
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Terima kasih, Sayang. Tetaplah cantik di antara kami bertiga," bisik Axel masih dengan derai air mata yang membanjiri wajah tampannya.
Ini adalah pengalaman luar biasa baginya yang menjadi seorang Ayah dari wanita yang teramat ia cintai dengan sepenuh hati.
"Bayinya apa?" tanya XyRa dengan suara parau.
"Laki laki, Sayang. Kita dapat jagoan lagi," jawab Axel sembari menghapus cairan bening di ujung mata Sang istri.
XyRa terpejam, sakitnya seakan hilang begitu saja saat ia tak lagi merasa penasaran dengan jenis kelamin Si jabang bayi. Bayi yang selalu bersembunyi saat melakukan pemeriksaan yang ujung-ujungnya membuat Mamih dan Papihnya kecewa saat pulang dari rumah sakit.
Dokter yang sudah langsung memberikan bayi tampan itu keatas dada XyRa yang kini benar-benar menjadi seorang ibu.
"Terimakasih sudah membuat hidup Mamih semakin sempurna," bisij XyRa yang barulah tangisnya pecah karna baru benar-benar sadar jika ia sudah menjadi ibu dari anak yang ia lahirkan sendiri.
"Anggota tubuhnya lengkap tanpa kurang satupun, beratnya 3500gram dengan tinggi 55 centimeter," jelas Dokter yang pastinya ikut bahagia, suatu kehormatan rasanya bisa ikut andil dalam persalinan keturunan Rahardian Wijaya.
"Terimakasih, Dok."
Axel pun langsung melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang ayah pada putranya yang baru lahir.
Pipi merah bayi itu mirip sekali dengan XyRa saat di goda, namun hidung serta matanya tak jauh berbeda dari Axel, dan ternyata Sean pun ikut menyumbang yaitu garis senyum yang hampir mirip 100% . Mungkin, karna selama hamil mereka tak terpisahkan jadilah adik kakak itu seakan ingin mengatakan pada dunia jika mereka adalah sama-sama hasil semburan Si ulat bulu jumbo.
XyRa yang sudah di bersihkan kini saatnya di pindah ke ruang rawat inap biasa agar lebih nyaman untuk istirahat, apalagi kabar yang di dengar semua pasukan gajah sudah menunggu dan siap memberi ucapan selamat pada Sang Nona muda Rahardian Wijaya.
XyRa akan tetap menyandang status itu sebab suaminya dari kalangan biasa, tak punya nama keluarga turun menurun yang bisa menjadikannya sebagai Nyonya besar, begitupun dengan putranya sekarang yang akan memakai nama belakang keluarga konglomerat tersebut.
Bayi berambut tipis itu kini sudah di ada di dalam box, tidur nyenyak setelah di bersihkan oleh beberapa perawat, tangan mereka seakan lemas saat menyentuh calon penurus perusahaan besar di negeri ini.
"Ini pasti karna kamu kebanyakan makan cabe, anakku botak!" omel XyRa saat ia sudah jauh lebih baik dan bertenaga.
"Kok aku? Kan bayinya dalam perut kamu, Mih," bela Axel yang terus menciumi tangan Sang istri.
Entah ungkapan apa yang pantas untuk wanita itu yang dengan sangat sadar sudah mempertaruhkan nyawanya demi kelahiran putra mereka.
Kadang, Axel merasa tak adil karena semua di tanggung istrinya. Ingin rasanya ia di bagi rasa sakit itu tapi sayangnya itu mustahil. Mungkin itulah sebabnya kenapa Surga ada di telapak kaki seorang Wanita.
"Kan kamu yang ngidam, Mas. Aku mana tahu apa-apa, lagian apa yang ku makan itu manis, liat selucu apa tadi senyummya?" balas XyRa dengan raut wajah sangat bahagia.
"Jangan begitu, aku cemburu!"
Suara gelak tawa XyRa pun begitu renyah terdengar, hingga keduanya menoleh saat ada suara pintu terbuka.
Satu persatu keturunan Gajah masuk kedalam kamar yang mewahnya melebihi kamat hotel bintang 5 tersebut.
"XyRaaaaa, selamat begadang, Sayang," kekeh Embun, mantan buaya betina yang kini punya 3 jagoan yang meresahkan.
XyRa yang tersenyum hanya bisa membalas pelukan keluarganya serta meng Aamiinkan semua doa yang di panjat kan juga untuk keluarga bahagianya kini.
Dari semua yang datang, hanya satu sosok yang ia cari yaitu, Sean.
"Mas, Abang mana?" tanya XyRa saat semua sibuk pada Si bayi.
Hati XyRa mencelos karna seperti ada yang hilang dari dirinya.
"Lagi ikut Apih dulu ke kantor katanya," jawab Axel.
Pria itu tak tahu saja jika anak sulungnya kini sedang di cekoki dengan yang berbau perusahaan agar kelak menjadi pengusaha sukses di perusahaan sendiri. Rasa sayang dan tak membedakan membuat Apih memikirkan juga masa depan Sean. Ia tak mau ada perbedaan dari kedua cucunya kelak saat dewasa.
"Ganteng banget, sumpah." Qia yang gemas rasanya ingin membawa pulang Si bayi yang ada dalam gendongan Rindu.
"Dadd, satu lagi ya," rengek wanita itu pada suaminya, Skala.
"Ikuti aturan pemerintah, cukup dua anak," jawab Si terompet kiamat seperti biasa.
"Menyebalkan, bikinnya doyan tapi gak mau di jadiin!" gerutu Qia yang tak di izinkan hamil lagi hanya karena ingin istrinya menjadi yang paling cantik diantara suami dan dua anak kembar laki-lakinya.
Separah itu tingkat kebucinan Skala pada istri satu-satunya sebab Sang ayah justru hidup berpoligami hingga akhir hayat.
"Jangan gitu, nanti ada yang tersinggung," Ledek Embun.
Kini semua mata tertuju pada Rain, jika Skala tak ingin ada yang lebih cantik tentu lain dengan pewaris utama Rahardian Group yang belum mau punya anak karna tak sanggup berbagi wanitanya.
"Apa?" tanya Rain, tatapan yang sudah sangat biasa ia dapat dari seluruh keluarganya tapi tidak dari istrinya.
Rindu hanya bisa pasrah, memohon agar kadar cinta Suaminya sedikit saja berkurang. Bukan tak senang di cintai dengan begitu hebatnya hanya saja ia juga ingin menjadi wanita yang sempurna.
"Tuh, emaknya Madu udah gendong anak, kan cakep liatnya dari pada liatin gendong anak kucing mulu," timpal Heaven dengan gelak tawa puasnya.
"Berdua sama Bum juga udah bahagia!"
Tak ada yang bisa memaksa, hanya tinggal menunggu waktu kapan pria tampan itu mau berbagi Nyeh uwa uwa milik istrinya.
Ceklek
Pintu di buka oleh Pria paruh baya yang sedang berhagia. Bagaimana tidak, kini ia punya cucu laki-laki seperti apa yang di harapkan meski sebenarnya ia ingin itu dari ArXy yang belum ada tanda tanda bisa move on dari santan Kara.
Apih tentu tak sendiri, sebab ada Sean yang juga masuk ke dalam ruangan tersebut, XyRa yang bertemu lagi langsung merentangkan tangan bersiap ingin mendapatkan pelukan.
"Mamih kangen, Abang." XyRa semakin mengeratkan karna ini yang pertama baginya semalam tanpa anak itu.
"Abang juga kangen Mamih, Abang sampe gak bisa bobo do'ain Mamih terus sama dede bayi," Jawab Sean yang membuat Ibu sambungnya tersebut terharu sedih.
Ini adalah pembuktian bagi XyRa apakah ia bisa benar-benar adil seperti janjinya?
Dua anak yang akan ia besarkan dengan kasih sayang sama rata meski yang satu jelas bukan darah dagingnya.
"Terimakasih, Bang. Mamih Sayang Abang."
Sean pun menganggguk sambil tersenyum dalam pelukan Mamih nya, tapi bukan berarti ia akan tetap terus berbangga diri karena menjadi kesayangan, sebab bukan hanya Mamih Papih nya saja yang harus berbagi, nyatanya ia pun sama. Cinta Sean tak lagi mesti tertuju pada Orang tuanya tapi juga kepada adik laki-lakinya.
.
.
.
Selama Si bayi banyak yang mengasuh, selama itu juga kesempatan bagi XyRa untuk bersama dengan Sean, ia masih menjadi pendengar yang baik juga teman berbagi segalanya untuk anak itu.
XyRa tak ingin ada drama cemburu antara adik dan kakak sebab ia maupun Axel menyayangi keduanya tanpa membandingkan.
"Nanti kalau Mamih bobo capean, gantian Abang yang jagain ya," kata Sean yang senang bisa masuk kedalam dekapan Mamih nya dengan leluasa sebab tak ada perut besar yang menghalangi.
"Tentu, nanti Abang bisa ambilkan baju dan popok dede bayi ya," jawab XyRa.
Ternyata, obrolan seperti ini saja sudah sangat menyenangkan bagi Sean yang merasa tak di abaikan di hari pertama ia menjadi seorang kakak. Padahal, dulu Sean akan berpikir Mamih nya akan sibuk mengurus Si bayi hingga tak perduli lagi dengannya. Tapi Sean justru salah besar, Mamih malah mengajaknya untuk sama-sama menjaga makhluk lucu itu dan sudah Sean bayangkan betapa menyenangkannya itu nanti.
Ya, dari pada harus membagi waktu yang tentunya sulit, alangkah baiknya dilakukan bersama karna itu akan jauh membuat mereka dekat dari pada harus satu satu. Lagipula Si bayi yang cukup lumayan anteng itu tak akan sepenuhnya mengganggu Quality time antara XyRa dan Sean nanti, ada Axel juga yang akan mendapat peran penting dalam drama baru keluarga mereka.
"Lilin gak punya adek ya?" Ledek Angkasa cekikikan diatas pangkuan Unclenya. Kini, bagaimana pria itu mau punya anak jika tiga krucil saja sudah membuat kepalanya hampir pecah setiap hari.
"Biarin!" sahut Si bungsu.
"Abang punya Aa, Aa punya Lilin, Lilin punya siapa?" ledek nya lagi menyebalkan.
"Punya..... " tatapannya kini beralih pada dua kembar yang lain.
"Shaka punya Sky," sahut Fajar.
"Sky punya Abang," sambung Angkasa semakin menyebalkan.
Lintang pun mencari sosok Sang Ayah yang nyatanya sedang bersembunyi di balik punggung istrinya.
"Nah, kan. Kalau bahas adek pasti lari ke Ayahnya," kekeh Mhiu yang hapal betul dengan kelakuan cucunya tersebut.
"Iyalah, masa cari aku?" sambung Samudera yang akhirnya mengundang gelak tawa semuanya.
Lintang yang selalu menjadi warna dalam setiap suasana, membuat hiburan tersendiri bagi keluarga Rahardian jika sedang berkumpul.
"Ayaaaaah, Lilin mahu bayi, Ayo di cekot bayinya. Jangan lama-lama taro Kelanjang kuningnya," Rengek Lintang yang membuat suasana semakin riuh.
"Udah cekout juga gak bisa langsung di anter, Lin," sahut Keanu yang punya seribu satu alasan untuk Si bungsu.
"Mang apa?"
"Kurirnya libur, ganteng."
Di terima atau tidak, yang penting pria tampan mantan kurir paket itu sudah beralasan pada anak bungsunya. Mereka padahal sudah berusaha, tapi Mak othor enggan mengabulkan karna Stok nama mulai menipis.
Satu hari bersama keluarga besar yang begitu hangat, akhirnya mereka satu persatu pamit pulang termasuk Amih yang sudah sibuk sejak awal Sang putri masuk rumah sakit.
Kini, hanya tinggal Axel dan XyRa sebab Sean sudah tidur di ranjang lain khusus keluarga yang menunggu.
"Bawa sini dedenya, Mas. Aku sampe gak kebagian gendong saking banyaknya Aunty yang gantian," ujar XyRa meminta Axel untuk membawa putra mereka dari box bayi.
"Ugh, anak Mamih nih, yang suka salto dalam perut, iya?" sambungnya lagi yang teramat senang memainkan hidung Si mungil yang putih bersih.
"Senyumnya mirip Abang banget ya, Mas."
"Hem, iya. Gimana soal nama?" tanya Axel yang belum juga memutuskan salah satu dari yang mereka pilih.
"Siapa? Aku atau kamu?" XyRa balik bertanya dengan tatapan menantang.
"Aku, kan aku yang ngidam!" sahut Axel mencibir.
"Bawa dia selama 9bulan berat loh, Mas," balas XyRa tak mau kalah malah dengan dengan memasang raut wajah menyedihkan yang terlihat justru sangat menggemaskan.
"Ya udah, kita tanya Abang aja biar ADIL."
Keduanya malah terkekeh bersama, Axel harus rela kedua daging kenyal kesukaannya kini di lahap habis oleh putra keduanya tersebut. Pria itu sekarang begitu banyak berbagi hingga ia takut sendiri XyRa akan lupa padanya kelak saking sibuknya mengurus Si dua jagoan.
Terlebih, Sang istri tak berminat memakai jasa pengasuh seperti orang lain kebanyakan. ART di rumahnya memang cukup jika harus sekedar membantu tapi untuk lepas mengasuh rasanya XyRa tak berani sama sekali, bukan tak percaya hanya saja ia ingin menghabiskan waktunya bersama Sang buah hati. Ia juga percaya Axel dan Sean akan turut menjaga malaikat kecil mereka bersama sama.
Dan, sebuah nama pun akhirnya jatuh pada Si sulung. Axel dan XyRa akan melibatkan Sean untuk memilihkan nama adiknya dari pada dua orang dewasa itu terus berdebat tak ada yang mau mengalah dan terus saling ungkit tentang peran dan pengorbanan mereka selama 9 bulan .
"Kamu mau full ASI, Mih?" tanya Axel yang sudah resmi memuasakan Si Ulat bulu jumbo kebanggaannya.
"Tentu, 2 tahun," jawab XyRa sambil tersenyum bangga.
ASI yang berlimpah dan waktu yang full untuk anak anak tentu membuatnya yakin dengan keputusan tersebut meski itu semua tentu sudah di rundingkan bersama. Sebab, Sang suami juga berperan penting dalam lancarnya Air susu ibu tersebut.
"Aku? gimana?" tanya Axel sambil menunjuk batang hidungnya sendiri dengan jari telunjuk.
"Kamu kenapa?" XyRa yang tak paham balik bertanya dengan tatapan aneh.
"Akupun harus puasa dua tahun?, begitu kan maksudmu!"
XyRa pun langsung tertawa karna mengerti dengan kalimat puasa yang terlontar dari mulut suaminya.
Tapi, Axel tentu hanya bercanda, di sela suasana yang seperti ini obrolan santai sangat penting bagi Si busui agar lebih rileks, semakin nyaman dirinya akan semakin berlimpah juga ASI yang keluar serta pulihnya kondisi usai melahirkan kemarin.
.
.
.
Axel yang baru datang dari ruang dokter langsung menghampiri XyRa yang baru saja selesai sarapan di temani Amih dan Sean juga.
Wajahnya terus mengembangkan senyum yang membuat pria itu semakin tampan di usia dewasanya. Mungkin siapa pun tak akan percaya jika ia adalah pria beranak dua sekarang.
"Kapan aku boleh pulang, Mas?" tanya XyRa.
"Besok pagi, Sayang."
Axel menjawab dari sisi box bayi dimana putranya berada, wajah mungil menggemaskan itu seolah tak pernah bosan untuk di pandang.
"Hari ini gak bisa?" tanya XyRa lagi yang di jawab gelengan kepala.
Ada beberapa pemeriksaan yang harus di lakukan XyRa dan bayi mereka hari ini, jadi dokter menyarankan untuk mereka pulang esok pagi, dan XyRa akhirnya pasrah padahal ia sudah tak nyaman sama sekali.
Sebagus dan semewah apapun tetap saja rumah sakit, berbeda dengan rumah sendiri meski sederhana sekalipun.
"Tak apa, ada Amih yang menemani," ucap wanita paruh baya tersebut yang ada dengan berbagai makanan dan cemilan.
Tapi, nyatanya, tak hanya Amih yang datang lagi berkunjung dan menemani karna Maya pun melakukan hal yang sama hari ini, ia datang bersama perawat pribadinya sebab ia belum berani memperkenalkan Rian ke hadapan Sang putra.
"Selamat ya, aku turut senang," ucap Maya dengan seulas senyum di ujung bibirnya.
Meski Maya sudah menikah lagi, tanggung jawab pengobatan tetap pada XyRa dan Axel, mereka tak mau membebani Rian yang mungkin saja jadi masalah bagi rumah tangga mereka kelak karna ini bukan biaya yang sedikit. Jika bukan keluarga Rahardian mungkin akan berpikir lagi untuk bertanggung jawab hingga sembuh total yang artinya kembali bisa berjalan seperti biasa.
"Aku baik, kontrol dan terapiku lancar selama ini," jawab Maya sambil menoleh ke arah Sean.
Anak itu tak beranjak sama sekali dari sisi XyRa meski ada ibu kandungannya yang datang. Sean sangat nyaman sebab sikap dan prilaku Sang ibu kandung tak berubah sama sekali, XyRa benar-benar menepati janjinya entah pada Sean, Axel dan juga dirinya sendiri.
"Semoga lekas sembuh ya, Mbak. Doa kami selalu menyertaimu dalam proses penyembuhan ini," lanjut XyRa yang masih saja merasa sangat bersalah.
Bukan karna perkara wanita itu adalah ibu putra sambungnya tapi ia tak bisa membayangkan jika hal yang jauh lebih fatal terjadi. Ia tentu tak sekuat Axel saat harus melakukan sebuah kesalahan dengan cara menghilangkan nyawa seseorang meski tak di sengaja.
Maya yang tak lepas menatap Sean akhirnya meminta anak itu mendekat, ia rindu putranya dan itu sangat wajar mengingat keduanya jarang sekali bertemu, saat melakukan Video call saja hanya bebeberapa menit saja mereka mengobrol itupun tak pernah bertatapan mata.
"Abang, Mamih Maya minta peluk, Ayo."
"Abang ngantuk, Mih," jawabnya dengan rengekan manja seperti biasa, padahal jelas kini ia bukan Si tunggal melainkan Si sulung.
Axel yang sedari tadi ada di sofa hanya tersenyum simpul, entah apa yang membuat anak itu sama sekali tak mau dengan ibunya padahal Maya sempat mengurus Sean meski hanya beberapa bulan.
"Ya sudah, Bobo deh," jawab XyRa sambil mencium pucuk kepala Sang putra. Ia tak berani memaksa karna takut Sean justru salah paham menyangka jika XyRa tak lagi menyayanginya dan ingin menyerahkan pada Maya.
Padahal, niat hati wanita itu adalah mendekatkan keduanya sebab XyRa paham posisi Maya yang tak lain karna mereka sama-sama seorang ibu dari seorang putra.
"Tak apa, jangan di paksa. Melihatnya begini saja aku sudah bahagia," ujarnya meski dengan senyum getir.
Hati ibu manapun akan mencelos melihatnya tapi Maya cukup tahu diri dan ia sadar jika tak semua bahagia harus bersama. Contohnya sekarang, selagi Sean masih mengakuinya itu sudah lebih dari cukup karna anak itu adalah tanggung jawabnya hingga hayat.
.
.
.
Beberapa hari di rumah sakit akhirnya kini saatnya keluarga bahagia itu pulang ke kediaman Rahardian, mereka lagi dan lagi di sambut oleh keluarga yang menunggu terutama ArXy yang begitu senang mendapat keponakan lagi setelah Sean tentunya.
"Langsung saja ke kamarmu ya," titah Amih yang mengambil alih cucunya dari gendongan XyRa.
"Iya, Mih."
Sean yang baru datang langsung di ajak main oleh ArXy, segalak dan secuek apapun pria itu akan selembut sutera jika sudah berhadapan dengan malaikat kecil.
Kamar yang selama ini di isi oleh XyRa dengan gaya minimalis yang rapih bernuansa serba putih kini berubah karna adanya Si bayi yang belum terdengar menangis. Tubuh mungilnya begitu nyaman di gendongan siapapun yang mendekap penuh kasih sayang.
"Kalian sudah kasih nama?" tanya Amih saat sudah di kamar.
"Terlalu banyak pilihan, aku dan Mas Axel sampai bingung dan berdebat," jawab XyRa yang kali ini sampai terkekeh karna ingat bagaimana ia dan Sang suami saling membanggakan diri.
"Lalu?"
"Entah, pilihan jatuh pada Sean. Biar dia yang memilih nama untuk adiknya, Mih."
"Apa Axel tak keberatan dengan nama belakang putra kalian jika memakai nama keluarga Rahardian?" tanya Amih lagi, ini juga sempat menjadi perundingan keluarga besar sebab Axel berasal dari kalangan biasa.
"Iya, Mih. Gak apa-apa, suamiku tak keberatan dengan hal tersebut," jawab XyRa.
Cek lek
Pintu di buka oleh Sean dan Axel yang masuk kedalam kamar, ini adalah kesempatan bagi mereka juga bertanya pada anak itu.
"Abang, Mamih dan Papih belum memberikan nama untuk Adikmu, Abang punya ide untuk itu?" tanya XyRa.
Ya, sengaja XyRa yang bertanya agar Sean berpikir jika ia benar-benar tak di abaikan dan tetap di libatkan dalam segala hal.
"Abang yang kasih nama?" tanya Sean memastikan dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Mamih dan Papihnya.
Sean yang tampan dengan senyum mirip sekali dengan adiknya lantas cepat berpikir, hal ini tentu tak pernah ia bayangkan sama sekali, sebuah nama untuk Sang adik tentu tak akan sama dengan nama yang biasa ia berikan pada mainannya.
"El, nama dede bayinya, El ya."
XyRa, Axel dan Amih langsung saling pandang, ketiganya tersenyum lalu mengangguk tanda setuju.
Nama yang di berikan Sean tak terlalu buruk, bahkan terkesan singkat sesingkat sibgkatnya tak seperti nama keturunan gajah yang lain yang seakan mirip kereta api.
"Hehe, bagus gak?" tanya Sean malu malu bahkan kini wajahnya sudah merah merona.
"Enggak kok, nanti malah Mamih panggilnya jadi cepet. Iya, kan, Pih?" tanya XyRa pada suaminya.
"Tentu, Terima kasih ya, Bang."
Sean langsung di peluk oleh kedua orang tuanya, hal tersulit bagi mereka yang harus menjaga perasaan Si sulung.
..
Nama El tentu hanya sebuah nama panggilan, sebab ada nama lain yang akhirnya di rundingkan kembali oleh XyRa dan Axel dengan tetap ada nama belakang Rahardian Wijaya.
"Tetaplah menjadi cantik, tapi jika ingin ada saingan boleh juga," goda Axel dengan menaik turunkan alisnya.
"Anakmu baru berapa hari ini, Mas!" XyRa yang paham dengan apa yang di katakan suaminya langsung mendelik.
"Ya, nanti, kalau udah besaran dikit, Mih."
Axel yang ingin punya 5 anak hanya bisa membuat XyRa membuang napas kasar, pria yang terlahir tunggal itu memang tak ingin keturunannya merasa kesepian seperti dirinya yang semua di telan sendiri tanpa bisa berbagi suka dan duka.
Sedangkan XyRa tak pernah mengiyakan dan menolak keinginan Axel, untuk anak pertama ini saja cukup beberapa waktu hingga akhirnya ada dalam rahimnya. Sebanyak apapun anugerah yang di titipkan akan ia Terima dengan tangan terbuka, tapi jika di telisik dari keturunannya tak pernah lebih dari 3 dan itupun terlahir kembar dan tak ada adik setelahnya, sama seperti dirinya yang kini menjadi Bungsu dari dua bersaudara yang lahir kembar juga.
"Jalani saja, kalau hamil lagi ya tinggal lahirin," jawab XyRa sambil tersenyum.
El yang menggeliat seolah memberi kode jika ia ingin di gendong, XyRa yang mulai bosan di kamar pun akhirnya keluar dan ini adalah kesempatan bagi XyRa membiarkan Sang suami menyelesaikan pekerjaannya dari rumah.
Nona muda yang kini ada di ruang tengah di hampiri Aunty Ola, adik dari Apih. Wanita bercadar dengan gamis coklat tua itu langsung mengambil El dari gendongan Sang keponakan.
"Amih dan Apihmu sudah ada niat untuk syukuran. Katanya di 25 panti asuhan dan beberapa tempat di pinggiran kota," Ucap Aunty Ola.
"Kayanya sih, tapi aku belum tanya lagi karna aku cuma denger Apih bicara sama Mas Axel," Jawab XyRa yang memang tak tahu pasti akan hal ini, ia serahkan semuanya pada suami dan keluarganya saja sebab tugasnya cukup mengurus anak-anak.
Berbagi kebahagiaan bersama yang kurang mampu atau kurang beruntung dalam soal keluarga adalah hal biasa bagi mereka, bahkan bukan saat merasa suka cinta saja.
"Ya, kami sudah siapkan tapi baru sebagian. Nanti habis ini Aunty dan Mhiu akan pergi ke toko kue untuk pesan disana," jelasnya lagi yang nampak gemas dengan El.
Dan belum juga XyRa menimpali Mhiu Biru dan Embun datang seperti sudah siap untuk pergi.
"Mau sekarang?" tanya Aunty Ola.
"Iya, biar nanti sekalian ke yang lain kalau ada waktu," jawab Mhiu Biru.
Jika sudah mengurus hal ini, biasanya mereka akan punya tugasnya masing-masing, bak menyelam sambil minum air semua akan bahagia karna sembari shoping sebab di tangan ada kartu ajaib yang tak berbatas.
XyRa bersyukur dalam hati, ia tak merasa sendiri dalam segala hal sebab keluarganya benar-benar ada untuknya dalam segala hal dan ini malah yang membuatnya enggan pulang lagi ke kota tempat ia kemarin ikut dengan sang suami. Andai Axel mau pindah, mungkin kebahagiaannya akan terasa semakin sempurna.
.
.
.
Acara untuk Baby El pun terlaksana, semua keluarga berkumpul dulu di rumah utama seperti biasa karna bangunan megah itu adalah tempatnya semua pulang.
El yang sudah tampan langsung menjadi pusat perhatian, ia seperti bola yang di oper sana sini saking semua gemas pada bayi berpipi bulat itu.
"Jangan cium cium terus, nanti harumnya habis!" Sean yang begitu sayang adiknya mulai protes.
Angkasa yang melihat itu membawa Sean ke lantai dua.
"Yuk, kita main," ajak sulung Lee Rahardian Wijaya.
"Main apa?" tanya Sean dengan tangan masih di tarik oleh Angkasa, ia yakin itu Angkasa sebab lain dari Fajar yang kalem dan Lintang yang cengeng.
"Kita bangunin Si Lilin." jawab Angkasa sambil terkekeh.
Saat di lantai Atas, Angkasa langsung membuka pintu kamar Sang Tuan besar, ada Lintang disana yang meringkuk dengan memeluk bantal guling, aneh terasa karna anak itu tak heboh saat tahu ada acara di rumah utama karna biasanya ia yang justru sibuk saat keluarga besarnya berkumpul.
"Lin, bangun," bisik Angkasa pada adik bungsunya.
"Lilin, bangun, ayo cepatan," lanjutnya lagi sambil cekikikan.
"Apa? Lilin masih mimpi," sahutnya dengan mata terpejam.
"Mimpi apa?" tanya Sean.
"Tejal-tejal Monster yang mau macup Nelaka Lilin."
Angkasa pun langsung tertawa tapi Sean hanya tersenyum simpul, entah benar atau tidak yang jelas anak itu semakin menggemaskan meski dalam keadaan tidur.
"Abang Asha, jangan gangguin Lilin bobo, kasihan. Nanti nangis loh," ujar Sean yang takut di marahi karna ia tahu bagaimana jika anak itu sedang merajuk.
"Gak apa-apa, biar dia masukin neraka orang-orang yang ciumin El," kata Angkasa yang tahu jika sepupunya itu sedang kesal.
Sean mengernyit dan ingat kembali jika dari pagi ia malah belum mencukupi adiknya itu. Napas kasar pun di buang oleh bocah tersebut saking kesalnya.
Sedangkan XyRa yang baru sadar tak melihat Sean langsung bertanya pada suaminya.
"Mas, Abang kemana?"
"Belum liat, mungkin main sama yang lain," Sahut Axel yang sedang berbincang dengan Leo, suami Aunty Ola yang punya dua surga dalam hidupnya hingga detik ini.
XyRa pun mengedarkan pandangan, sulit rasanya jika harus mencari anak itu seorang diri jika tak di bantu dan bertanya mengingat bangunan tersebut sangat luas, akan Perlu waktu satu hari untuk memutarinya dengan teliti.
Hanya ada beberapa keponakannya yang ia lihat ada dan sedang bermain, tapi dua lagi belum berhasil ia temukan yaitu Angkasa dan Lintang, ada rasa ingin kekamar Phiu Samudera tapi hati segan untuk kesana. Dan akhirnya XyRa memutuskan untuk kembali ke lantai bawah.
Langkah kakinya langsung menuju Amih yang sedang memangku El, bayi itu tak terdengar menangis meski banyak yang menggodanya. Sepertinya ia paham dan sudah tahan banting jika harus kuat berada di tengah keluarga yang nyatanya kini semakin banyak, sebab tak hanya Rahardian tapi juga ada Biantara, pradipta dan Bramasta.
"Rewel gak, Mih?" tanya XyRa yang kini duduk di sisi Amih.
"Enggak, Sayang. Sean mana?" Amih balik bertanya karna tak melihat anak itu.
"Gak ketemu, Mih. Tapi Abang Asha sama Lilin gak ada, mungkin mereka main bertiga," jawab XyRa yang hanya menebak.
"Tapi Lilin lagi tidur katanya," Sahut Rindu yang memang ada bersama dengan anak dan ibu tersebut.
"Tidurnya dimana?" tanya XyRa dan Amih berbarengan.
"Di kamar Phiu."
XyRa yang memang ingin ke sana langsung mengurungkan niatnya karna memang segan menghampiri ruangan tersebut.
Tapi, belum juga XyRa menimpali, tiga krucil datang sambil berlarian menghampiri XyRa dan lainnya, hal yang sama pun di lakukan oleh Axel yang juga mendekat ke arah Sang istri yang kini menggendong El.
"Lilin mahu liat bayinya dong," pinta Lintang sambil berjingkrak.
"Yakin cuma liat?" goda Axel yang senang meledek Lintang bahkan sampai menangis.
"Cium dikiiiiiiiiiiit aja, boleh?" tawarnya sambil senyum senyum dan langsung mengundang gelak tawa semua yang ada disana.
"Lilin kan belum kenalan tau, El dah tahu belum kalau ini Lilin?" tanyanya yang mulai heboh sendiri, efek kesadarannya sudah terkumpul.
"Oh, ini kakak Lilin ya?"
"Lilin jadi kakak? Ini udah cekot? Ayaaaaaaaaaaaaah, buluan bayi Lilin kirim," Teriak anak itu dan dalam hitungan detik Sang Tuan besar Lee langsung menghilang.
Axel yang senyum melihat kelakuan Lintang yang mulai dengan drama Perbayiannya di keranjang kuning.
"Mas, El harus ada nama lengkapnya sekarang, kamu udah ada namanya belum?" tanya XyRa saat suaminya memainkan pipi anak keduanya tersebut.
"Sudah, kenapa? Mau ku umumkan sekarang, hem?" tanya Axel dengan senyum yang membuat hati wanita itu damai dan tenang.
"Tentu, terserah padamu saja, asal ada nama keluargaku," kata XyRa yang akhirnya pasrah. Ia serahkan semua pada Axel dan Sean.
.
.
.
RaXel Rahardian Wijaya.