayar kesalahanmu pagi ini kau harus kembali bertarung denganku siang nanti." Ucap Marvel sambil menggesekkan wajahnya di pundak Windi.
"Tapi, Mas..." Windi rasanya ingin menolak. Terlebih saat ini bagian intinya masih terasa sakit akibat keganasan suaminya tadi malam. Namun sesaat kemudian penolakan itu hilang begitu saja saat menatap wajah masam suaminya.
"Baiklah. Tapi sebagai imbalannya nanti malam aku ingin menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan keliling kota dan menghampiri Alisa di supermarket. Rasanya aku sudah sangat merindukan sahabatku itu." Pinta Windi.
Marvel mengangguk saja. "Apa pun untukmu." Balasnya.
Windi tersenyum mendengarnya. Ia pun beranjak dari atas ranjang saat mendengar ponselnya yang berbunyi tanda notifikasi pesan masuk.
"Jhoni?" Gumam Windi membaca nama pengirim pesan. Setelahnya ia segera membuka pesan dari Jhoni dan membacanya.
***