
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Keputusan Final pun di ambil oleh Maya, ia bersedia menikah dengan Sang mantan kekasih yang mau memenuhi banyak permintaan darinya. Meski katanya cinta seharusnya tak bersyarat tapi itu tak berlaku bagi Maya yang cukup tahu diri siapa dirinya dan bagaimana keadaannya.
Ia lebih memilih hidup sendiri jika tak di Terima baik oleh Rian. Tapi nyatanya pria dewasa itu mau sungguh-sungguh menerimanya.
Mungkinkah ini jodoh yang tertunda?
Semua orang hanya bisa mengubah nasib, tapi tidak dengan TAKDIR, dan jodoh termasuk salah satunya.
"Lusa aku akan menikah, dan langsung ikut Rian ke ibu kota, tolong jaga Sean untukku. Aku hanya punya dia satu-satunya sebagai keluarga," mohon Maya pada XyRa dan Axel saat ketiganya ada di ruang tengah sebelum makan malam.
"Tak perlu berkata seperti itu, Sean aman dengan kami," jawab Axel yang hatinya terenyuh karna bagaimana pun Maya adalah sahabatnya juga.
"Berbahagialah, Mbak. Semoga ini pernikahan terakhir untuk mu," ucap XyRa yang juga ikut mendoakan.
Salah satu yang jadi alasan ia ragu adalah hal tersebut, ia malu dan kurang percaya diri karna ini adalah pernikahan ketiganya. Jika saja ia sembuh sungguh ia hanya ingin mencukupi dirinya sendiri. Tapi Tuhan berkata lain, ia di berikan jodoh lagi untuk kesekian kalinya.
"Jangan bedakan Sean dengan anakmu kelak, kamu harus ingat jika ada aku yang ingin merawatnya selama ini," pesan Maya untuk ibu sambung putranya.
Ia tak bisa menjamin jika XyRa akan selalu baik pada Sean, hatinya selalu di selimuti rasa khawatir karna tak rela jika Sean haris kecewa dengan perubahan sikap wanita itu nantinya.
"Sudah ku bilang, itu tak mungkin terjadi karna ada aku yang akan menjaganya juga," timpal Axel yang takut jika Sang Istri tersinggung tapi XyRa cukup paham.
Dari Sean ia banyak belajar tentang rasa takutnya terbagi dari yang bukan pasangannya.
Dari Sean juga ia banyak paham tentang sesuatu yang tak mengharap timpal balik yaitu kasih sayang ibu ke anaknya.
XyRa yang sama-sama wanita, sama-sama ibu tentu mengerti perasaan Maya saat ini. Tugasnya sekarang adalah bagaimana caranya tak mengecewakan apa yang sudah di percayakan kepadanya.
"Sean anak baik, Mbak. Belum lahir saja ia sudah sangat mengerti aku. Aku yakin ia justru banyak membantuku saat anak ini lahir."
.
.
.
Tak ada yang hadir dalam pernikahan Maya dan Rian. XyRa lebih memilih menemani Sean yang terlihat murung karna sang ibu menang memilih pamit secara mendadak pagi tadi.
"Sean kangen Mamih Maya?" tanya XyRa yang sama saja mencari penyakit sendiri.
"Memang berobat disini kenapa?" tanya Sean masih dengan tampang kebingungannya.
"Gak apa apa, Sayang. Di ibu kota jauh lebih bagus dan besar rumah sakitnya," jawab XyRa.
Ya, memang alasan itu yang dibuat Maya dan semua hanya ikut saja dengan alur yang sedang di buat wanita itu. Toh semua demi kenyamanan dan kebaikan bersama. Maya hanya minta pada XyRa untuk memberikan ponselnya jika ia sedang ingin berbicara dengan Sean lewat sambungan telepon. Dan XyRa tentu menyanggupi semua itu.
"Deket rumahnya Amih sama Apih?" tanya Sean lagi. Itulah yang ia tahu tentang ibu kota.
"Hem, benar."
.
.
.
Kapan kesana? Abang mau main sama kembar banyak yang ada 5, Mih...