
"Tapi, Mas, ini sudah lebih enam bulan kita menikah namun kita belum juga diberi keturunan." Windi menunduk sedih.
"Sayang..." Marvel meraih jemari Windi dan menggenggamnya. "Di luar sana bahkan banyak orang yang baru memiliki anak di usia pernikahan mereka sudah melebihi lima sampai tujuh tahun. Kita belum satu tahun menikah, masih banyak waktu yang bisa kita gunakan untuk menantinya. Percayalah, jika kehadiran anak adalah takdir kita maka kita akan memilikinya." Tutur Marvel.
Windi terdiam membisu. Sungguh saat ini hatinya merasa sedih karena apa yang diharapkannya tak kunjung terwujud. Memiliki seorang anak adalah harapan terbesar mertua dan suaminya. Namun sebagai istri dan menantu ia belum bisa memberikannya.
Marvel hanya bisa menghela nafas melihat Windi yang terus bersedih. Karena tidak ingin Windi terus-terusan seperti saat ini, Marvel pun memilih menuruti keinginan Windi untuk memeriksakan kesehatan mereka esok hari di rumah sakit.
"Aku harap apa pun hasilnya besok tidak akan membuatmu berpemikiran yang macam-macam." Ucap Marvel setelah menyetujui keinginan istrinya.
Windi mengangguk mengiyakannya. Senyuman di wajahnya pun mulai terkembang karena Marvel mau menuruti keinginannya walau saat ini hatinya harap-harap cemas akan hasil pemeriksaan mereka esok hari.
*
Keesokan harinya, di saat jam makan siang tiba, Marvel telah bersiap di perusahaannya untuk pergi menyusul Windi yang sudah berada di rumah sakit mengantri jadwal pemeriksaan mereka tiba. Sebelum pergi meninggalkan perusahaan, Marvel menyempatkan lebih dulu menghampiri Jhoni untuk menyampaikan jika ia akan pergi ke rumah sakit dan mungkin tidak akan kembali ke perusahaan. Marvel pun turut menitipkan pesan agar Jhoni membantu memeriksa berkas yang baru saja diberikan sekretarisnya di atas meja kerjanya. Setelah siap berbicara dengan Jhoni, Marvel pun segera meninggalkan ruangan kerja Jhoni.
"Pasti Windi sudah sangat menunggu kedatanganku di sana." Gumam Marvel sambil melangkah keluar dari dalam perusahaannya. Sesekali ia melihat ponselnya untuk memastikan apakah Windi menghubunginya atau tidak.
Setengah jam berlalu, kini Marvel sudah berada di rumah sakit dan menghampiri Windi yang sedang menunggu antrian di kursi tunggu.
"Sudah antrian ke berapa?" Tanya Marvel setelah mendudukkan bokongnya di atas kursi yang bersebelahan dengan Windi.
"Oh... sebentar lagi nomer antrian kita." Jawab Marvel yang diangguki oleh Windi.
Lima belas menita berlalu, Windi dan Marvel sudah dipanggil masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan. Selama pemeriksaan berlangsung, baik Windi maupun Marvel terlihat harap-harap cemas menanti penjelasan dari dokter tentang kesehatan mereka saat ini.
"Bagaimana Dokter hasilnya?" Tanya Windi setelah mereka duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter.
"Dari hasil pemeriksaan semuanya terlihat baik-baik saja. Kondisi rahim Nona Windi sehat dan siapa dibuahi begitu pun organ yang lainnya. Dan untuk Tuan Marvel sendiri semuanya juga sehat." Jawabnya.
"Jika semuanya baik-baik saja kenapa sampai saat ini saya belum hamil juga Dokter?" Tanya Windi merasa bingung.
"Banyak faktor yang membuat wanita sulit hamil selain karena kesuburannya, Nona." Jawab Dokter.
"Maksud Dokter?" Windi gagal mencerna apa yang dimaksud oleh Dokter.
"Salah satu penyebab wanita sulit hamil bisa dikarenakan aktivitas yang terlalu berlebihan, memakan makanan yang tidak sehat dan terlalu banyak pikiran." Jawab Dokter yang berhasil membuat Windi tertegun.
***