
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Waduh!!!" seru semua yang ada di ruangan tersebut termasuk Fans garis keras Tutut Markentut.
Penjaga pria itu tentu bukan lagi Pawangnya, tapi CUCU Laki-laki nya yang sangat posesif. Tak ada yang bisa dekat dengan Phii Samudera selagi ada Lintang. Tapi...
"Ngomong apa El tadi?" tanya Mhiu Biru.
"Pengen tidur sama Phiu, Onty," jawab XyRa sambil mengelus tengkuknya.
"Jangan harap!" balas Amih sambil terkekeh.
Seperti sekarang saja, Lintang satu satunya yang tak ada. Ia lebih memilih bersama dengan Phiunya di banding dengan yang lain. Kadang sering terbersit pikiran dalam mereka bagaimana nasib Lintang jika Sang Tuan besar Rahardian tak ada. Akan sesedih apa anak itu nantinya.
"El, bobo sama Amih aja ya," rayu XyRa lagi, jika anak itu tetap kekeuh ingin bersama Phiu rasanya ia tak akan jadi pergi dengan sang suami.
XyRa hanya tak ingin ada kegaduhan di rumah utama, padahal jika ia tahu hal itu justru sudah terjadi saat El terus menerus menggoda Lintang. Semakin besar, semakin jiwa jahilnya pun keluar kadang justru mirip dengan Amih dan Apihnya sebab kedua orangtuanya cukup pendiam tak banyak tingkah hanya saja banyak gaya saat di atas ranjang.
Iyaaaaaa Miiiiih....
Jawaban dari El barusan membuat lega mamihnya tapi tidak dengan yang lain, seolah sudah ada firasat hal yang sama akan terjadi di bangunan mewah tersebut.
Perasaan tenang untuk meninggalkan itu pun membuat XyRa memilih untuk pamit. Ia akan membereskan semua keperluan ia dan Axel selama di luar kota dengan menjanjikan akan mampir sebentar sebelum ke bandara esok pagi.
.
.
.
Tak ada yang berbeda bagi para penghuni rumah utama. Usai makan malam mereka akan berkumpul di ruang tengah hingga satu persatu pamit untuk istirahat. Kini bangun mewah yang tak berubah itupun kian ramai jika kebetulan ada yang menginap padahal tiga krucil hasil keringat buaya dan kadal saja sudah menggemparkan seisi rumah.
"Capa yang mahu bobo sama Phiu?" tanya Lintang yang tak sengaja mendengar cerita Amih pada yang lain.
"El," sahut Angkasa dan Fajar.
Bocah paling kecil yang namanya di sebut itu pun menoleh kearah ke tiga kakak sepupunya.
"Ini Phiu Lilin, nda boleh ada yang bobo sama Phiu," tegasnya sambil naik keatas pangkuan Sang Tuan besar. Tak ada yang berani menimpali jika jiwa posesif anak itu sedang meronta ronta.
Itut-itut Bobo...
"Enggak!"
"Bobo barengan, gak apa-apa, Lin," sahut Phiu Samudera yang selalu saja terkekeh gemas jika jadi bahan rebutan.. Jika dulu para neneknya dan kini para cucunya yang ikut menempel.
"Nda, ih. Phiu punya Lilin," rengek nya lagi yang langsung berderai air mata.
Ama-ama Yiyin...
Lintang yang tak suka langsung menoleh dan merengut kesal pada adik sepupunya itu.
"Kalau sama-sama, Phiu peluknya susah kan?" tanya Lintang dengan derai air mata sedihnya.
"Kan bisa sebelah sebelahan, Lilin kanan dan El di kiri, adil kan?" jawab Phiu sambil mengusap air mata di wajah cucu kesayangannya tersebut.
...Holeeeeeee, nanan nanan yaaaa...
El yang mendengar itupun langsung bertepuk tangan senang, pesona Tutut Markentut memang sangat luar biasa para bocah saja bisa jatuh cinta padanya.
"Yang kanan tuh Lilin, El yang kili," jawab Lintang masih dengan nada jengkelnya.
.
.
.
Mua-mua aja yaaaaa