
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Kapan kesana? Abang mau main sama kembar banyak yang ada 5, Mih," pinta Sean yang syukurnya bisa langsung berbaur dengan para sepupunya.
Ada Angkasa, Fajar, Lintang, Shaka dan Skt, mereka bagai pandawa Lima dalam kerajaan Rahardian Wijaya.
Tak pernah membedakan pada siapa pun membuat Sean langsung di Terima maski awalnya ia sempat berkecil hati. Sean cukup merasa kurang percaya diri karna bukan siapa-siapa tapi kelucuan Lintang membuat ia penasaran dan akhir nya ikut berbaur bersama.
[Jangan tanya selisih umur mereka, karna yang bikin cerita lagi males ngitung.]
"Iya, nunggu Papih gak sibuk dan Abang libur sekolah, Ok." XyRa yang senang langsung mencium kening Sean setelah ia mengusap kepalanya lebih dulu.
"Ok, sabtu ini, boleh? nanti nginep satu disana, Mih," rengeknya yang seolah tak sabar dan membuat XyRa tertawa kecil.
"Mamih bicara dulu sama Papih ya, semoga Papih ada waktu."
"Papih jangan ikut, antar aja kalau sibuk."
Celoteh Sean nyatanya tak sampai disitu, ia malah meminta Mamihnya untuk menelepon Aunty Embun atau Aunty Qia, tapi pilihan jatuh pada Nyonya besar Lee.
XyRa hanya menemani dan mendengarkan Sean berbicara dengan si kembar 3, meski serupa tapi jika sudah dekat pasti akan bisa membedakan termasuk suaranya. Kadang, XyRa ikut tertawa saat para keponakannya sudah berebut ingin siapa dulu yang bicara tapi biasanya Si bungsulah yang jadi pemenangnya.
"Awas nih, Lilin mau ngomong. Alian mua diem ya. Galau bisik Lilin macupin Nelaka atu atu!"
Begitu lah suara Lintang, tapi jangan harap ada yang takut dengan ancamannya, sebab yang ada semua akan tergelak dan gemas ingin gigit andai saja dekat.
.
.
.
Ini jarang sekali terjadi, jadi tak salah jika XyRa begitu cemas dan menunggu kabar dari suaminya yang mengatakan jika urusannya sudah selesai dan bersiap untuk pulang. Sudah berkali-kali ia melihat layar ponselnya tapi sayangnya tak ada satupun notifikasi pesan dari sang suami, sedangkan XyRa tak berani untuk mengganggu terlebih pesannya saja belum terbaca dari sejam lalu.
Axel yang masih betah di perusahaan tempat ia bekerja memang belum menerima tawaran untuk mengambil alih jabatan sang istri. Padahal, gaji bulanan yang ia terima tak lebih besar dari uang jajan yang di berikan Apih untuk istrinya tersebut.
Cek lek
XyRa yang duduk sendiri di sofa langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka, dan satu detik kemudian ia tersenyum karna sosok yang di tunggulah yang datang.
"Mas, kok gak kabarin aku?" tanya XyRa sambil bangun dan berhambur kedalam pelukan sang suami. Ia yakin, dengan cara sederhana ini sudah bisa sedikit menghilang kan rasa lelah pria itu yang seharian sudah bekerja keras mencari nafkah untuknya dan Sean.
"Ponsel ku mati, Sayang. Maaf ya," jawab Axel yang merasa bersalah sebab sudah membuat istrinya menunggu dengan rasa cemas seperti ini.
"Hem, tak apa, tapi kok, kamu bau---," ujar XyRa sambil mengurai pelukan dan di sertai dahi yang mengernyit
"Aku kenapa? bau apa, Sayang?" tanya Axel yang malah menciumi kedua ketiaknya sendiri secara bergantian.
.
.
.
Bau DUREN.