
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Saat semua sudah kembali normal seiring sembuhnya XyRa, kini aktifitas pun berjalan seperti semestinya meski Axel tetap memohon agar istri tercinta banyak banyak istirahat saja.
"Kalau aku diem, pinggang ku sakit, Pih."
"Tapi aku cuma khawatir, aku harap kamu tak lupa dengan apa yang di katakan dokter, Sayang," jawab Axel, entah ini perdebatan yang ke berapa kali semenjak mereka pulang dari rumah sakit satu minggu yang lalu.
"Kamu tenang saja, yang ku urus itu kan suami dan dua anakku, tubuhku tahu akan itu, Pih. Kamu tahu kan, jika aku senang melakukannya," balas XyRa tak mau kalah
Perihal dua jagoannya, ia memang kerap membantah jika di minta untuk tak terlalu sibuk, tapi bukankah wanita itu suka anak anak jauh sebelum menikah? bahkan Si kembar pun pernah ia urus dengan senang hati saat bayi dulu.
"Aku hanya mengingat kan, Sayang. Karna aku sangat mencintaimu, tak ada yang lebih membuatku sakit dari pada melihatmu terkulai tak berdaya seperti kemarin. Duniaku serasa hancur, Mih. Aku tak ingin itu terulang. Berikan rasa sakitmu padaku ya," ucap Axel sambil menangkup wajah cantik yang tak lagi pucat istrinya.
Bukan tak tahu, Axel sering memergoki XyRa entah hanya mendengar isak tangis atau melihat wanita kesayangannya itu melamun lalu menyebut nama mantan kekasihnya.
Cemburu?
Pastinya, sebab Axel punya cinta yang teramat luar biasa dan hebat pada ibu kedua anaknya. Tapi Axel memilih untuk diam menanggap tak pernah tahu apapun, meski hatinya kian terasa tercubit.
Tak apa, toh saingannya kini sudah beda alam dan pastinya sudah tenang berada di sisiNya. Tak ada yang harus di khawatirkan oleh Axel meski nyatanya tempat Dave di hati XyRa selalu spesial dan tak pernah bergeser sekalipun olehnya.
Dave juga bukan orang lain bagi Axel, jika ia bisa bersimpuh mungkin ia akan lakukan itu di hadapan sepupunya sembari mengucapkan banyak terima kasih karna sudah menjaga jodohnya dengan sangat baik dan pastinya masih tersegel rapi.
.
.
.
Ayo Miiiih, ama ama banet.
Keluhan yang terlontar dari bibir Si mungil itu entah yang ke berapa kali yang jelas bocah tersebut tak lagi sabar menunggu Mamihnya merapihkan diri.
"Nanti ya, El." XyRa sampai gemas melihat putranya itu merengut.
Udah tantik, Miiiih...
XyRa yang dipuji hanya tergelak sendiri, jika begini ia mirip sekali dengan Papihnya. Tak tega pada El akhirnya XyRa membawa cepat anak itu keluar dari kamar menuju ruang makan tempat dimana suami dan Sean menunggu untuk sarapan pagi yang kemudian lanjut ke sebuah tempat yang tak lain adalah sekolah Si kembar 3.
"Aduh, gemoy banget, El."
Ma'acih Papih Danteng.
Axel yang memuji malah tertawa, kata ganteng memang selalu tersemat padanya entah mulai dari kapan dan sampai kapan karna nyatanya El tak mau di bilang seperti itu, ia hanya ingin di sebut Gemoy oleh orang-orang.
"Sama-sama, Sayang. Tapi El juga ganteng. Mau kemana sih?" tanya Axel, yang tahu bagaimana karakter El pasti senang melayangkan banyak pertanyaan sebab ia selalu dengan senang hati menjawabnya.
.
.
.
Itut Yiyin ma Piuuh ke Cuugaaaaaa