
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kepergian Axel membawa suasana lain bagi XyRa, meski adanya dua buah hati mereka tapi rasa kesepian itu tetap ada, entah sudah berapa kali pria itu menyempatkan diri menelepon hanya untuk bertanya kabar dan ingin mendengar apa saja yang di lakukan anak dan istrinya ketika mereka sedang berjauhan seperti ini.
Tapi, selama apapun berbincang rindu tetap terselip di hati dan itu bisa terlihat dari teduh dan lirihnya nada bicara pasangan suami istri tersebut.
"Kalau masih capek, tak perlu di paksa. Kamu bisa kesini esok paginya, Mas," pesan XyRa saat mereka masih mengobrol lewat sambungan Video call.
"Tapi aku rindu kalian, kamu juga pasti repot jaga anak-anak," jawab Axel yang selalu saja berpikir kearah sana padahal Sang istri tak serepot yang ia bayangkan.
Meski Sean dan El benar-benar diurus oleh XyRa seorang diri dengan tangannya tapi ia tak pernah melakukan hal lain selain itu, dalam artian fokusnya hanya pada para jagoannya saja.
Makan tinggal makan, semua kebutuhan ada dan ingin apapun tinggal bilang. Tak ada yang harus di khawatir kan dari wanita itu yang hidupnya sudah terjamin mewah saat masih jadi kecebong.
"Anak-anak aman, ada Abang yang selalu bantu. Kalau gak ada Si kembar dia gak pernah mau jauh dari El," jelas XyRa sambil tersenyum karena bayangan anak sambungnya terlintas.
"Kenapa?" tanya Axel.
"Sepupunya gak boleh deket-deket sama El, jadi dia ajak main Si kembar jauh jauh."
Keduanya tertawa bersama, tingkah Si sulung yang teramat posesif membuat kedua orang tua nya hanya bisa geleng kepala, Sean teramat sayang karna ia sudah membuktikan jika Mamih nya tak berubah meski ada anak lain di antara mereka.
.
.
.
Ceklek
"Mih, Abang mau makan, suapin boleh?"
"Boleh, Bang. Sini piringnya," titah XyRa.
Sean yang baru bangun tidur, memang melewatkan makan siangnya. XyRa tak berani membangunkan karna takut anak itu rewel dan tak mau jauh darinya sedangkan sekarang ada El yang harus di urus juga olehnya.
"Papih kapan pulang?" tanya Sean.
"Hem, pengen jalan jalan," jawab Sean.
Rasa bosan beberapa hari di rumah sedang menyelimuti hati Sean di tambah ia pun tak sekolah, setiap hari hanya mengandalkan Si kembar datang untuk bermain. Meski terasa menyenangkan tapi nyatanya Sean butuh suasana baru.
"Sama Uncle ArXy mau gak?"
"Unclenya mau?" Sean balik bertanya, ia yang sudah nyaman dengan keluarga Rahardian tak pernah takut jika pergi tanpa Mimihnya dan itu jauh lebih baik di banding ia harus pergi dengan Sang ibu kandung yang masih saja terasa canggung.
"Mau dong, nanti Mamih telepon Uncle dulu ya," ucapnya yang di jawab anggukan kepala.
Usai menyuapi Sean hingga habis kini XyRa meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas, ia caeyt kontak Sang kakak lalu menunggu pria yang masih lajang itu untuk mengangkatnya.
"Hallo, ada apa?" tanya ArXy saat panggilan tersambung.
"Kak, sibuk gak?"
"Mau ngapain?" ArXy bertanya sedikit ketus tak ada manis manisnya seperti biasa dan itu memang ia lakukan pada siapapun.
"Ajak main Abang Sean dong, bosen katanya dirumah, mau ya," mohon Cuyy, andai saja mereka sedang berhadapan langsung mungkin ArXy akan melihat se menggemaskan apa adiknya itu.
Tak ada jawaban dari ArXy, ia seperti sedang berpikir antara mau atau tidak karna ada sedikit pekerjaan yang harus ia selesaikan. Tapi, segalak apapun Si bujang lapuk ia tentu sulit menolak jika menyangkut anak-anak.
"Gimana?" tanya XyRa meminta kepastian meski ia tahu jika Sang kakak pasti mau.
"Ya udah, bawa Sean kesini. Nanti perginya dari kantor," titah Sang Tuan Muda Rahardian.
"Yah, di anter supir dong?"
.
.
.
Gak usah, kamu paketin terus kamu LEMPAR kesini.