Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 44


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂.


"Mamih---, Sean kaget," ucapnya sambil memegang dada.


XyRa yang tahu putranya tadi ada di kamar Maya memang sengaja bersembunyi saat Sean hendak keluar dan kembali ke kamarnya, ia hafal betul memang kebiasaan XyRa yang selalu membangunkannya setiap pagi.


Dan karna itu jugalah, Sean terpaksa bangun lebi awal demi bisa bertemu dengan Mamih Maya tanpa sepengetahuan ibu kandungnya. Semua anak itu lakukan demi menjaga perasaan wanita yang sudah mengisi rasa sepinya. Padahal, Sean pun hanya ingin meminta maaf karna tanpa di sadari ia pun turut terlihat dalam kejadian tersebut .


"Loh, memang kenapa?" tanya XyRa yang berjalan mendekat, salahnya wanita itu memang tak mengetuk pintu lebih dulu.


Sedangkan Sean yang juga baru masuk dan naik ke ranjang belum sempat memainkan drama pura-pura tidurnya.


"Enggak, Miiiih," jawab Sean tertawa geli karna XyRa langsung menciumi kedua pipinya juga.


Perasaan bocah tampan itu jauh lebih lega saat ini, ia harap Mamih Maya mengerti jika Mamih XyRa nya tentu tak sengaja melakukan hal tersebut.


"Tumben sudah bangun?" tanya XyRa yang akhirnya mau tak mau ikut dalam drama yang di mainkan putranya.


"Ini baru, mau mandi terus sekolah," jawab Sean.


"Anak pintar, ya sudah Sean mandi ya, nanti pulang sekolah ikut Mamih dan Papih ke rumah sakit," ucap XyRa yang belum rela melepas kan pelukannya.


"Ngapain? obatin Mamih Maya?"


"Enggak, periksa Mamih, Sayang," jawabnya yang kadang hatinya mencelos saat ada Mamih lain yang di sebut Sean.


"Mamih sakit juga?"


"Cuma periksa saja, Mamih baik-baik kok. Jangan khawatir ya, ganteng," mohon XyRa, ia tahu Sean langsung panik setelah tahu bahwa dirinya lah yang bertujuan ke rumah sakit.


.


.


.


Masih sedikit ada rasa takut dalam hati wanita itu hingga kini sampai entah kapan terpaksa akan meminta supir yang mengantar.


Padahal, dari semua keturunan gajah tak ada yang betah jika harus duduk manis di kursi penumpang. Bukan hanya tak nyaman tapi mereka cukup tahu diri sering banyak mampirnya kesana sini sesuka hati.


"Pamit dulu pada Mamih Maya, Sayang," titah XyRa pada Sean setelah ia sudah siap tinggal berangkat.


"Iya, Mih." bukan Sean namanya jika tak menurut, ia paling pantang untuk membuat ibu sambungnya itu kecewa sebab saking takutnya kehilangan.


"Mih, Sean berangkat sekolah dulu ya, nanti pulangnya langsung ke rumah sakit, Mamih Maya jangan tungguin ya," ucapnya yang malah langsung membuat Maya menoleh kearah XyRa.


Niat hati ingin pamit nanti saat menjemput pun urung di lakukan karna Sean sudah terlanjur mengatakannya lebih dulu. XyRa yang tertawa kecil malah membuat Maya semakin penasaran.


"Ada apa? kamu sakit?" tanya Maya.


"Sehat kok, Mbak. Cuma mau kontrol aja, biasalah," jawab XyRa sambil tersenyum simpul.


"Syukurlah."


"Kami pamit dulu, Mbak. Hati-hati di rumah dan cepat minta perawat untuk hubungi aku jika ada apa-apa ya," pesan XyRa penuh perhatian karna Maya masih tanggung jawabnya dan Axel selama wanita itu belum sembuh total.


Maya hanya tersenyum sambil mengangguk paham, perawatnya memang punya nomer ponsel XyRa untuk keadaan darurat sebab ponselnya entah kemana sejak kecelakaan itu beserta dompet dan yang lainnya. Keduanya berpisah di ruang tamu setelah Sean mencium takzim punggung tangan ibu kandungnya dan memberi satu ciuman di pipi juga yang tentunya atas izin XyRa. Begitupun dengan dua wanita dewasa tersebut yang berpelukan sekilas sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Maya hanya bisa memberi senyum tulusnya sambil terus menatap punggung XyRa dan Sean yang berjalan sembari saling menggenggam tangan.


.


.


.


Betapa beruntungnya Axel dan Sean memilikimu XyRa....