
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bagaimana hari ini? ada cerita untukku?" tanya Axel pada XyRa yang kini ada dalam pelukannya.
Usai berCinTa biasanya mereka akan mengobrol banyak hal jika belum mengantuk, XyRa akan bercerita tentang harinya bersama Sean meski rasanya tetap sama dan jarang ada yang berbeda.
"Apa? aku hanya mengantar dan menjemput Sean lalu bermain dengannya, aku rasa, aku harus lebih banyak meluangkan waktu untuknya," jawab XyRa.
"Memang kenapa? ada masalah dengan Sean?" tanya Axel.
"Entah, aku hanya takut ia kurang kasih sayang dariku."
Omong kosong, bagaimana mungkin Sean kekurangan kasih sayang, jika dunia Wanita itu kini hanya penuh dengan satu nama yaitu nama anak sambungnya dan jika boleh jujur, XyRa jauh lebih sayang pada Sean di banding dengan Axel.
Sebab, sepanjang hari yang ia lewati tentu hanya bersama dengan Sean, sedangkan Axel selalu saja sibuk dengan segudang pekerjaannya.
"Itu mustahil, Sayang."
"Kapan Mbak Maya keluar dari rumah sakit? bukankah harusnya akhir pekan ini?" tanya XyRa dengan mendongakkan wajah. Tubuh yang sama-sama polos saling menempel itu terasa sangat hangat bagi keduanya.
"Iya, besok aku akan hubungi dokter lagi."
"Mas akan ke rumah sakit?" dengan dahi sedikit mengernyit XyRa pun kembali melempar pertanyaan.
"Tidak, Sayang, aku akan bicara lewat sambungan telepon saja. Kenapa? tak bolehkan aku kesana?" Axel balik bertanya, namun dengan nada menggoda.
XyRa langsung menggeleng dan menenggelamkan wajah merah meronanya ke dada Axel, malu rasanya di berikan pertanyaan seperti itu hingga harus membuatnya salah tingkah. Bukan tak boleh, tapi istri mana pun tak akan rela jika suaminya menemui wanita lain, satu kewajaran yang di rasakan oleh XyRa saat ini.
"Silahkan, asal sebelum kesana izinlah dulu padaku," pesan XyRa pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Mana pernah kamu tak tahu dimana keberadaanku, Sayang. Kamu wajib tahu akan kemana aku melangkah karna kamu adalah istriku, aku akan selalu menghargai posisimu di dalam hidupku," ucap Axel yang memang selama ini selalu memberikan kabar tanpa terkecuali.
XyRa pun mengangguk membenarkan apa yang di katakan suaminya barusan, tanpa di minta Axel memang selalu mengatakan apa saja dan kemana saja saat ada keperluan di luar kantor.
Selama hampir satu tahun menikah tak sekalipun XyRa di kecewakan, di buat menangis apalagi di khianati dengan cara di bohongi. Tuhan sudah mengganti yang baik dengan yang jauh lebih baik, itulah yang XyRa yakini selama ini hingga akhirnya ia sudah benar-benar bisa lepas dari bayangan Dave yang kini telah bahagia di tempatnya sendiri. Axel yang tak pernah lupa mengingatkan XyRa untuk terus mengirim doa seakan tahu jika ada ruang tersendiri dalam hati sang istriyang tak tergantikan meski dengan dirinya sendiri yang kini menjadi SUAMI PENGGANTI.
.
.
.
Masih belum siap untuk jujur pada anak itu mengingat Sean baru saja kembali ceria pasca kecelakaan yang membuatnya sedikit trauma.
"Kamu sudah di izinkan pulang, tapi untuk semua pengobatan, terapi dan kontrol masih menjadi tanggung jawabku," ucap Axel karena memang Maya belum bisa berjalan seperti biasa lagi dan ia akan memakai kursi roda untuk aktifitasnya nanti.
"Pulang? kemana?" gumam Maya bingung sendiri.
Ia yang sebulan terakhir tinggal di salah satu tempat kos entah tak tahu bagaimana nasib beberapa barangnya disana, ia tanpa kabar karna tak ada ponsel sama sekali.
XyRa dan Axel pun saling pandang, sepertinya ia, lupa dengan hal tersebut sebab yang di fokuskan adalah pengobatan selama di rumah sakit.
"Mbak Maya bisa ikut kami, itu akan mempermudah nanti saat kontrol ke rumah sakit," ucap XyRa yang langsung di tatap serius oleh Axel dan Maya secara bersamaan.
"Sayang--,"
XyRa menoleh kearah suaminya yang tak percaya dengan keputusan sapihak istrinya itu.
"Aku paham, tapi ku mohon kali ini untuk percaya padaku ya," ujarnya lagi lirih karna bagaimana pun ia tetap tak bisa menutupi sesak dalam hatinya.
"Aku tak ingin memasukkan wanita lain dalam rumah kita, XyRa! aku mohon," balas Axel yang tak mau gegabah untuk rumah tangganya yang sudah sangat bahagia.
"Dia memang wanita lain bagimu, tapi tidak bagi anakmu, kamu harus ingat itu, karna---," ucapnya yang menarik napas lebih dulu sebelum melanjutkan apa yang ingin ia utarakan.
"Karena apa?" tanya Axel yang kesal.
.
.
.
Sehebat dan sekaya apapun kamu, Sean tetap bernasab pada IBU nya....