
Keputusan Windi mengangkat Arthur menjadi anaknya dan Marvel disambut baik oleh Ayah Amri, Mama Belimda dan Papa Bagas yang memang sudah menganggap Arthur sebagai cucu mereka sendiri. Kehadiran Arthur di rumah Marvel pun menjadi penambah kebahagiaan Windi dan Marvel yang beberapa bulan lagi akan dikaruniai anak.
"Arthur, mulai saat ini Arthur harus menganggap Nenek dan Kakek sebagai Nenek dan Kakek Arthur sendiri, oke?" Pinta Mama Belinda pada Arthur.
Arthur mengangguk. "Baik, Nenek." Jawab Arthur dengan wajah polosnya.
Mama Belinda tersenyum mendengarnya. Ia pun membawa Arthur duduk di pangkuannya. Windi dan Marvel yang melihat keakraban Arthur dan Mama Belinda pun merasa senang melihatnya.
"Sayang, apa kau sudah bahagia saat ini?" Tanya Marvel sambil mengusap rambut Windi.
"Seperti yang kau pikirkan, Mas." Jawab Windi seraya tersenyum.
Marvel turut tersenyum melihatnya. Di dalam hatinya Marvel tak henti mengucap rasa syukur karena Tuhan telah memberikan wanita sebaik Windi untuk menjadi pendamping hidupnya.
Satu jam kemudian, Mama Belinda dan Papa Bagas yang sudah cukup lama berada di kediaman Marvel dan Windi pun berpamitan untuk pulang. Windi dan Marvel pun mengantarkan Mama Belinda dan Papa Bagas sampai ke depan rumah mereka. Setelahnya mereka kembali ke dalam menghampiri Arthur dan Ayah Amri.
"Arthur, sudah saatnya mandi sore. Ayo ikut Ibu ke kamar." Ajak Windi pada Arthur.
"Baik, Ibu." Jawab Arthur patuh lalu turun dari atas sofa.
"Ayo." Windi meraih tangan mungil Arthur dan menggenggamnya. Setelahnya Windi membawa Arthur menuju anak tangga untuk naik ke kamar Arthur yang berada di lantai dua. Ya, setelah mengangkat Arthur menjadi anak mereka Windi memang meminta pada Marvel untuk memindahkan kamar Arthur ke lantai dua agar ia mudah mengawasi Arthur saat malam tiba.
Ayah Amri mengangguk mengiyakannya. "Sama-sama. Terima kasih juga karena kau telah menyayangi putri ayah setulus hatimu." Ucap Ayah Amri dan diangguki Marvel sebagai jawaban.
Setelah sampai di lantai atas, Windi pun menuntun Arthur masuk ke dalam kamarnya. "Arthur, jika Arthur takut tidur sendiri di kamar ini Arthur bisa meminta Ibu menemani Arthur tidur di sini." Ucap Windi lembut sambil membantu membuka baju Arthur.
"Iya, Ibu." Jawab Arthur.
Windi tersenyum mendengarnya. Sudah lebih satu bulan Arthur tinggal kembali bersama mereka dan sampai saat ini Arthur tidak pernah mengeluh jika ia takut tidur sendiri. Anak laki-laki itu terlihat berani dan dewasa dari umurnya saat ini.
"Ibu... apa Mommy sedang melihat Arthur dari langit saat ini?" Tanya Arthur dengan wajah polosnya sambil menatap langit yang terlihat dari kaca jendela kamarnya.
Windi turut menatap keluar jendela. "Benar... saat ini Mommy sedang melihat Arthur dari atas langit sana. Saat ini Mommy pasti sedang tersenyum karena bangga memiliki anak seperti Arthur." Tutur Windi lembut.
"Ibu... bisakah Ibu menyampaikan pada Mommy jika Arthur rindu padanya?" Pinta Arthur.
Windi terdiam beberapa saat. "Jika Arthur rindu, Arthur bisa berdoa untuk menyampaikan rasa rindu itu pada Mommy." Jawab Windi.
Arthur seketika mengangkat kedua tangannya. "Tuhan... sampaikan pada Mommy jika Arthur rindu Mommya. Sampaikan pada Mommy jika Arthur akan mewujudkan keinginannya menjadi anak yang baik." Ucap Arthur dengan nada cadelnya.
***