
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Samudera yang masih menggendong cucu kesayangannya itu pun hanya bisa tertawa kecil, ia tak pernah marah apapun yang di lakukan oleh para malaikat di rumah utama termasuk Lintang yang sering menangis. Si cengeng yang selalu di buat kesal oleh adik sepupunya sendiri.
"El cuma bercanda, Sayang," kata Phiu merayu agar Lintang berhenti menangis.
"Dia nda boleh ajak Phiu pelegi," sahut Lintang masih terisak.
Sedangkan El masih cekikikan sendiri, ia begitu senang menggoda sampai rasanya tiada hari yang ia lalui tanpa ada nama Lintang terselip di otaknya.
Mendengar ada kerusuhan, Amih pun datang. Ia sudah bisa menebak apa yang di lakukan cucunya tersebut.
"Lilin kenapa, Sayang?" tanya Amih sambi mengusap punggung Si anak tampan yang kepalanya ia letakkan di cerul leher Sang tuan besar Rahardian.
"El bungkus sana, buang gih ke kandang ulel," titah Lintang yang kesal.
Andang Jajah, buweh?
"Jangan dong," kali ini Phiu yang langsung menyahut.
"Tumben bukan ke Nelaka?" goda Amih yang langsung memegang tangan mungil El.
"Nda! Nelaka nda mahu sama El."
Cugaaaaa yuk Cugaaaa, Piuuuuh...
"Tu taaaaaan, ajak ajak Phiu Lilin lagi Si anak kecil."
.
.
.
"Mau nginep disana?" tanya Axel sambil terus fokus pada jalan di depannya.
"Enggaklah, kasian Lintang ntar nangis terus," sahut XyRa yang sudah tahu bagaimana kelakuan dua bocah tersebut.
"Hem, bener. Sekarang juga pasti lagi nangis," kekeh Axel, awalnya XyRa hanya menoleh tapi suara tawa kecil suaminya malah membuat wanita itu tersenyum.
Hari ini, ya sampai hari ini begitu banyak yang mereka lewati bersama. Mulai dari pernikahan mendadak, jangan kan saling cinta kenal pun tidak. Jangan kan mereka, orangtua pun sama tak kenalnya, sebab ini bukan menikah karna di jodohkan.
"Kenapa? kok liatin akunya kaya gitu, Mih?" tanya Axel aneh, maski ia sedang memegang kendali setir tapi ia sadar dengan tatapan mata istrinya.
"Apa jadinya aku tanpamu, Pih? apa ini jawaban atas takdir yang saat itu membuat ku tak mampu untuk menolakmu?" tanya XyRa yang langsung matanya berkaca-kaca.
Ya, mungkin XyRa akan dan masih terpuruk dengan rasa patah hati karna ditinggal meninggal oleh pria yang teramat di cintainya tersebut, tapi untungnya semua tak terjadi karna Tuhan langsung mengirimmya seorang pengganti yang tak kalah meratukan XyRa dalam hal apapun itu, terutama mencintai dan menjadikannya satu-satunya tak hanya di hati tapi juga dalam hidupnya.
"Dibalik semua musibah termasuk rasa kehilangan pasti ada hikmahnya, Sayang," sahut Axel yang memelankan laju kendaraan hingga perlahan mobilnya menepi padahal mereka sudah hampir sampai kurang lima menit lagi.
"Dan kamu adalah pelangi setelah hujan badaiku, begitu?" tanya XyRa, air matanya yang jatuh di pipi di hapus pelan oleh Sang suami dengan tangannya sendiri.
Axel yang tersenyum sambil mengangguk ka kepala langsung melepaskan Seatbelt untuk meraih tubuh langsing istrinya, pelukan hangat pun sangat terasa bagi pasangan suami istri yang kenal dan mencoba menerima kehadiran satu sama lain setelah janji suci pernikahan telah di ucapkan.
.
.
.
.
Saat kamu meminta pada Tuhan yang terbaik, terkadang kamu harus menerima kehilangan yang menurutmu justru baik demi di gantikan ke yang jauh lebih baik...