
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
XyRa yang sudah bosan di rumah sakit dan ingin cepat pulang untuk berkumpul dengan keluarga membuatnya bertekad agar cepat sembuh. Jadi, yang seharusnya ia bisa pulang akhir pekan ini justru sudah di izinkan satu hari lebih cepat.
Kabar baik tersebut sengaja tak di beritahukan pada keluarga besar dengan niat ingin memberi kejutan saat mereka datang nanti. Tapi, keduanya lupa jika ada pasukan Gajah yang akan 24 jam memantau, jadi tak pernah ada kejutan bagi Sang Tuan besar Rahardian tentang segala hal yang terjadi pada keluarganya.
"Anak anak masih dirumah utama, Mas?" tanya XyRa saat sudah keluar dari ruang rawat inap. Ia yang duduk di kursi roda di dorong langsung oleh suaminya yang selama ini tak beranjak sama sekali.
"Iya, katanya El gak mau pulang. Tapi kalau kita sudah pulang mungkin dia pun akan pulang," jawab Axel.
XyRa terkekeh kecil, pasti ada alasan lain kenapa putranya tak ingin pulang kerumah mereka atau juga ke kediaman Rahardian tempat Amih dan Apihnya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Axel saat ia melihat senyum tersungging di ujung bibirnya.
"Hem, aku bayangin El pasti ribut terus sama Lilin, Mas."
"Katanya sih gitu, Sayang. Mereka rebutan Phiunya," jawab Axel yang tahu itu dari cerita Apih atau Sean.
Dan XyRa tak sabar ingin melihat langsung drama tersebut yang pastinya sangat menggemaskan. Ada hiburan tersendiri dari pada bocah yang ada saja tingkahnya. Mereka yang di limpahi banyak kasih sayang tumbuh jadi anak yang pintar dan lucu dalam segala keadaan.
.
.
.
Selama perjalanan pulang, XyRa masih bertukar pesan dengan Amih. Tapi ia tak mengatakan apa apa tentang kepulangannya. Wanita paruh baya itupun tak tahu sama sekali karna Samudera pun tak bilang apa apa pada keluarganya. Ia seolah paham dan ikut dalam drama kejutan keponakannya tersebut.
"Tunggu, aku dulu yang keluar ya," pesan Axel karna takut istrinya akan ikut turun bersamanya juga.
Pria itu turun lebih dulu dan membantu XyRa, rumah yang nampak sepi membuat hanya beberapa pelayan saja yang menyambut di pintu utama bangunan megah tersebut.
"Pada dimana?" tanya XyRa saat masuk.
"Di ruang tengah lantai dua, Nona."
"XyRa!"
"Mamih!"
"Onty!"
Semua yang melihat Sang Nona muda datang di gandeng oleh suaminya tentu membuat siapa pun tak percaya. Amih dan Sean langsung berhamburan memeluk orang kesayangan mereka tersebut.
"Kok gak bilang Amih?" tanyanya pada Sang menantu.
"XyRa yang minta, Mih," jawab Axel yang tentunya tak ingin di salahkan.
"Anak nakal."
XyRa yang terkekeh langsung memeluk anak sambungnya, ia baru ingat jika Sean lah yang punya firasat sejak awal tentang kecelakaan yang menimpanya dan Axel. Andai mereka lebih peka mungkin semua ini tak akan terjadi. Tapi ada hikmah dari segala yang sudah XyRa lewati yaitu bertemunya ia dan Dave.
"Mamih, Abang kangen," ucapnya sedih dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Sama, Sayang. Mamih juga kangen. Maaf ya, Mamih sudah membuatmu takut dan khawatir selama ini, ini yang terakhir," jawab XyRa yang langsung memeluk Sean untuk melepaskan kerinduan.
"Iya, Mih. Jangan gini lagi ya."
"Adikmu mana, Bang?" tanya XyRa saat tak melihat El di antara mereka yang sedang berkumpul.
.
.
.
Lagi di gerbang Neraka, siap siap mau di masukin Lilin...