
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Rasa kesal wanita itu sepertinya sudah sampai di ubun-ubun, sebab tak lama setelah ia langsung mematikan panggilan telepon tersebut. Ia yang terus menggerutu tak sadar akhirnya sudah sampai di rumah utama.
Seperti biasa, XyRa di sambut dengan pelukan dan senyum hangat putranya. Biasanya Sean akan merajuk jika sudah di tinggal selama ini. Tapi, ia masih bisa tertawa kecil karna ada para sepupunya yang menemani di bangunan mewah tersebut.
"Kok lama banget?" akhirnya pertanyaan itupun terlontar dari bibir manis Sean untuk sang Mamih yang baru datang.
"Maaf, ya Bang." hanya kalimat itu yang terlontar sebab ia tak mungkin jujur usai dari pemakaman.
"Iya, gak apa-apa."
XyRa menuntun Sean ke kamarnya. Selama di rumah utama memang mereka tidur bertiga dalam satu kamar meski Si kembar ingin tidur bersama di kamar mereka yang sungguh sangat luas tersebut.
"Bang, Mamih Maya besok mau ketemu Abang. Mamih Maya mau makan siang sama Abang mau ya?" kata XyRa saat ia sudah duduk bersama di tepi ranjang.
"Hem, Mamih Maya? Mamih suruh Abang ketemu?" tanya nya dengan tatapan bingung.
"Bukan, Sayang. Mamih Maya tadi telepon karna ingin ketemu Abang besok," jelas XyRa lagi takut Putranya itu malah salah paham dengan apa yang di katakannya barusan.
"Oh, Dimana?"
"Nanti Mamih Maya kirim alamatnya lewat pesan. Atau Abang ada mau ketemu dimana gitu sama Mamih?" tanya XyRa yang kali ini cukup jadi perantara antara ibu dan anak tersebut.
Sean diam sejenak lalu tak lama ia menggeleng kan kepalanya. Anak itu memang baru beberapa kali datang ke ibu kota jadi sangat wajar jika tak terlalu tahu tempat mana saja yang ia sukai apalagi Sang ibu hanya mengajaknya makan siang di restoran. Jadilah semua di serahkan pada Mamih Maya atau XyRa yang akan mengantarnya nanti.
"Mamih ikut kan?"
XyRa pun dengan cepat menggeleng kan kepalanya, dah itu malah membuat Sean berhambur memeluk Sang ibu angkat,
Posisinya kini sangat tak nyaman, Sean yang bergantung padanya memang tak mau di tinggalkan berdua di luar. Tapi, ia juga tak mungkin membuat Maya nanti tak nyaman bersama Sean jika ada dia yang seolah menjadi orang ketiga. Bagaimana pun wanita itu punya hak atas Sean, dan tentunya ingin melepas rindu setelah beberapa waktu tak bertemu.
XyRa paham, meski bisa mengobrol dengan leluasa melalui video Call tentunya tak akan sampa seperti saat bertatap langsung yang pastinya bisa saling menyentuh bahkan berpelukan.
.
.
.
Izin sudah di dapatkan, tempat pun sudah di tentukan. Kini saatnya XyRa mengantar Sean bertemu Maya. Meski ada rasa tak rela karna takut Sean semakin nyaman dengan ibunya tapi XyRa tak bisa se egois itu. Mereka sama-sama wanita dan sama-sama seorang ibu, XyRa hanya takut apapun bisa berbalik pada dirinya sendiri karna satu detik kemudian adalah Rahasia Tuhan pemilk takdir.
"Mamih gak kemana mana? janji?" tanya Sean memastikan negoisasi mereka berdua.
"Iya, Mamih tunggu di mobil ya, Bang."
"Kalau Mamih Maya ajak rumahnya, Abang gak mau ya, Mih," Mohonnya lagi untuk tetap pulang bersama sang Ibu sambung nantinya.
.
.
.
Tentu, Mamih disini untuk Abang.