Terjebak Cinta Tuan Marvel

Terjebak Cinta Tuan Marvel
Extra part (Ada yang aneh)


"Baiklah, kalau begitu aku mandi dulu." Ucap Marvel dan diangguki Windi sebagai jawaban.


Setelah Marvel masuk ke dalam kamar mandi, Windi pun bergegas memasang pakaiannya yang telah disiapkan oleh Marvel. "Dia baik sekali." Puji Windi untuk suaminya.


Satu jam berlalu, kini Windi dan Marvel sudah berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit. Selama berada dalam perjalanan, Marvel tak henti memberikan nasihat pada istrinya agar bisa mengontrol hati dan pemikirannya saat berada di rumah sakit nanti. Marvel tak ingin karena Windi terlalu memikirkan Jasmin membuat kandungan Windi menjadi bermasalah. Tentu saja permintaan Marvel langsung dituruti oleh Windi yang memang sudah mempersiapkan hati dan pemikirannya saat melihat Jasmin nanti.


Lima belas menit berlalu, Marvel dan Windi sudah berada di lorong menuju ruangan perawatan Jasmin.


"Jhoni, bagaimana?" Tanya Marvel.


Jhoni tak langsung menjawab. Ia menatap Marvel dan Windi secara bergantian. "Saya harap Nona Windi tidak terkejut melihat keadaan Nona Jasmin nanti." Ucap Jhoni pada Windi.


"Apa Jasmin baik-baik saja?" Windi mulai merasakan ada yang tidak beres dari ucapan Jhoni.


"Saya tidak dapat mengatakannya, Nona." Ucap Jhoni.


Windi menghela nafas panjang. "Kalau begitu saya masuk dulu." Pamit Windi dan diangguki Marvel dan Jhoni sebagai jawaban.


Dengan langkah ragu Windi melangkah masuk ke dalam ruangan perawatan Jasmin. Dilihatnya ke arah ranjang dimana Jasmin kini terlihat sedang memejamkan kedua kelopak matanya.


"Jasmin..." panggil Windi lembut.


Perlahan kedua kelopak mata Jasmin pun terbuka. "Windi, kau sudah datang?" Tanya Jasmin dengan lemah.


"Emh, ya." Jawab Windi lalu mendekati ranjang Jasmin.


"Windi, tolong panggilkan perawat." Pinta Jasmin setelah Windi berada di sampingnya.


"Untuk apa?" Windi nampak bingung.


"Panggilkan saja nanti kau akan tahu jawabannya." Ucap Jasmin.


"Jasmin?"


"Ya. Aku akan naik kursi roda karena aku ingin kau mengajakku berjalan-jalan di taman sekitar rumah sakit." Ucap Jasmin.


Windi menatap pada perawat dengan wajah bingung. Setelah mendapatkan anggukan kepala dari dua orang perawat akhirnya Windi pun mengiyakan perkataan Jasmin.


Dengan hati-hati dua orang perawat pun membantu Jasmin untuk duduk di kursi roda. Setelahnya mereka pun mendorong kursi roda dan membawanya keluar dari dalam ruangan diikuti Windi di belakangnya.


"Dokter?" Saat berada di luar ruangan Windi dibuat terkejut melihat dokter yang menangani Jasmin tengah berbincang dengan Marvel dan Jhoni.


"Ayo." Ajak Dokter yang diangguki oleh perawat.


"Mas..." Windi ingin meminta penjelasan pada Marvel namun Marvel menggeleng tanda tak ingin menjelaskan apa-apa pada Windi.


Windi hanya bisa menghela nafas lalu mengikuti dokter dan perawat menuju pintu lift.


Beberapa saat kemudian, kini Windi sudah mengambil alih kursi roda untuk mendorong Jasmin.


"Kita duduk di sini saja, ya." Ucap Windi saat mereka telah berada di sebuah kursi yang berada di tengah taman.


Jasmin mengangguk saja. Baru saja Windi mendaratkan bokongnya di atas kursi, Windi sudah dikejutkan dengan suara Arthur memanggil nama Mommynya.


"Mommy..." ucap Arthur saat sudah berada di depan Jasmin. Tanpa aba-aba Arthur pun langsung menjatuhkan kepalanya di paha Jasmin.


"Mommy, berjanjilah untuk sehat." Ucap Arthur dengan lirih layaknya orang dewasa.


***