
Dua minggu tanpa terasa berlalu sejak Jasmin bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Marvel. Selama bekerja di perusahaan Atmajaya, Jasmin tak sekalipun memperlihatkan gerak-gerik yang mencurigakan di depan mata Marvel. Wanita itu bekerja seperti karyawan para umumnya dan bersikap hormat jika bertemu atau berpapasan dengan Marvel.
Marvel pun tak mempermasalahkan sikap wanita itu yang seperti orang tidak mengenal siapa dirinya. Menurutnya kisahnya dan Jasmin telah usai dan saat ini mereka tinggal menjalani kehidupan masing-masing tanpa saling mengganggu satu sama lain.
Hari itu, tepatnya di hari minggu, Windi terlihat telah rapi dengan pakaian bepergiannya. Wanita itu terlihat menuruni tangga dan menghampiri Marvel yang sedang berada di ruangan kerjanya bersama Daniel.
"Kau sudah mau pergi, Sayang?" Tanya Marvel.
Windi semakin melangkah dekat dan mengangguk. "Ya. Apa kau ingin menitip sesuatu?" Tanya Windi.
"Sepertinya beberapa cemilan cukup menggiurkan untuk dimakan nanti malam." Jawab Marvel.
Windi mengangguk paham. "Nanti aku akan membelikannya." Ucapnya.
"Apa kau ingin pergi sekarang?" Tanya Marvel.
"Ya. Aku pamit pergi dulu. Kabari aku jika kau atau ayah berubah pikiran ingin menambah pesanan." Ucap Windi.
Marvel mengangguk mengiyakan. Windi pun turut berpamitan pada Daniel lalu melangkah meninggalkan ruangan kerja Marvel.
Tiga puluh menit kemudian, Windi telah tiba di pusat perbelanjaan yang terlihat cukup ramai pagi itu. Windi melangkah masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan tak lupa mengambil keranjang untuk meletakkan barang belanjaannya.
"Beli perlengkapan mandi dulu saya." Ucap Windi menatap rak yang berada tidak jauh darinya. Windi terus melangkah sambil mendorong keranjang. Setelah sampai di depan rak yang ia tuju, Windi segera memasukkan barang-barang apa saja yang diperlukannya untuk di rumah.
"Belanja sendiri tidak seburuk yang dipikirkan." Gumamnya lalu kembali mendorong keranjang belanjaannya menuju rak khusus makanan ringan.
Bruk
Saat sedang asik memilih beberapa cemilan yang dipesan Marvel, seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun tidak sengaja menabrak tubuhnya.
"Maaf, maafkan saya, Tante." Ucapnya merasa takut.
"Agh, ya. Tidak masalah." Jawab Windi seraya tersenyum menenangkan anak kecil yang terlihat takut padanya.
"Apa kau membuat masalah kali ini, Arthur?" Tanyanya menegur putranya.
"Emh, maafkan aku Mommy." Jawab Arthur merasa takut.
Windi menatap intens wanita yang berada di depannya saat ini sambil mengingat-ingat pertemuan mereka saat berada di negara S. "Bukankah wanita ini..." Windi tak melanjutkan ucapannya dan lebih memilih menyapa wanita di depannya.
"Maafkan putra saya sudah membuat kegaduhan, Nona." Ucap wanita itu merasa sungkan pada Windi.
"Agh, ya, tidak masalah." Jawab Windi.
Wanita itu tersenyum lega mendengar jawaban dari Windi yang tidak mempermasalahkan kesalahan putranya.
"Windi." Ucap Windi tiba-tiba mengulurkan tangan pada wanita itu.
Wanita itu pun dengan cepat menerima uluran tangan Windi. "Jasmin." Jawabnya tersenyum.
"Oh ya, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, Nona Jasmin." Ucap Windi.
Jasmin tak langsung menjawab ucapan Windi dan lebih memilih menatap wajah Windi intens. "Benarkah begitu?" Tanya Jasmin kemudian.
"Ya. Aku seperti pernah melihatmu saat berada di negara S. Apakah kau baru saja dari negara S beberapa minggu yang lalu?" Tanya Windi penuh selidik.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.