
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Usai mengantar Sean sampai di sekolahnya, XyRa tentu langsung pulang seperti biasa. Ia jarang sekali tetap disana jika bukan sedang ada acara.
Di ibu kota saja, ia cukup di segani saat tahu XyRa adalah sang Nona Muda Rahardian, apalagi di kota tempat ia tinggal kini bersama suami dan anaknya. Ada rasa tak nyaman dan canggung saat selalu di perlakukan istimewa padahal posisinya sama, yaitu sebagai wali murid.
"Sudah pulang? ku kira kamu menunggunya di sekolah," tanya Maya saat XyRa menghampiri wanita itu di halaman samping rumah mewahnya.
"Hanya antar jemput saja, Mbak. Pihak sekolah tak mengizinkan, meskipun mau menunggu ya harus jauh dari area sekolah," jawab XyRa yang sudah duduk di samping Maya.
"Hem, baguslah. Semoga Sean semakin mandiri. Terima kasih banyak sudah menyayanginya dengan begitu tulus," ujar Maya penuh haru.
"Sama-sama, Mbak. Sean anak baik, siapapun pasti akan jatuh hati padanya."
"Iya, dan aku dengan bodohnya malah meninggalkan anakku sendiri," ucap lirih Maya. Harusnya hanya Axel yang ia tinggalkan, bukan Sean yang kini sudah sangat nyaman dengan ibu sambungnya.
"Jangan terus di sesali, Mbak. Yang penting kalian sudah bertemu, Sean tahu siapa Mamih kandungnya. Itu jauh lebih baik di banding tak berjumpa sama sekali," balas XyRa menenangkan karna air mata sudah jatuh di pipi wanita itu.
"Dan hebatnya kamu tak keberatan."
"Untuk apa aku keberatan, Mbak. Saat menikah dengan Mas Axel, aku harus menerima Sean dengan tangan terbuka. Aku tak bisa hanya mencintai ayahnya saja karna bagaimana pun posisi anaknya jauh lebih kuat dariku. Begitu pun dengan masa lalunya sebab suamiku Duda Cerai yang artinya akan ada Komunikasi dengan mantan istri demi masa depan putra kalian, aku tahu resiko itu. Yang jelas sekarang kita cukup bersikap sesuai porsi masing-masing," jelas XyRa yang juga mengingatkan.
Ia diam, bukan berarti lemah atau akan terima saat rumah tangganya di usik. Posisinya kini Sah secara agama dan negara jadi yang bisa berlaku seenaknya adalah XyRa bukan Maya. Tapi, tentu ia tak akan bersikap macam-macam juga karna ia tumbuh menjadi pribadi yang menjunjung tinggi adab dan akhlak. Semua yang ia lakukan tentu sudah ia pertimbangkan secara matang termasuk konsekuensinya nanti. Termasuk saat ia meminta Maya tinggal bersama, ia tahu ia sedang di Ratukan dan di cintai, jadi kecil kemungkinan untuk Axel tergoda meski tak ada jaminan pria itu bisa saja mengulang kesalahan yang sama.
.
.
.
Hari beranjak siang, sesuai rencana awal, XyRa akan menjemput Sean lalu menunggu Axel di salah satu restoran cepat saji yang tak jauh dari sekolah anak itu. Ia biarkan Sean mengisi perutnya lebih dulu sebelum akhirnya mereka pergi ke rumah sakit.
Hampir 30 menit berlalu, Axel datang dengan perasaan bersalah karena sudah terlambat dari jam yang sudah mereka tentukan.
"Maaf, aku tak tahu jika ada sedikit masalah di kantor," ucapnya saat datang dan duduk di sisi Sang istri yang langsung tersenyum simpul.
"Tak apa, Sean juga masih makan kok," jawab XyRa tak keberatan.
Sudah sejak awal ia tahu betapa sibuknya pria itu yang bekerja di salah satu perusahaan paling besar di kota tanpat mereka tinggal saat ini, XyRa tak akan memaksa dan tak malu walau Axel hanya seorang General Manager, padahal jika XyRa mau jabatannya di kantor adalah Direktur Utama, hanya saja para wanita tak terlalu di paksa bekerja di Rahardian Group.
"Kamu gak makan?"
"Nanti saja, aku pengen soto mie depan rumah sakit, Mas," jawab XyRa, ia yang ingin tapi perut suaminya yang berbunyi.
"Udah, Mih," ujar Sean sambil menggeser piring kosongnya.
"Cuci tanganmu dulu ya."
"Iya," jawabnya sambil bangun dan bergegas ke arah Wastafel.
Setelah semua selesai ketiganya langsung pergi ke parkiran menuju mobil mewah Axel. Kini, kendaraan itu sudah siap untuk mengantar mereka ke tempat tujuan yaitu Rumah sakit.
Sean yang memilih duduk di belakang serasa aneh bagi XyRa dan Axel yang biasanya terus menempel dan hanya ingin duduk di pangkuan ibu sambungnya saja.
"Entah, kita lihat nanti selesai jam berapa ya," jawab Axel yang belum bisa memastikan.
"Harusnya biar aku saja yang kerumah sakit kalau kamu sibuk, atau nanti biar supir yang mengantarku pulang dan kamu bisa langsung ke kantor."
"Aku tak akan membiarkanmu pulang sendiri, Sayang. Kamu tahu itu kan?" balas Axel sambil menoleh kearah sang istri yang kini tengah tersenyum padanya.
Sepanjang jalan yang di isi dengan obrolan membuat mereka tak terasa kini sudah sampai di tujuan, Setelah mobil berhenti di parkiran rumah sakit, mereka pun segera keluar bersama. Seperti biasa, Sean akan di tuntun tangannya di kiri dan kanan oleh Mamih serta Papih.
Keduanya langsung diantar ke ruang dokter bagian kandungan oleh salah satu perawat karna memang sudah membuat janji lebih dulu, lagi pula Dokter manapun akan segera mendahulukan jika tahu pasiennya adalah dari keluarga konglomerat sekelas Rahardian Wijaya.
Axel yang tak punya nama resmi keluarga tentu membuat XyRa akan tetap memakai nama besar Sang Gajah.
"Mari silahkan masuk," ucap Si perawat setelah membuka kan pintu.
"Terimakasih," jawab Axel dan XyRa berbarengan.
Keduanya duduk berhadapan dengan Dokter wanita setelah berjabat tangan, sedangkan Sean menunggu di salah satu Sofa tunggu yang ada juga di ruangan tersebut.
Pemeriksaan awal tentu sama seperti biasa, mulai dari cek tensi darah hingga berat badan. Semua di catat secara detail sambil dokter terus menanyakan banyak hal lainnya termasuk siklus datang bulan.
"MensTruAasi ku tidak lancar, Dok. Sudah dari gadis seperti itu, aku tak punya tanggal pasti karna kadang bisa tak datang bulan sebulan atau malah dua kali berhalangan," jelas XyRa yang baru di ketahui oleh Axel juga sebagai suami.
Pantas saja, tak ada hari libur khusus baginya di tiap bulan dalam waktu tanggal sekian hingga sekian. Ia hanya mengiyakan saja jika XyRa mengatakan sedang berhalangan.
"Ya sudah, untuk hasil lebih akuratnya kita langsung periksa saja dulu ya," ucap Dokter sambil meminta perawatnya yang berada di dekat Sean untuk menyiapkan alat USG.
XyRa dan Axel mengangguk bersama, ini adalah kali pertamanya untuk wanita itu melakukan pemeriksaan, sedangkan bagi Axel ia masih ingat beberapa kali mengantar Maya untuk memeriksakan kandungannya jadi apa yang ia lihat tentu tak asing.
"Apa bulan ini benar-benar belum datang bulan?" tanya dokter saat sebuah alat sudah menempel di perut mulus Sang Nona muda.
"Hem, iya sepertinya begitu," jawab XyRa sambil meringis sebab ada rasa geli dan dingin yang ia rasakan. Ia juga nampak khawatir karna takut ada tanda cinta berwarna merah yang di buat suaminya. Pria itu kadang membuatnya di manapun yang ia inginkan.
"Ada mual dan muntah saat pagi hari? atau merasakan pusing?" tanya dokter lagi dengan mata fokus pada layar di depannya
"Hem, iya. Beberapa hari terakhir ini, Dok."
Dokter yang sadari tadi tersenyum menyudahi pemeriksaannya, ia bangun dan kembali ke kursi kerjanya begitu pun dengan XyRa setelah di bersihkan dari cairan gel oleh Tissue.
"Bagaimana, Dok. Apa kami sudah bisa melakukan program hamil?" tanya Axel yang begitu antusias.
Meski ada Sean, bukan berarti ia tak ingin punya anak lagi, ia harap adanya buah hati dari XyRa membuat hubungan mereka semakin harmonis.
.
.
.
.
Tak perlu, Tuan. Istri anda justru sedang mengandung saat ini. Selamat ya...