
"Istrimu? Memangnya ada apa dengan Windi?" Tanya Dio bingung.
"Kau tahu bukan apa keinginan terbesar kedua orang tuaku saat ini?" Tanya Marvel dan Dio pun mengangguk mengiyakannya.
"Seorang anak dari rahim Windi." Ucap Dio.
Marvel mengangguk membenarkan. "Sampai saat ini aku masih gagal untuk membuat Windi hamil. Aku tidak tahu siapa yang bermasalah di sini. Dan aku tidak ingin menyalahkan siapa-siapa."
"Lalu jika sudah seperti itu kenapa kau masih bimbang seperti ini?" Tanya Dio heran.
"Kedua orang tuaku selalu menayakan hal yang sama di setiap bulannya. Aku mungkin bisa saja menjawab pertanyaan kedua orang tuaku dengan santai. Namun tidak dengan Windi. Dia merasa sedih dan bingung setiap pertanyaan itu keluar dari mulut kedua orang tuaku." Marvel menghembuskan nafas kasar di udara menggambarkan kegelisahannya saat ini.
"Kenapa kau tidak melarang Om dan Tante jangan mempertanyakannya lagi pada Windi?" Tanya Dio bingung.
"Aku sudah pernah mengatakannya tapi Mama seperti sering melupakannya." Marvel menggeleng saat mengingat Mama Belinda yang sering keceplosan mempertanyakan keberadaan seorang anak pada Windi.
Percakapan Marvel dan Dio pun terus berlanjut hingga tanpa sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Begitulah mereka, selalu lupa waktu jika telah bersama dan saling bercerita.
"Aku pulang dulu. Besok aku akan mengunjungi rumah Daniel karena aku sudah merindukan Princessku." Ucap Marvel sambil bangkit dari duduknya.
"Kau ingin ke rumah Daniel dan tidak ingin mengajakku?" Sindir Dio.
"Oh ayolah... tentu saja aku mengajak istriku dan bukan dirimu. Jika kau ingin ikut tak masalah. Kau bisa pergi sendiri ke rumah Daniel." Balas Dio.
Wajah Dio berubah masam. Untuk saat ini ia merasa sangat menyedihkan karena harus pergi sendiri di saat semua sahabatnya sudah pergi bersama pasangan mereka masing-masing.
Marvel pun pergi begitu saja tanpa memperdulikan wajah masam Dio. "Menikahlah agar kau tak merasa sendiri." Ucap Marvel sebelum hilang dari balik pintu apartemen Dio.
"Sialan kau!" Umpat Dio merasa sangat tersindir.
*
Marvel terus melangkah memasuki rumahnya. Pandangannya tertuju pada kamar tamu dimana Arthur tidur. "Apa Windi tidur di sana?" Gumamnya bertanya.
Marvel berniat melangkah ke kamar tamu. Namun niat itu ia urungkan karena sadar penampilannya saat ini sedang acak-acakan dan bau rokok yang menempel pada tubuhnya akan membuat Windi tidak nyaman jika menciumnya.
Marvel memilih membersihkan tubuhnya lebih dulu di dalam kamarnya setelahnya baru menghampiri Windi yang sedang berada di kamar tamu bersama Arthur.
Ceklek
Saat baru saja membuka pintu kamar tamu Marvel terkejut melihat Windi tengah duduk di atas sofa sambil menatap ke arahnya. Pun dengan Windi yang merasa terkejut melihat suaminya yang sejak tadi ia tunggu sudah pulang ke rumahnya.
"Mas..." lirih Windi lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah Marvel lalu tanpa takut memeluk erat tubuh Marvel.
"Kau dari mana saja." Ucapnya dengan parau menahan rasa ingin menangisnya saat ini.
"Maaf, aku ada urusan mendadak di luar." Jawab Marvel berbohong.
"Apa kau marah hingga meninggalkanku begitu saja?" Tanya Windi dengan wajah sendu.
***
Lanjut? Jangan lupa berikan vote, like, point, rate bintang 5 ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ dan komennya dulu, ya.
Sambil menunggu Marvel dan Windi update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Kita Harus Menikah!, ya🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.