
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Lupis, Pak?" tanya Si supir penasaran namun hanya di jawab anggukab kepala oleh Axel sambil tersenyum simpul.
Tak mungkin membantah, Pria yang duduk di balik kemudian pun langsung turun dari mobil dengan uang di tangannya. Ia berjalan ke arah gerobak kue berwarna coklat yang sebelumnya sudah di tunjuk oleh majikannya tersebut.
"Bu, kue lupisnya ada?"
"Ada, mau berapa?" tanya Si penjual cukup antusias.
"Sedapetnya aja, Bu," jawab Si supir sembari menyerahkan uang pemberian Axel.
Si ibu penjuak tersenyum sumringah seraya mengambil uang tersebut, dan satu detik kemudian langsung membangkus beberapa biji kue berwarna hijau tersebut beserta kelapa dan gula merah cairnya. Pedagang manapun akan senang jualannya di borong habis seperti ini seraya dalam hati tetap berdoa dan berkali-kali mengucap Syukur karna sudah di beri rejeki berlimpah.
"Ada kue yang lainnya juga, karna kue Lupisnya gak ada lagi," ucap Si penjual sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi beraneka ragam kue.
"Oh iya, gak apa apa, Bu."
Meski bingung sebab sepertinya bosnya hanya ingin kue Lupis tapi Si penjual malah mencampur dengan yang lain.
"Mudah mudahan Pak Axel gak ngamuk kuenya macem-macem," gumam Pak Supir meski nyatanya itu tak mungkin terjadi.
Axel yang menunggu di mobil langsung menerima bungkusan yang di sodorkan padanya, keningnya mengernyit saat bukan hanya Si Lupis yang ada tapi juga beserta teman temannya.
"Maaf, Pak. Kue Lupisnya cuma sedikit, sisa uangnya di belikan kue yang lain," jelas Si supir.
"Oh, yaudah. Gak apa-apa, terimakasih banyak ya," ucap Axel tak masalah yang penting Si hijau berkelapa dan bergula itu ada.
Perjalanan pun di lanjutkan menuju kantor tempat di mana Axel bekerja. Perusahaan yang tak cukup besar di banding perusahaan perusahaan di ibu kota. Tapi, sudah membuat Axel banyak bersyukur karna mampu mencukupi kebutuhan anak dan istrinya walau jauh dari kata lebih.
XyRa yang sudah kaya raya sebelum di ciptakan untungnya tak gila harta, ia selalu membeli apa yang di butuhkan meski kadang sekedar di inginkan tapi masih bisa di hitung dengan jari. Segala bentuk Kemewahan sudah biasa baginya dan keluarga besarnya.
"Selamat Pagi, Pak," sapa Mira saat Axel masuk kedalam ruangannya.
"Hem, pagi. Kamu sudah sarapan?" tanya Axel yang kemudian duduk di kursi kebesarannya.
"Sudah, Pak. Memang bapak belum?" Mira balik bertanya.
"Cih, memang tampang saya lagi kelaparan?"
Jangan harap keduanya akan lebih bersikap normal karna sudah berteman baik sebelum Mira bekerja dengan Axel.
Axel menyerahkan satu bungkus kue pada Mira untuk untuk di bagikan pada teman teman wanita itu, sedangkan Si Lupis tentu hanya untuknya.
Di dalam ruangan, ia menikmati apa yang di inginkan. Ia abaikan dulu pekerjaan nya dan memilih untuk mengisi perutnya. Pekerjaan akan aman saat perut kenyang, itulah yang di yakini Axel semenjak istrinya hamil.
"Sisa 1, buat ntar abis makan siang," ucapnya pelan sambil membereskan makanannya. Adanya gula merah membuat ia harus jeli membereskan dan membersihkan mejanya jangan sampai ada semut yang berdatangan.
.
.
Masih dengan menggunakan supir, Nona muda itu hanya duduk manis di kursi belakang menikmati Pemandangan di luar yang ramai lancar tak se macet saat pagi. Tapi, se macet macetnya disini tentu tak sama dengan di ibu kota.
"Nyonya, sudah sampai," ucap Pak Supir yang membuyarkan lamunan XyRa.
Ya, wanita cantik tersebut memang sedang sedikit melamun sebab kadang ia berpikir, jika ada di kota ini tak pernah ada dalam benaknya apalagi meninggalkan Amih dan Apih berdua saja karna kehadiran Sang kakak tak bisa di andalkan, ArXy selalu sibuk dengan pekerjaan nya untuk mengalihkan rasa kecewa di tinggal menikah cinta pertamanya.
XyRa turun dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah sakit, ia yang di antar satu suster bergegas ke ruangan dokter yang beberapa kali ini memeriksanya.
"Jadi ceritanya mau pulang?" tanya dokter yang seperti teman sendiri jika sedang memeriksa.
"Hem, kalau tak ada masalah dan semua Ok, maunya naik pesawat. Tapi kalau ada kendala lain ya mau gak mau pakai mobil kesana," jelas XyRa usai di periksa.
"Ok sih, tapi kalau bisa lebih baik jalur darat dulu ya. Ini kehamilan Nona yang pertama. Resikonya terlalu besar."
"Baiklah, biar nanti ku bicarakan lagi dengan suamiku. Tapi bayinya sehat kan?" tanya XyRa, meski baru beberapa waktu periksa ia tetap akan penasaran.
"Sehat, selagi ibunya tidak Stress dan menjaga pola makan dengan baik," jawab Si Dokter cantik.
"Akan selalu ku usahakan. Oh, ya, apa mungkin kali ini aku hamil anak kembar? mengingat keluargaku terutama aku pun kembar?" tanya XyRa, ia ingat dengan ucapan Sean yang seperti akan senang jika mendapat adik lebih dari satu.
"Saya belum bisa memastikan, mungkin nanti di usia 14-16 minggu ya."
XyRa yang hanya mengangguk paham langsung berpamitan. Niatnya kali ini akan langsung ke kantor suaminya sedang Sean akan di jemput sendiri oleh supir.
.
.
.
Sampai di gedung bertingkat, XyRa lansung menghampiri meka resepsionis. Mereka yang sebagian atau mungkin tahu siapa XyRa tentu mempersilahkan wanita itu untuk ke ruangan suaminya.
Dan betapa terkejutnya XyRa saat ia membuka pintu ruang General Manager yang kini ada di depan matanya.
.
.
.
Ya Tuhan, ini ruang kerja atau MiniMarket?