Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Bab 69


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Hallo, OCEAN---," teriak Lintang.


Si lahir belakangan namun apa apa ingin selalu duluan, menyebelkan namun menggemaskan, contohnya kali ini. Ia yang berlari saat turun dari mobil tak perduli sama sekali dengan kedua kakaknya yang meminta Lintang untuk menunggu sebentar agar mereka bisa bersama sama masuk kedalam rumah utama.


Rasa tak sabarnya untuk bertemu Sean seolah lupa jika ia anak bungsu dari tiga bersaudara.


"Oceeaaaaaan--" panggilnya lagi senang.


Jangan harap sebuah nama akan indah di bibir Sang kuncen Akherat yang lapaknya lagi di umpetin sama mak othor.


"Hallo juga, Lilin," jawab Sean yang tak kalah senangnya. Ia bagai sebelas dua belas dengan Sky bagi Lintang yang sabar menghadapinya yang penuh dengan drama tak jelas.


"Ocean udah lama tungguin Lilin?" tanyanya dengan tangan sambil memegang Sean.


"Baru sampe kok, ini lagi main sama Kucing dulu."


"Main sama Lilin aja, jangan Main sama Miong nanti di gigit sama Uncle Bum-Bum yang galak," bisik Lintang.


Ya, Pewaris Rahardian Group itu memang tak segan memarahi tiga krucil rumah utama jika sudah kelewat batas bermain dengan para peliharaannya, dan itu wajar karna sejak balita Rain memang pecinta Kucing mulai dari si Ireng.


"Lintang!" seru Mhiu Biru memberi pengertian


"Ciap Glak, Mhiu," kekeh bocah lucu itu yang suara cekikikannya sungguh membuat yang mendengar jadi ikut tersenyum juga.


Kini, tak hanya Lintang dan Sean, sebab Angkasa serta Fajar sudah ikut bergabung setelah masuk rumah utama.


Keempat bocah itupun kini sudah ada di ruang tengah lantai dua untuk siap bermain di temani Mhiu dan Amih, sebab XyRa ada dikamar menemani Axel yang sedang istirahat usai di periksa oleh dokter yang datang ke rumah utama.


"Kalian mau cemilan apa?" tawar Amih sambil mengusap kepala cucu sambungnya yang teramat di sayang oleh sang putri.


"Apa aja, Mih."


"Abang Asha mahu pisang susu ya," jawab Si sulung.


"Aa mau jus Apel aja," Sambung Fajar.


"Lilin apa?" tanya bocah itu seperti biasa.


"Ya gak tahu, Lilin maunya apa?"


"Lilin mahu Cekay sama Cakha, Mhiuuuu," rengek nya tiba-tiba yang langsung naik keatas pangkuan neneknya.


Mhiu yang tahu jika cucu kesayangan suaminya itu kini sedang merajuk hanya bisa meminta Lintang untuk sabar karna dua kembar lainnya sedang ikut Sang Daddy yang ada urusan mendadak pagi tadi yang tak biasanya Shaka dan Sky di ajak seperti ini, padahal tahu jika ada Sean yang akan kerumah utama.


.


.


.


Di dalam kamar, Axel yang tak jauh lebih baik masih meringkuk bingung harus bagaimana sebab ia terlalu tak bertenaga untuk sekedar bangun setelah puas bolak balik kamar mandi untuk menguras isi perutnya yang kelebihan muatan.


"Aku buatin bubur ya, Mas."


"Hem, apa ajalah," jawab Axel pasrah karna di saat seperti saja napsu makannya tak berkurang sama sekali.


Sepiring buah potong segar nyatanya habis tersisa garpunya saja, begitu pun dengan kue yang di bawa Amih, entah sudah berapa iris yang masuk kedalam perutnya yang katanya sakit tersebut.


"Ya sudah, Mas tunggu sini ya, aku bilang Chef dulu untuk buatkan bubur untukmu," ucap XyRa sambil mengusap lengan suaminya yang mengangguk pelan.


"Eeeeh, mulai cabe lagi kan?!"


"Iya, deh iya, bawang aja, Sayang." Axel yang takut di marahi langsung melarat ingin nya barusan.


XyRa yang mendengkus kesal lalu keluar dari kamarnya, kamar yang sudah jadi bagiannya dari ia kecil pemberian Sang Gajah. Ia masih ingat betul saat Abi Bumi dan Ummi Yayang mendekor kamar tersebut dan bertanya ingin warna apa, begitu pula dengan isi barangnya yang ia pilih sendiri sesuai inginnya dengan khas anak-anak, namun kini perlahan semua berganti seiringnya tumbuhnya ia menjadi gadis remaja dan dewasa.


Tak ada yang berubah atau bergeser sejengkal pun di dalam rumah utama meski tak terhitung sudah berapa kali mengalami renovasi. Jadi tak salah jika hawanya masih saja sama mulai dari Singa, gajah, buaya dan kini Tutut Markentut.


"Ra, gimana suamimu?" tanya Mhiu Biru yang tak. sengaja berpapasan di dekat tangga.


"Lumayan, aku lagi mau minta bikinin bubur, Mhiu. Anak-anak gak rewel kan?" XyRa balik bertanya namun tentang 4 bocah yang sedang bermain bersama bersama di ruang tengah.


"Aman, paling cuma Lintang aja yang ngdrama," jawab Mhiu yang terkekeh, kemudian di balas juga dengan senyum kecil.


XyRa memang sengaja tak menampakan batang hidungnya lebih dulu karna akan sulit baginya beranjak jika sudah terlihat oleh Si kembar yang akan berebut pelukannya. Ia yang begitu baik dan penyanyang memang selalu menjadi kesayangan para bocah dan kini beranjak ke bapaknya bocah yaitu suaminya sendiri.


.


.


.


Di lantai bawah, XyRa yang sudah minta tolong Chef untuk membuatkan bubur langsung naik lagi ke atas. Ia hampiri Si kembar dan Sean. Pelukan hangat secara bergantia mereka rasakan sembari melepas rindu yang setahun belakangan ini jarang sekali bertemu. Kadang, XyRa lebih memilih bermain dengan para keponakannya jika sedang bosan dan jenuh di banding jalan-jalan dengan teman-temannya yang kadang membuat ia jengah.


XyRa yang kaya raya sebelum di adon dalam pertempuran Baby Koala dan anak curut tentu sudah tak aneh dengan semua kemewahan yang orang orang di sekeliling nya pamerkan, justru sesuatu yang sederhana dan apa adanya


"Papih masih sakit?" tanya Sean pada wanita yang kini sedang memangku salah satu dari Si kembar.


"Papih Ocean sakit?" Lintang yang ikut bertanya membuat siapa pun yang mendengar akan tertawa.


Sudah berkali di benarkan, nyatanya anak itu tetap kekeuh memanggil Sean dengan sebutan OCEAN. Tapi, jika tak begitu bukan Lintang namanya.


"Iya, Uncle Axel sakit," jawab XyRa


"Jangan khawatir ya, Bang," tambahnya lagi pada Sang putra sambil mengelus kepala Sean perlahan dengan tangan kanannya.


"Kata Ocean, Ocean mau punya Bayi?" Lintang yang penasaran pun langsung bertanya pada sumbernya.


"Hem, iya."


"Mua-muanya punya Bayi, Lilin nda punya bayi?" protesnya kesal sendiri.


XyRa, Mhiu dan Amih hanya bisa saling pandang. Bubun yang berperan sebagai ibu Si kembar yang punya jawaban justru tak ada bersama mereka sebab wanita cantik itu sedang menemani suaminya yang ada rapat penting perusahaan. Embun yang kadang aktif di kantor Rahardian Group memang sesekali hadir saat ada pertemuan yang mewajibkannya datang.


"Nanti minta sama Bubun ya," ucap Mhiu pada cucu bungsunya.


"Udah, Miyuuuuuuuh," jawab Lintang semakin kesal.


"Terus?" tanya semuanya berbarengan.


.


.


.


Kata Ayah masih simpen di kelanjang Kuning....