Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 71


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Seperti yang sudah di rencanakan sebelumnya Axel yang memilih pulang lebih dulu akan di antar oleh XyRa menuju Bandara tapi sebelumnya mereka akan singgah sebentar ke pemakaman umum untuk nyekar ke makam Almarhum Dave. Sean sengaja tak di ajak karna XyRa takut anak itu kaget saat melihatnya tak bisa mengontrol rasa sedih dan air mata disana.


"Kuat kan, Sayang? kamu harus ingat, kali ini kamu datang dalam keadaan hamil," ucap Axel sebelum mereka turun dari sebuah mobil yang di supiri.


"Tentu, Mas. Aku justru datang ingin menyampaikan rasa bahagiaku ini padanya," jawab XyRa yang tak ingin pria di sampingnya itu khawatir karna memang pernah saat saat awal ia sampai tak sadarkan diri saking tak bisanya mengontrol emosi yang belum siap dan ikhlas di tinggalkan dalam waktu se mendadak ini.


"Bagus, sampaikan saja apa yang ingin kamu utarakan. Jangan terlalu berlarut karna kasihan dia melihatmu mu datang dengan air mata terus menerus." Kata Axel sambil mengusap kepala wanita halalnya tersebut.


XyRa pun mengangguk, ia tersenyum simpul di hadapan pria yang tak pernah menuntut apapun darinya itu. Keduanya pun keluar dari mobil, dengan bergandengan tangan mereka melangkah setapak demi setapak hingga akhirnya sampai di sebuah gundukan tangan berbalut rumput Hijau nan rapih. Nama Dave yang terukir indah di atasnya masih saja membuat hati XyRa mencelos sedih sebab awalnya ia begitu berharap nama itu justru ada di buku Nikah mereka berdua nanti nya, bukan malah di batu nisan seperti ini.


"Aku datang lagi yang pastinya tak sendiri, selalu ada suamiku yang turut serta, kamu tak marah apalagi cemburu kan Dave?" kekeh XyRa yang sudah Terima bisa berdanai dengan hatinya sendiri sekarang.


"Tentu, karna dia sepupumu, keluargamu dan pastinya adalah Suami Orang pangganti untukku darimu, bukan begitu?" sambungnya lagi yang kini monoleh kearah Axel yang tersenyum padanya.


Ada cemburu yang tak bisa di ungkapkan olehnya, rasanya akan tak tau diri sekali jika harus membuat mereka bertengkar karena untuk mereka berjodoh dan bersams hingga detik ini saja kehilanganmu bukan main main yaitu sebuah nyawa pria baik, setia dan jujur.


Axel memang tak pernah banyak bicara selain saat menyapa atau pamit, ia hanya akan menjadi pendengar yang baik bagi istrinya yang sedang mencurahkan isi hatinya tersebut. Banyak yang XyRa ceritakan pada Dave termasuk rasa kesalnya pada suaminya dan itu kadang malah membuat Axel tertawa.


"Dia punya kantong ajaib ternyata," kata XyRa saat mengeluhkan pria halalnya tersebut.


"Tapi kan aku masih ganteng meski sedikit endut, Mih," protes Axel yang memang terasa badannya kini jauh lebih berat.


Semua itu karena ia hanya berkeringat saat melakuan hak dan kewajiban nya di atas ranjang saja, padahal di rumah mewahnya cukup banyak alat olah raga dan Gym yang lumayan lengkap termasuk kolam renang.


"Hem, aku tahu, Mas. Dan Dave pasti akan tertawa saat melihatmu sekarang, karna kamu tak lebih seperti aku yang kini tengah hamil," ledek XyRa yang di barengi dengan kekehan.


Axel yang pura pura merengut dan merajuk pun langsung di cium pipinya oleh XyRa yang justru semakin tergelak melihat tingkahnya sekarang.


"****Sekuat dan sehebat apapun aku mencintaimu, nyatanya ia tetap punya tempat tersendiri di hatimu yang tak bisa ku gantikan hingga kini****."


.


.


.


Drama perpisahan di Bandara ternyata membuat XyRa cukup deras menitikan air mata, ini pertama kalinya mereka akan berpisah dengan waktu kurang lebih sepekan lamanya. Ada banyak pesan yang di ucapkan XyRa untuk suaminya selama ia tak ada terutama tentang makanan yang akan masuk kedalam perut pria tampan tersebut.


"Aku akan laporan setiap apa yang aku makan, Ok. atau kamu bisa tanya pada Mira nanti," kata Axel yang peka dengan kecemasan di wajah istri cantiknya tersebut.


"Aku tak semenyebalkan itu, Mas. Aku tak perlu menuntutmu jika kamu memang sayang aku dan sayang badanmu itu, sehat itu mahal." XyRa mencubit pelan dada suaminya untuk menutupi rasa takut.


"Aku menyayangimu lebih dari apapun, kamu tahu sendiri itu kan?"


XyRa mengangguk kemudian kembali berhambur kedalam pelukan Axel sebelum akhirnya mereka benar-benar terpisah oleh jarak yang terbentang. Rasa yang di curahkan pria itu memang sungguh nyata baginya yang kini di cintai dengan begitu hebatnya jauh sebelum ia berdamai dengan takdir.


"Kamu juga, Sayang. Jangan terlalu lelah, aku titip dua malaikat ku padamu, kalian harus baik baik tanpaku," balas Axel tak mau kalah.


"Tentu, mereka aman bersamaku."


Lambaian tangan dan tetes air mata menjadi saksi atas rindu yang akan menyesakan dada setelah drama perpisahan ini terjadi.


.


.


.


XyRa pulang kerumah utama setelah punggung sang suami sudah hilang dari pandangannya. Ia akan menjemput Sean lebih dulu sebelum akhirnya pulang kerumah orang tuanya.


Perjalanan yang ramai lancar itu di isi dengan lamunan, XyRa jauh melemparkan pandang ke luar jendela mobil dan tenggelam dalam pikiran sendiri.


Ada perasaan lega saat sudah bercerita banyak hal pada Dave seperti dulu, sebab masih adanya cinta untuk pria itu kadang membuat XyRa merasa sedang berselingkuh dengan Axel.


Drrt... drrt... drrt..


Dan, getaran ponsel di dalam tas kecilnya pun langsung membuat XyRa sadar dari apa yang sedang ia lamunkan sejak tadi.


"Maya," gumam XyRa saat ia melihat sebuah nama di layar ponselnya yang tak lain adalah ibu dari anak sambungnya kini.


" Hallo, Mbak," sapanya kemudian.


"Hallo, Ra. Kamu masih di ibu kota?" tanya Maya langsung tanpa basa basi.


"Iya, Mbak. Aku masih disini, kenapa?" XyRa balik bertanya padahal ia tahu apa yang di inginkan wanita di sebrang sana itu.


"Syukurlah, bisa aku bertemu dengan Sean? ajak dia besok ke salah satu Resto, aku ingin rindu dan ingin makan siang bersamanya saja," pinta Maya.


Deg..


Kata 'Saja' yang cukup sederhana itu nyatanya menghujam dada XyRa saat ini. Padahal, tak perlu di tekankan seperti barusan ia tentu akan memberi ruang untuk anak dan ibu itu bertemu menghabiskan waktu bersama.


.


.


.


Baiklah Mbak, tunggu kabar dariku ya. Aku akan lebih dulu minta izin suamiku dan tentunya bertanya pada Sean mau tidaknya bertemu denganmu.