
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ternyata, ada bonus khusus yang mereka lakukan di dalam kamar mandi, Axel tak kuat saat melihat istrinya tersenyum sambil menatap kearah ulat bulu yang benar kata XyRa sedang tak jumbo melainkan imut imut ingin kembali di manjakan.
Permainkan kedua berakhir singkat karna tak ada waktu banyak lagi, mereka membersihkan diri sebelum akhirnya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Seperti biasa, XyRa akan mengantar Axel sampai pintu utama depan rumah mereka sebab biasanya mobil sudah disiapkan lebih dulu oleh supir yang akan mengantar sampai ke kantor. Masih banyak pertimbangan yang membuat pria itu belum memutuskan untuk mau kembali ke ibu kota, terlebih mengurus perusahaan milik XyRa yang sudah lama di wariskan pada istrinya tersebut.
Ucapan dan kata pamit serta ciuman kasih sayang sudah biasa mereka lakukan, tapi tentunya hanya sebatas cium kening saja meski kadang Axel juga iseng dengan mencium sekilas pipi XyRa.
"Hati-hati dijalan ya, Mas," pesan Sang istri yang langsung di iyakan.
"Aku akan menghubungimu jika sudah sampai," balas Axel.
"Iya, Mas."
Keduanya pun berpisah dan XyRa baru akan masuk kedalam rumah setelah memastikan suaminya sudah benar-benar hilang dari pandangan.
Kini, langkah Nona muda Rahardian itu bergegas menuju tangga, ia akan ke kamar Sean untuk melihat aktivitas putranya.
Cek lek
XyRa masuk setelah tiga kali mengetuk pintu, tak adanya jawaban dari dalam membuatnya curiga dan khawatir.
"Sean, kamu tidur, Nak?" XyRa yang duduk di tepi ranjang mengusap kepala Sean dengan lembut.
"Hem, ngantuk, Mih," jawabnya seperti mengguman.
XyRa terkekeh pelan, kamarnya memang terlihat sangat berantakan pertanda jika sedari mereka pulang anak itu hanya asik bermain dalam kamarnya saja.
"Mau Mamih temani, Sayang?" tawar XyRa sedikit menggoda.
Sean tergelak dengan mata yang ia paksa untuk di buka tapi nyatanya kembali terpejam, Sean hanya menganggguk sambil tersenyum sebagai jawaban dari penawaran mamihnya barusan.
XyRa pun ikut naik keatas ranjang, ia peluk malaikat kecilnya yang ternyata sudah mendengkur halus, entah apa yang sedang dirasakan Sean tapi XyRa merasa putra nya sedang tak baik baik saja semenjak tahu ada Mamih lain untuknya.
.
.
.
Dan, suara ketukan pintu yang cukup nyaring membuat XyRa akhirnya bergeliat, ia yang baru mengerjap harus mengumpulkan kesadarannya dulu sebelum akhirnya turun dari ranjang. Dengan sangat pelan XyRa melepas pelukannya, ia tak mau sampai Sean ikut bangun mengingat anak itu begitu sangat mengantuk tadi, sebab Sean tentu sama seperti bocah seusianya ia akan rewel jika tidurnya tak terpuaskan.
"Ada apa?" tanya XyRa pada salah satu ART nya.
"Ada tamu dibawah, Nyonya."
"Siapa?" tanyanya lagi sambil berpikir keras karna seingatnya ia tak membuat janji dengan siapapun.
"Kakak Anda, Nyonya. Tuan ArXy," jawab Si Pelayan sedikit menunduk.
Mendengar nama kembarannya di sebut, XyRa hanya mengangguk, benaknya terus bertanya tanya tentang ada apa dan mau apa pria itu datang jauh jauh dari ibu kota kerumahnya.
XyRa yang selalu nampak cantik tak perduli dengan wajah bangun tidurnya, ia melangkah menuju lantai bawah stelah memastikan Sean masih tidur dan menutup pintu kamar anak itu dengan sangat pelan.
Dari jauh, Tuan muda Rahardian itu sudah tersenyum saat melihat XyRa melangkah semakin dekat kearahnya. Ini semua tentu karna ada udang di balik bakwan kenapa ia bisa datang menemui adik kembarnya tersebut tanpa berkabar lebih dulu.
Tapi, belum juga keduanya saling menyapa ArXy langsung di buat kesal dengan protesan yang di layangkan XyRa untuknya.
.
.
.
Kakak bau banget ih, Ooooeeekkk....