Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 50


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Morning Sickness, siapapun pasti pernah mengalaminya terutama ibu hamil muda di Trimester pertama. Bagi yang belum berpengalaman tentu ini sangat berat karna ternyata rasanya sungguh nikmat luar biasa.


Harus ada peran suami yang sabar dan penuh perhatian yang mendampingi karna usai memuntahkan isi perut biasanya tubuh menjadi lemas seolah tak bertulang, dan di saat yang sama juga rasanya ingin sekali bermanja meski hanya cukup dengan sebuah pelukan.


"Aku harus bagaimana, Sayang?" tanya Axel sambil menciumi kening XyRa yang banjir keringat.


Sudah hampir 40 menit wanita itu bolak balik kamar mandi karna mual dan sakit di bagian perut. Axel yang bingung hanya bisa menenangkan padahal ia sendiri juga begitu khawatir dan takut.


Sudah di bilang, ini anak kedua namun pengalaman pertama baginya. Pria itu nampak bodoh karna tak bisa berbuat apa-apa.


"Sudah biasa begini, kamu tak perlu panik, Mas."


"Aku ambilkan air hangat lagi ya," tawar Axel yang kali ini di tolak.


XyRa yang lemas hanya dingin diam tanpa melakukan apapun, bahkan untuk meneguk minuman saja rasanya ia tak bertenaga.


"Biar kamu enakan, Sayang."


Tapi jawaban dari wanita itu tetap sama yaitu menggelengkan kepala di dalam pelukan suaminya. Dan tanpa terasa XyRa justru terlelap karna memang saking lelah dan lemasnya.


Axel tak berani mengangkat tubuh wanita itu untuk di pindah ke ranjang, ia biarkan tetap dalam posisi yang sama selagi XyRa merasa nyaman dengannya.


Sedangkan Sean yang baru bangun tidur menatap aneh kedua orangtuanya yang justru berada di Sofa, bukan bersamanya seperti semalam. Melihat Mamih dan Papihnya sama-sama memejam kan mata, Sean pun akhirnya keluar kamar tanpa suara, saking pelannya ia melangkah dan membuka pintu sampai membuat siapapun tak mendengarnya sama sekali termasuk Papihnya padahal pria itu tak tidur.


Sean yang berdiam diri sejenak di depan pintu bukan kearah kamarnya malah turun ke lantai bawah yang akhirnya tak sengaja bertemu dengan Maya. Ia yang perlahan sudah menerima wanita itu tentunya langsung menghampiri sebagai prilaku sopan santunnya terhadap yang lebih tua sebagaimana ia di ajarkan oleh XyRa selama ini.


"Mamih Maya," panggil Sean yang membuat wanita yang masih duduk di kursi roda itu menoleh.


Satu, dua, tiga detik berlalu akhirnya Maya tersenyum sambil merentangkan tangan seperti yang sering ia lihat pada XyRa.


"Hem, baru bangun bobo ya?" tanya Maya masih sambil memeluk.


"Iya, mau mandi," ucapnya seraya mengurai dekapan wanita yang sudah melahirkannya tersebut.


Rasanya berbeda, meski sama-sama Mamih nya, tapi Sean tetap nyaman dalam pelukan Sang ibu sambung di banding kandung.


"Ya sudah, mandi dulu sana, atau Sean mau di temani?" tawar Maya, ia akan mengambil kesempatan selagi XyRa belum terlihat olehnya.


"Temani apa? Abang mau mandi, Mih."


"Sean mandi di kamar Mamih Maya, nanti Mamih rapih kan sebelum berangkat sekolah, bagaimana?"


Sean yang awalnya diam tak lama mengangguk, setelah Ada XyRa memang tak ada lagi pengasuh untuknya sebab sebab semua berubah menjadi ketergantungan pada wanita itu. Tapi hari ini justru Sean bingung karna Mamih nya belum juga banguj seperti biasa.


"Abang ambil baju dulu ya," ucapnya yang kembali lagi kearah tangga menuju kamarnya sendiri.


Maya yang cukup tahu diri hanya bisa merutuk dalam hati, andai ia mampu berjalan pastinya ia yang akan mengurus Sean di kamarnya bukan malah anak itu yang mengambil barangnya seperti ini. Tapi, jika tak ada kecelakaan yang harus mengorbankan kakinya, ia pasti tak tahu setampan apa putranya kini.


Semua menjadi dilema bagi wanita itu ditambah tekanan dari Axel untuk tidak berlebihan dalam bersikap hingga membuat Sean takut dan tak nyaman di rumahnya sendiri.


"Ayo, Sayang."


Sean menjawab dengan anggukan, di dalam kamar mandi Maya hanya menemani karna nyatanya anak itu ingin membersihkan tubuhnya sendiri. Maya yang hatinya mendadak kacau sampai menitikan air mata, ia ingat Sean saat bayi yang jarang sekali di urus olehnya. Maya dulu hanya sibuk dengan dirinya sendiri tanpa perduli kapan anak itu mandi dan minum susu bahkan ia tak pernah memikirkan makanan apa yang bisa di berikan saat lewat usia 6 bulan.


"Sudah, Mih."


"Ah, iya, Sayang. Sini Mamih bantu keringkan badanmu," jawab Maya, meski tak pernah mengurus anak tapi rasa keibuannya perlahan muncul saat rasa sayangnya pun terasa.


Sean di urus cukup baik meski tak sama dengan XyRa, dan kini anak sulung dari Axel tersebut sudah terlihat tampan dan rapih siap untuk sarapan.


Bersama dengan perawat yang bertugas menemani Maya dengan cara membantu mendorong kursi rodanya kini mereka sudah


hampir tiba di meja makan.


Namun, ketiganya menoleh saat mendengar sedikit kegaduhan dari arah tangga yang ternyata XyRa dan Axel, keduanya memang sedang mencari sosok Sang putra yang tak ada di kamarnya. Ibu mana pun pasti panik saat bangun terlambat dan ingat Anaknya belum di urus. Itu jugalah yang di rasakan XyRa, ia langsung ke kamar Sean yang ternyata kosong.


Dan kini, sesuatu di luar dugaan Si ibu hamil pun terjadi tepat di depan matanya.


"Sudah rapih?" gumam XyRa pelan, sangat sangat pelan. Hati wanita yang masih memakai piyama itu pun mencelos lalu menoleh kearah Maya yang tersenyum kearahnya.


Dari senyum yang di lihat XyRa tentu ia yakin jika itu adalah sebuah jawaban dari sebuah pertanyaan yang kini sedang hinggap di kepalanya.


"Mamih, sudah bangun?" tanya Sean sambil berlari memeluk ibu sambungnya.


Sean yang tahu ada bayi di dalam perut XyRa, tak lupa di sapanya juga dan itu cukup sangat menggemaskan bagi mereka yang melihat kelakuan si calon kakak tersebut.


"Abang sudah mandi?" tanya XyRa yang kini berjongkok agar ia dan putranya bisa sejajar.


"Sudah, mandi temenin Mamih Maya," jawabnya jujur seperti biasa. Sebab tak pernah ada dusta di antara mereka berdua.


XyRa hanya tersenyum simpul, meski ia yakin jika Maya tak hanya menemani tapi juga mengurusnya termasuk mungkin menyisir rambut Sean.


"Maaf ya, Mamih bangun kesiangan jadi telat urus Abang, sudah bilang Terima kasih belum ke Mamih Maya?" tanya XyRa yang penuh sesal tapi badannya juga tadi sedang benar-benar tak bisa di paksakan.


"Hem, belum," jawab Sean pelan sambil menunduk.


Tapi tak lama, ia menoleh dan kembali menghampiri ibu kandungnya untuk melakukan apa yang di perintah wanita terbaiknya barusan.


"Terimakasih, Mih," ucap Sean dengan senyum tulus di ujung bibir mungilnya.


.


.


.


Sama-sama, Sayang. Datanglah ke Mamih jika Mamih XyRa sibuk ya.