Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 53


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Anak manapun pasti akan senang dengan kedatangan orangtuanya meski hanya dengan hitungan jam, begitupun dengan yang di rasakan XyRa kemarin karna nyatanya pagi ini Amih dan Apih serta Sang kakak kembar sudah kembali ke ibu kota meninggalkan Si bungsu yang sedang hamil muda.


"Mas, kontrol mbak Maya katanya sore ini. Tadi suster udah bilang sama aku," ucap XyRa yang hanya di jawab anggukan kepala.


"Kok diem aja?" tanya wanita itu langsung kesal karna merasa di abaikan.


"Lalu? kan uda ada suster yang nanti nemenin, ada supir juga yang antar ke rumah sakit, tagihan langsung ke aku, terus mau apa lagi?"


XyRa pun langsung tersenyum simpul, memang benar yang di katakan suaminya, semua sudah ada yang handle dengan baik, pria itu tak perlu pusing dengan urusan mantan istrinya.


"Aku maunya kamu langsung jawab seperti tadi, buka cuma angguk angguk aja, Mas."


"Apa yang angguk angguk?" Axel menggoda dengan senyum yang XyRa tahu itu menuju kemana, belum lagi matanya yang lain seperti biasanya.


"Au ah," Kata XyRa sambil bergidik ngeri tapi membuat Axel tertawa sambil menarik wanita itu masuk kedalam pelukannya.


"Nyari ketupat sayur yuk, Sayang."


"Udah tutup, Mas. Ini tuh jam berapa?" sahut XyRa sambil menunjukan jam di pergelangan tangan suaminya.


"Kan aku bilang cari, Mih. Ya berarti gak ada, gimana sih," kekehnya lagi saat menjawab.


XyRa pun setuju sebab ia juga merasa lapar padahal seporsi nasi kuning dengan toping lengkap sudah masuk masuk kedalam perutnya saat sarapan.


Mereka pergi sambil menjemput Sean di sekolah, Axel memang sengaja tak ke kantor karena ia ingin menghabiskan waktunya satu hari penuh dengan sang istri yang kemarin sibuk bersama dengan Amih.


.


.


Sepeninggal XyRa yang pergi bersama dengan Axel, kini saatnya Maya kontrol ke rumah sakit bersama dengan perawatnya selama ini, ia bukan hanya mengurus tapi juga menjadi teman satu-satunya bagi Maya untuk mendengarkan semua keluh kesahnya. Suster yang sebenarnya harus melupakan semua yang ia lihat dan dengar di rumah mewah ini nyatanya harus menjadi sandaran Maya.


Wanita itu terpaksa melakukannya sebab ternyata XyRa tetap menjaga jarak dan sikap terhadapnya. Ada pembatas di antara mereka yang hanya terhubung jika hanya tentang Sean saja.


XyRa memang memperlakukan Maya sesuai porsinya, menjadi korban kecelakaan yang harus ia tanggung jawabi hingga sembuh dan ibu dari anakn sambungnya. Tak pernah ada obrolan santai ketika bertemu karna Maya tak lebih dari seorang tamu.


Dan tamu memang seharusnya cukup menikmati apa yang sudah di persiapkan dan di suguhkan, tak perlu bersikap seenaknya apa lagi meminta sesuatu yang bukan di peruntukan untuknya.


"Bu, sudah sampai," ucap Suster yang membuyarkan lamunan Maya yang memang selama di perjalanan terus menatap jauh ke luar jendela.


"Ah, iya. Ku pikir masih jauh," sahut Maya yang terkekeh sendiri.


"Semoga cepat sembuh ya Bu, agar kita tak sering-sering kemari."


"Aamiin, Sus. Saya akan merasa tak berguna sekali jika terus seperti ini," balas Maya dengan senyum getir di bibirnya.


Perawat pribadi itupun langsung mengantar Maya menuju ruang pemeriksaan, telah ada beberapa team dokter dengan macam macam bagiannya yang kini sudah menunggu karna memang hari ini adalah jadwalnya Maya kembali lagi kerumah sakit untuk melakukan berbagai pemeriksaan.


Maya yang ingin sekali sembuh yang kali ini tentu karna Sean menuruti semua perintah dokter saat kontrol terapi, berbagai rasa sakit ia telan sendiri tanpa ada satu keluhan pun keluar dari bibir Maya.


Waktu berlalu begitu cepat, kini saatnya mereka pulang ke rumah Axel karna tubuh sudah lumayan sedikit lelah. Tapi, ada satu yang mengejutkan Maya yaitu saat ia mendengar namanya di panggil seseorang yang sepertinya ia kenal.


"Kamu??"


"Apa kabar? hem, kamu kenapa?" tanya Rian yang aneh melihat Maya dalam keadaan duduk di kursi roda.


"Aku baik," jawab Maya pelan.


"Tidak, ini tak baik, bisa kita bicara?" pinta Rian yang hampir 5 menit kemudian di iyakan oleh Maya setelah ia berpikir lebih dulu.


Kini Maya dan Rian ada di halaman samping rumah sakit, duduk berdua dengan air mancur kecil di depan mereka, suasana taman memang sangat sepi bahkan sepertinya hanya ada pasangan mantan kekasih itu saja disana.


"Ku dengar Axel menikah dengan gadis dari keluarga konglomerat di ibu kota, bukankah kalian juga menikah?" tanya Rian yang tahu kabar tersebut dari selentingan rekan kerja dan teman lama mereka.


"Hem, benar."


"Bisa kamu ceritakan? aku bingung dengan kalian," mohon Rian semakin di buat penasaran.


"Ceritanya panjang, jadi akan persingkat saja supaya kamu jelas," ujar Maya dan itu malah membuat Rian mendekatkan posisi duduknya.


"Silahkan, aku tak akan memotong ceritamu."


Maya mengangguk, ia menarik napas lalu di buangnya perlahan. Ini tak mudah baginya sebab seolah sedang membuka luka hati yang sudah ia kubur dan ingin ia lupakan.


"Semenjak kejadian malam itu, aku hamil tapi aku tak pernah memberitahu Axel sebab ini semua salahku yang menjebaknya dengan sangat sadis dan kelewat batas hanya karna ingin kamu merasakan apa yang ku rasakan yaitu sakitnya di khianati. Tapi Tuhan berkata lain, aku di pertemukan dengannya dengan keadaan perut yang sudah terlihat besar. Sudah ku katakan, aku tak butuh tanggung jawabnya sebab semua akan ku tanggung sendiri sesuai dengan rasa bersalahku. Dan nyatanya Axel tak mau, ia mencari tahu tentang kehamilanku dengan cara tes DNA, hasilnya pun positif, anak itu memang anak Axel. Kami pun menikah tapi hanya sampai bayi kami belum menginjak satu tahun. Pernikahan itu bagai neraka bagiku sebab aku tak mencintainya meski ia meyakinkan jika rasa itu pasti akan tumbuh dengan seiringnya waktu. Namun Axel salah, aku jatuh cinta pada pria lain dan memutuskan meninggalkan Axel dan anak kami demi pria selingkuhanku. Perpisahan itu membuat aku bebas bagai burung yang baru lepas dari sangkarnya. bertahun-tahun tak bertemu dan beberapa waktu lalu kami di pertemukan lagi dengan status kami yang sama sama berubah, aku yang menjanda lagi dan ia yang sudah menikah lagi," jelas Maya dengan kedua mata sudah berkaca-kaca. Ia sedih bukan karna nasibnya tapi ia sedih sebab mengingat Sean bayi yang ia tinggalkan begitu saja tanpa belas kasih.


"Serumit itu?" tanya Rian yang awal cerita saja ia sudah kaget, apalagi saat Maya mengatakan ia meninggalkan Axel dah seorang bayi tak berdosa.


"Kenapa? kenapa kamu seneket itu, hem?"


"Aku benci padamu, akun yang mencintaimu tak pernah di anggap ada, Rian!" tangis Maya pecah dan langsung di peluk oleh mantan kekasihnya itu.


"Berapa pun wanita yang hadir, bukankah aku tak pernah meninggalkanmu? aku tak pernah mengiyakan keputusanmu untuk kita berpisah kan?"


Maya pun mengangguk, tapi bagaimana pun hatinya ada tetap hancur dan timbulah rasa dendam untuk membalas perlakukan Rian dengan cara memanfaatkan Axel, Si pria baik hati yang tak tahu apa-apa bahkan selalu menjadi tempat keluh kesahnya selama ini.


"Dan terbukti hingga kini, jika tak ada yang mampu menggantikanmu, Maya. Aku merindukanmu," ucap lirih Rian yang tersirat juga nada penuh penyesalan.


"Maksudmu apa?" tanya Maya.


"Aku sungguh terluka saat tahu kalian menikah, tapi aku mulai mencarimu saat aku tahu juga ternyata Axel menikahi Nona muda dengan status Duda anak satu," jelas Rian.


"Tidak, aku tak sebaik dan sesabar dulu, kamu bisa lihat kondisi ku, kan? aku lumpuh dan bergantung dengan kursi roda."


.


.


.


Aku tak perduli, aku akan menikahimu.