Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 75


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Duh, sakit ya, Mas." keluh XyRa usai makan malam bersama di luar.


Hari ini Sean cukup rewel karna ia ingin membeli kado untuk satu temannya yang kebetulan ulang tahun, tapi nyatanya bukan hanya kado yang di beli tapi apapun yang di ingin kan masuk kedalam keranjang belanjaan sebuah toko mainan yang cukup besar di kota tersebut.


"Aku ambilkan obat ya, Sayang."


"Gak perlu, aku gak mau kebanyakan minum obat," tolak XyRa sambil menggelengkan kepala.


Di usia kandungan yang cukup lumayan besar, XyRa tak mau bergantung pada obat, jika bisa di alihkan dengan yang lain tentu ia lebih memilih yang lainnya. Misalkan minyak angin atau air putih lalu istirahat yang cukup.


"Aku pijitin aja ya," tawar Pria tampan tersebut yang di jawab anggukan kepala.


Kadang, itulah yang di sukai dari Axel yang tak perlu di minta namun mampu memberikan apa yang di butuhkan. Jadi XyRa tak perlu banyak memberi kode apapun pada suaminya jika sedang menginginkan sesuatu.


"Sudah, Mas. Aku enakan sekarang."


"Gak apa-apa, kamu tidur aja. Biar besok jauh lebih baik, Ok."


XyRa pun langsung membenarkan posisi baringnya, pijitan di bagian pinggang, punggung hingga kaki memang Sangat di butuhkan oleh Si ibu hamil saat ini.


Hingga, perlahan ia pun terlelap dan terbuai mimpi masuk kedalam dekapan Sang suami.


"Dulu aku pernah berjanji tak ingin menikah lagi, hanya ingin membesarkan Sean karna kurasa aku bisa melakukannya seorang diri. Tapi, saat Tuhan mengirim mu untukku, aku lupa janji itu, bahkan malu sendiri jika mengingatnya. Terima kasih atas semua usahamu mau bersamaku ya, Sayang."


.


.


.


Paginya, Sean yang sudah tak di antar selama dua minggu ini tak mau melepas pelukannya.


Ia masih saja merengek meminta XyRa menjemput siang nanti.


"Iya, nanti papih yang jemput ya, Bang."


Tak seperti biasa, anak itu begitu rewel hari ini


sampai harus membuat XyRa serba salah.


"Abang kenapa? kalau gak mau sekolah gak apa-apa tapi jangan merajuk, Sayang."


"Kalau Abang gak sekolah nanti kasih kadonya gimana, Mamih?" tanya nya bingung, meski sulit memeluk karna perut yang kian besar tapi Sean tetap melakukannya. Wajah tampan itu mendongak dengan mata berkaca-kaca.


"Nanti malam kita kerumah temanmu itu bersama Papih, gimana?" tawar XyRa saat ia tak punya pilihan lain


Sean lekas masuk kembali lagu kedalam rumah untuk mengganti pakaian. Tak lupa XyRa juga menghubungi suaminya untuk mengatakan jika hari ini Sean tak masuk sekolah.


Entah ada apa dengan anak itu, yang jelas ini sangat jarang bahkan tak pernah terjadi. Anak itu tahu dan paham kapan ia sekolah, les dan libur.


"Nanti malam habis makan sananya?" tanya Sean.


"Hem, Mamih hubungin temanmu dulu ya, takutnya dia tak ada dirumah," jawab XyRa, tak semua sesama wali murid dekat dengannya mengingat kadang ia cukup mengantar dan tak turun dari mobil.


"Namana Astrid ya, Mih."


"Iya, Bang. Mamih masih ingat kok sama ceritanya Abang semalam," sahutnya sambil mencubit pipi Sean yang kemerahan.


"Sakit, Mamih."


"Haha, Maaf ya, Ganteng." balas XyRa yang langsung memeluk anak sambungnya namun Sean malah mendekatkan wajahnya ke perut XyRa sambil sedikit berbisik.


.


.


.


De' Mamih cubit Abang, jangan temenin yuk.