Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Takut untuk melihatnya


Windi dibuat begitu tertegun mendengarkan perkataan suaminya. Ia menatap sebuah tespek yang kini di keluarkan suaminya dari kantong plastik. Suamianya itu bahkan membawakannya tiga tespek baru untuk ia gunakan.


"Pergunakanlah. Aku harap kali ini hasilnya berbeda." Pinta Marvel lalu menyerahkan tespek ke tangan Windi yang bebas.


Windi memindahkan kotak yang dipegangnya ke tangan kirinya lalu mengambil tespek dari tangan Marvel. "Bagaimana kalau aku mencobanya untuk bulan besok saja? Aku tidak ingin kecewa di hari ulang tahun pernikahan kita." Ucap Windi pelan.


"Bukankah kita sudah terbiasa kecewa dengan apa yang kita harapkan? Lalu kenapa sekarang kita harus merasa takut untuk kembali kecewa?" Tanya Marvel.


Windi tertunduk dengan sedih. Jujur saja ia sudah tidak ingin lagi mencoba tespek karena hanya akan membuat hatinya semakin bersedih.


Marvel pun meraih sebelah tangan Windi yang memegang tespek dan menggenggamnya. "Apa pun hasilnya aku tetap mencintaimu." Tuturnya lembut.


Kepala Windi perlahan terangkat. Senyuman manis nampak terbit di wajah cantiknya mendengarkan perkataan Marvel yang terdengar lembut dan manis di telingannya.


"Bagaimana kau bisa tahu jika kotak ini berisikan kumpulan tespek yang aku simpan selama ini?" Tanya Windi karena selama ini ia tidak melihat gerak-gerik mencurigakan dari Marvel.


"Tidak penting bagaimana aku mengetahuinya, yang jelas saat ini jangan pernah berniat membuang kotak itu karena kotak itu adalah saksi perjuangan kita selama ini." Ucap Marvel:


Windi mengangguk mengiyakannya. Setelahnya ia kembali meletakkan kotak itu di dalam lemari pakaiannya.


"Sekarang ayo coba tespeknya." Pinta Marvel.


"Ta-tapi..." Windi masih meragu.


"Sayang, apa kau lupa jika kita selalu melakukannya hampir satu bulan belakangan ini? Bukankah seharusnya satu minggu yang lalu adalah jadwalmu datang bulan?" Tanya Marvel.


Windi dibuat tertegun. Ia menatap kalender yang terpajang di dalam kamarnya dan baru menyadari perkataan Marvel benar adanya.


"Sayang, ayo coba. Mungkin saja malaikat kecil kita sudah tumbuh di dalam sini." Tutur Marvel sambil mengelus perut datar Windi.


Ada perasaan hangat yang kini Windi rasakan menjalar dalam tubuhnya setelah mendapatkan usapan lembut tangan Marvel pada perutnya. Karena tidak ingin membuat suaminya itu kecewa karenan dirinya, akhirnya Windi pun memutuskan untuk mencoba ketiga tespek yang dibawa oleh suaminya itu.


*


Di depan kamar mandi yang masih tertutup rapat Marvel terlihat berjalan mondar-mandir menunggu Windi keluar dari dalam kamar mandi. Padahal baru lima menit istrinya berada di dalam kamar mandi. Namun entah mengapa ia merasa sudah hampir satu jam menunggu istrinya itu.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang terdengar terbuka mengalihkan perhatian Marvel ke sumber suara.


"Sayang, bagaimana?" Tanya Marvel cepat.


"Aku belum melihat hasilnya. Aku sangat takut, Mas. Di dalam kamar mandi aku hanya memicingkan mata." Jawab Windi dengan polosnya.


"Astaga... lalu bagaimana kita bisa tahu hasilnya jika kau tidak melihatnya?" Marvel menepuk jidatnya.


"Emh, bagaimana untuk kali ini kau saja yang melihatnya. Apa pun hasilnya aku berjanji tidak akan bersedih." Pinta Windi.


Marvel menghela nafasnya lalu mengangguk sebagai jawaban. Setelahnya ia meminta Windi untuk minggir karena ia ingin masuk ke dalam kamar mandi untuk melihat hasil tespeknya.


"Mas..." Windi sedikit berteriak dari luar kamar mandi karena sudah cukup lama Marvel berada di dalam kamar mandi namun tak kunjung keluar dan menyebutkan hasil tespek yang ia coba.


***