
"Jasmin... jangan berbicara seperi ini. Kau pasti akan baik-baik saja." Lirih Windi.
Jasmin menggeleng dengan lemah. "Aku rasanya tidak kuat, Windi... dengan bertambahnya waktu aku merasa tubuhku semakin lemah. Aku merasa tidak kuat lagi untuk bertahan." Jasmin mulai meneteskan air mata yang sejak tadi ia tahan.
"Jasmin... jangan seperti ini. Kau harus kuat untuk Arthur." Pinta Windi.
"Windi... apa kau tahu jika sejak dulu aku hidup hanya untuk Arthur? Aku bertahan hanya untuk Arthur. Sejak kecil Arthur sudah aku ajarkan untuk mandiri karena aku sadar jika umurku tidak akan lama membersamai Arthur. Aku tidak ingin di saat aku tidak lagi bersamnya Arthur akan merasa canggung karena tidak ada diriku di sisinya." Jasmin mulai menangis dengan deras mengingat wajah putranya.
"Dan saat ini... aku merasa waktuku tidak akan lama. Aku merasa semakin lemah tak berdaya." Jasmin memejamkan kedua kelopak matanya saat merasakan sakit mulai menyerang tubuhnya.
"Kau tak apa?" Windi nampak cemas.
"Aku tak apa..." lirih Jasmin lalu membuka kedua kelopak matanya.
"Jasmin... kau harus kuat demi Arthur. Banyak doa yang menyertaimu agar kau bisa kembali sembuh. Apa kau tahu Jasmin, semakin hari Arthur semakin pintar. Kau benar jika dia adalah anak yang mandiri hingga aku merasa sangat salut padanya." Windi mencoba mengalihkan percakapan mereka agar Jasmin kembali tersenyum. Dan berhasil, setelah mendengarkan perkataannya senyuman di wajah Jasmin pun terbit.
Namun itu hanya sebentar, karena sesaat kemudian wajah Jasmin kembali layu saat mengingat penyakitnya. "Windi... bisakah aku meminta satu pertolongan kepadamu?" Tanya Jasmin dengan mata berkaca-kaca.
"Apa itu? Jika aku bisa aku akan melakukannya untukmu." Jawab Windi.
"Windi... tidak ada lagi yang aku harapkan di dunia ini selain kebahagiaan untuk anakku. Windi... aku tahu kau mengerti bagaimana sakitku saat ini. Aku tahu kau dapat memprediksi bagaimana keadaanku saat ini." Jasmin menjeda ucapannya sesaat.
"Windi... bisakah aku meminta satu pertolongan itu di saat waktuku sudah habis dan aku sudah tidak bisa lagi menjaga anakku bahkan melihat senyumannya?"
"Aku minta di saat waktu itu tiba jagalah Arthur untukku. Ku mohon jagalah Arthur karena tidak ada lagi yang bisa menjaganua setulus hati selain dirimu." Pinta Jasmin menghiba-hiba.
"Jasmin..." Windi menggeleng tak ingin Jasmin melanjutkan perkataannya.
"Windi... ku mohon jagalah anakku. Walau aku tahu itu akan berat untukmu namun aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Arthur tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini jika aku tidak ada. Nenek, Kakek, bahkan Ayah kandungnya tidak menginginkan keberadaannya. Ku mohon Windi... jagalah Arthur untukku." Pinta Jasmin lagi.
Windi tak menjawab permintaan Jasmin karena saat ini ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika apa yang dikatakan Jasmin akan terjadi. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana sedihnya Arthur jika mengetahui ibu kandungnya telah tiada dan tidak bisa menemaninya hingga tua. Ia sungguh tidak sanggup membayangkan bagaimana sedihnya Arthur nanti.
"Windi... ku mohon..." pinta Jasmin lagi.
Windi mengangkat kepalnya yang tertunduk. "Jasmin... aku akan merawat Arthur dengan sepenuh hati hingga kau sembuh dari penyakitmu. Aku yakin kau pasti akan sembuh dan bisa menemani Arthur hingga dewasa nanti." Ucap Windi tak ingin membenarkan Jasmin yang berkata ingin pergi.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.