
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Banyak sekali yang di pertimbangkan oleh Maya usai Rian melamarnya secara resmi di depan XyRa dan Axel, namun tidak di depan Sean.
Mereka takut anak itu akan semakin di buat bingung dengan hadirnya orang asing lagi dalam hidupnya. Karena, datangnya Maya saja sebenarnya belum sepenuhnya Sean terima. Terlihat dari sikapnya yang belum nyaman jika bersama kecuali dalam keadaan terpaksa. Jadi jika bisa memilih tentu anak itu hanya ingin bersama ibu sambungnya saja seperti biasa.
Tapi, karna Rian terus memaksa Maya menjawab dengan cepat, jadilah wanita itu akan bertemu dengan Sang mantan kekasih nya malam nanti di salah satu resto dengan Maya di temani oleh Perawat pribadinya.
"Hati-hati ya, kabari kami jika Rian macam macam padamu," pesan Axel saat mengantar Maya sampai garasi mobil.
"Tentu, terima kasih banyak untuk semuanya ya," ucap Maya dengan senyum simpul. Aura wajahnya akhir akhir ini jauh sangat berbeda dan yang paham pasti peka dengan hal tersebut.
"Semoga ini awal kebahagiaan kalian ya," ujar XyRa yang ikut senang melihat ibu kandung putra kesayangannya sekarang.
"Ku Aamiinkan," jawab Maya.
Ia yang di bantu suster dan supir kini sudah masuk kedalam mobil mewah milik Axel. Maya tak ingin di jemput oleh Rian karna itu hanya akan merepotkan pria itu jika ia ingin pulang cepat atau mendadak nantinya.
Sedangkan XyRa yang masih ada dalam rangkulan suaminya mendapat ciuman di pipi kanan, ia yang sontak menoleh malah di tambah dengan ciuman bibir.
"Apa sih, Mas! malu ih," kata XyRa yang malah panik sendiri. Ia yang pemalu malah di hadapkan dengan suami yang tak tahu tempat jika sedang ingin menggodanya.
"Gak ada orang, Sayang."
"Sama aja, gak boleh gitu. Cukup dikamar," sahut XyRa yang benar-benar takut jika ada yang melihat betapa mesum Axel menjadi suami.
"Oh, ngajak ke kamar? Ok. Siapa takut," balas Axel yang merasa di tantang.
Hal yang di luar dugaan pun terjadi, jika di cium pipi saja XyRa sudah malu apalagi ini saat ia malah di gendong ala bridal style menuju kamar mereka di lantai dua. Ingin menjerit dan meronta tapi ia takut semua pelayanan datang melihat mereka, tapi rasanya ia tak sanggup jika sudah di goda seperti ini.
XyRa di turunkan di tengah ranjang, dan di detik yang sama itulah ia baru melayangkan protesnya.
"Mas, ya ampun. Awas ya gini lagi," ancam XyRa yang malah membuat suaminya tertawa.
"Kenapa? suami kamu ini lagi belajar romantis loh," kata Axel yang sering mengamati para pria keturuna Rahardian.
XyRa yang mencebik malah di cium bibirnya oleh Axel, ia yang kini lebih sensitif tak akan menyia nyiakan kesempatan. Begitupun dengan sang istri yang kini jauh lebih bergairah dari biasanya.
Hal yang seharusnya terjadi pun terjadi meski dengan sangat hati-hati walau napsUU begitu menggebu. Axel akan selalu ingat jika wanita yang kini sedang banjir keringat bersamanya itu sedang mengandung buah hati mereka.
.
.
.
Pagi hari keesokannya, semua rutinitas masih saja sama. Usai mengurus suaminya yang gagah perkasa, XyRa lanjut mengurus Sean di kamarnya mulai dari membangunkan hingga merapikan anak itu sebelum berangkat sekolah.
"Dede bayi masih lama keluarnya?" tanya Sean yang entah ini sudah ke berapa.
"Hem, masih beberapa bulan, Bang. Udah gak sabar pengen main ya?" goda XyRa pada anak sambungnya
Sean yang tersenyum dan mengangguk membuat hati XyRa terharu. ia paham jika bayi yang di kandung XyRa bukan dari rahim ibu kandungnya tapi belum apa apa anak itu terlihat begitu sayang dan tak takut jika semua yang ia dapat secara penuh nanti akan terbagi.
"Dede bayinya mau apa? laki laki atau perempuan?" tanya XyRa yang gantian penasaran.
"Apa aja, mau semua juga boleh, banyak banyak juga boleh," jawab Sean yang artinya ia tak keberatan jika adiknya nanti kembar, keinginan itu terbersit saat ia melihat banyaknya wajah sama di keluarga Mamihnya.
"Ok, kita tunggu nanti saat periksa lagi, Ok."
Ada peluang besar memang untuk XyRa mendapatkan bayi kembar, mengingat ia pun kembar dan Apihnya juga sama begitu pun dengan Abi.
Terlalu banyaknya anak kembar membuat keluarga XyRa jika berkumpul mirip seperti sedang di adakannya perlombaan antar kampung, dan jika yang bergabung adalah orang yang jarang melihat mereka sudah bisa di pasti kan akan pusing tujuh keliling. Masih bersyukur jika sampai tak pingsan saking banyak dan sama.
Tapi, XyRa mau pun Axel tak pernah membahas soal ini. Apapun yang di berikan Tuhan akan mereka terima dengan tangan terbuka dan pastinya suka cita. Sekalipun hanya satu bahkan mungkin lebih jika saja Sang pemilik hidup sangat percaya pada mereka berdua.
"Nanti Abang ikut lagi ya, Abang mau lihat lagi," pintanya yang langsung di iyakan oleh XyRa.
Setelah dirasa semua rapih, kini XyRa mengajak Sean keluar untuk sarapan bersama. Tak ada rencana apapun untuk pulang sekolah nanti di antara mereka jadi sepertinya akan langsung pulang kecuali Axel meminta mereka mampir sejenak ke kantor.
"Pagi, Sayang," sapa Maya saat bertemu dengan putranya yang baru turun dari tangga.
"Pagi, Mamih."
Maya yang kini mulai rutin menciumi wajah putranya membuat XyRa harus biasa dan perlahan terbiasa.
Sudah ada Axel di meja makan, dan itu tandanya mereka sudah akan mulai memanjakan perut lebih dulu sebelum melakukan aktivitas masing-masing.
Tapi, satu pertanyaan di lontarkan pria itu hingga dua wanita yang ada di dekatnya menoleh bersama.
"Kata suster hari ini kontrol kerumah sakit lagi?" tanya Axel, ia yang tak pernah tahu pasti kapan jadwal chek up Maya tentu hanya tahu jika perawat itu yang meminta izin untuk keluar.
Axel hanya mengangguk, tak perlu wanita itu mengatakan akan kemana dan dengan siapa ia dan istirinya sudah sangat paham. Dan Axel pun tak bertanya lagi sebab ada Sean yang mungkin akan penasaran nantinya dengan apa yang sedang di bicarakan, meski kecil kemungkinan jika anak itu ingin ikut bersama dengan Maya kecuali XyRa yang akan pergi.
.
.
.
Jam yang terus berputar kearah kanan akhirnya tiba juga di angka satu, waktu di mana Maya dan Perawatnya harus segera ke rumah sakit untuk kontrol dan pergi sebentar bersama Rian nantinya.
"Saya nanti ikut, Bu?" tanya Suster yang tahu siapa Rian.
"Hem, tentu. Jangan tinggal aku, Sus."
"Baiklah, tapi aku cukup ikuti dari belakang saja ya," sahut Si suster lagi yang kini sambil terkekeh kecil dan Maya hanya mengangguk.
Perjalanan ke rumah sakit pun di isi dengan banyak pilihan kata untuk Rian nantinya. Mulai dari jawaban lamaran hingga beberapa syarat yang akan Maya ajukan termasuk tentang Sean.
Tak ada harapan anak itu akan ikut dengannya nanti membuat Maya cukup akan meminta Rian untuk bersikap baik saja. Toh Sean sepertinya tak butuh pengakuan apalagi limpahan kasih sayang dari Rian sebab Axel dan XyRa sudah memberi apa yang di butuhkan anak itu.
Sampai di tempat yang mulai bosan di datangi, Maya beserta Perawatnya langsung masuk kedalam ruang pemeriksaan yang akan di lanjutkan dengan terapi. Ia masih rutin melakukan itu sebah Semangat untuk sembuh kini kian menggebu.
Semua yang di bicara kan Dokter di simak dengan baik mulai dari apa saja yang harus di lakukan di rumah serta obat yang masih wajib ia konsumsi tanpa absen.
"Baik, Dok. Terimakasih banyak," ucap Maya di rasa semua sudah selesai.
"Sama-sama, Nyonya. Semoga lekas pulih seperti sedia kala lagi ya. Tetap semangat," balas dokter yang selama ini begitu baik padanya.
Perawat pribadi Maya pun kini sudah siap membawa wanita itu keluar dari ruangan, tapi baru saja suster membuka kan pintu, mereka di kagetkan dengan kedatangan Rian yang tiba-tiba.
"Sudah?" tanya Rian tanpa basa basi.
"Sudah, kenapa kesini?" Maya balik bertanya dengan tatapan aneh karna seingatnya pria itu akan menunggu diparkiran mobil tapi nyatanya justru ada di depan pintu tanpa mengabarinya lebih dulu.
"Lama, aku bosen."
Rian langsung mengambil alih untuk mendorong Maya dan itu membuat Si perawat akan menggeser posisinya menjadi jauh di belakang pasangan tersebut.
.
.
.
"Jadi bagaimana? aku tak punya waktu banyak disini. Aku harus kembali ke ibu kota, May."
"Benat, mau menerimaku dengan segala kekuranganku sekarang?" tanya Maya masih ragu bagaimana pun pria itu pernah sangat melukai hatinya.
"Kamu akan sembuh, aku percaya itu. Di ibu kota banyak rumah sakit dan dokter hebat. Nanti kamu bisa lanjutkan pengobatanmu disana. Jangan khawatir," jelas Rian.
Maya menatap lekat pria yang nyatanya tak pernah berubah. Masih saja sering memaksanya jika sedang ingin sesuatu dan itu kadang membuat Maya kesal bercampur senang.
"Lalu maumu bagiamana jika aku menerima lamaranmu, hem?"
"Menikah, apa lagi? kita ini sudah di usia matang. Kamu pikir aku akan mengajakmu berpacaran?" sindir Rian yang membuat Maya tersenyum dan menggigit bibir bawahnya
Ya, jika bicara tentang umur, tentunya mereka memang sudah tak pantas jika harus menjalin hubungan tanpa ikatan pasti berunjung kemana. Apalagi Rian yang ternyata benar-benar belum menikah selama ini dengan alasan kecewa pada Maya sebab melihat wanita itu tidur dengan sahabatnya yang ia lihat langsung dengan kedua matanya sendiri bukan katanya apa lagi sekedar tebakan.
"Baiklah aku paham, aku beri kamu kesempatan lagi tapi ku mohon jangan kecewakan aku, ini pernikahan ketigaku, Rian."
"Aku tahu, ini yang pertama bagiku tentunya aku juga tak ingin gagal. Aku hanya ingin rumah tangga yang normal seperti orang lain. Aku sudah muak dengan hidupku yang dulu," ucap Rian semakin meyakinkan wanita di depannya saat mereka berada di salah satu restoran mewah di kota tersebut.
"Aku sulit bahkan tak bisa lagi punya anak, Rian." Maya jujur lagi dengan kondisi dirinya yang kini jauh dari kata sempurna.
"Siapa yang bilang? dokter kan? dan kamu percaya? mereka bukan Tuhan!" cetus Rian.
Maya yang tadinya menunduk kini mendongak. Tatapan mereka mau tak mau pun bertemu, Rian yang tersenyum lalu meraih tangan Maya untuk di kuatkan.
"Jangan pernah bersedih tentang apapun itu, kecuali dengan kematian yang pasti ada dan kita alami nanti, cukup itu yang harus kamu percaya, Ok," ucap nya lagi agar Maya bisa berbesar hati untuk menerima takdirnya.
"Iya, tapi aku hanya tak ingin kamu kecewa. Aku ini tak bisa apa-apa," balas Maya, jika ia Maya yang dulu mungkin ia tak akan se khawatir ini untuk melangkah ke tahap yang lebih serius
.
.
.
"Kamu bisa mencintaiku sehebat dulu saja sudah membuat ku sangat bahagia."