
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Bau Duren?" tanya balik Axel.
XyRa pun langsung mengangguk, ia kembali mengendus tubuh suaminya dan benar saja jika apa yang ia cium memang bau buah berduri yang cukup menyengat.
"Mas dari mana sih? katanya Meeting kok malah baunya kaya gini?" selidik XyRa, andai wanita itu tahu dari awal mungkin Si ibu hamil tak akan sekesal ini sebab kini otaknya sedang jalan jalan ke banyak hal.
"Aku tadi di kasih Pancake, enak banget, Sayang. Terus gak kenyang, cari-cari di toko kue gak ada ya aku beli buahnya aja langsung lebih nikmat," jelas Axel.
"Sendiri? bisanya gak kaya gitu!" oceh XyRa.
"Maaf, aku takut kamu pengen kalau aku ajak dan aku bawa pulang. Kamu kan lagi hamil," kata Axel yang sempat serba salah. Tapi, rasa ingin dan penasarannya itu membuat ia nekat memakannya sendiri.
XyRa yang merajuk pun langsung di peluk dengan berbagai permintaan maaf yang di lontarkan Axel untuk sang istri tercinta. Ia mengaku salah tapi tentu ia juga memikirkan bayinya. Lebih baik merayu XyRa yang sedang merajuk seperti ini di banding harus berkata tidak pada apa yang di inginkan wanitanya karna Axel tak bisa melakukan hal tersebut.
"Nanti kalau kamu sudah lahiran, kita beli sama pohonnya ya, bebas kamu makan sampe kenyang," rayunya yang ternyata tak mempan.
Sesabar apapun XyRa jika dalam keadaan hamil begini nyatanya ia tetap sensitif apalagi saat perasaannya di liputi rasa cemas dan khawatir seperti tadi.
"Mandi sana, aku tak mau mencium bau Duren lagi," titah XyRa yang berlalu ke arah ranjang.
Axel yang mendapat perintah pun segera melakukannya karna khawatir si Ulat Bulu Jumbo tak bisa menikmati hidangannya malam ini.
Sedangkan XyRa yang kesal sudah naik lebih dulu ke ranjang, ia duduk bersandar sambil menunggu suaminya selesai membersihkan diri sebab ada yang ingin ia bicarakan.
Dan syukurnya, Axel yang peka langsung naik juga ke ranjang, tanpa menunggu XyRa bertanya ia sudah mempersilahkan wanita itu untuk menceritakan apa yang sedang ia rasakan.
"Sean seperti kehilangan, dan itu wajar sih menurut ku," kata XyRa lirih.
"Mereka bisa bertemu kan?"
"Hem, sudah ku katakan seperti itu, Mas. Dan Sean ingin ingin ke rumah utama," jelas wanita itu.
Semenjak ada kejadian kecelakaan, semua terasa berantakan. Rutinitas pulang ke ibu kota sedikit terabaikan karna banyaknya yang harus lebih di urus disini. Beruntungnya Axel dan XyRa selalu berpegang tangan dalam setiap masalah yang sedang mereka hadapi.
"Rumah utama?"
"Iya, dia angin main dengan para sepupunya. Tadi juga menelepon Si kembar dan Sean sudah bilang jika sabtu ini ia akan kesana. Aku harap kamu tak sibuk nanti, Mas."
"Lalu kamu?" tanya Axel yang langsung mempertanyakan keadaan XyRa nanti saat perjalanan pulang.
"Kalau kamu ada waktu akhir pekan nanti. Aku besok akan chekup ke rumah sakit untuk konsultasi dengan dokter bagaimana baiknya," jawab XyRa yang tak mungkin gebah juga dengan niat kepulangannya kali ini.
Seperti yang kita tahu, ibu hamil tidak dianjurkan untuk bepergian dengan menggunakan pesawat. Karan dikhawatirkan, saat pesawat take off atau landing, akan ada guncangan yang dapat menyebabkan kontraksi pada rahim dan kemungkinan yang paling parah dapat mengalami keguguran. Sedangkan waktu yang paling tepat untuk ibu hamil pergi menggunakan pesawat saat usia kandungan memasuki trimester kedua atau saat kandungan menginjak usia 16-24 minggu. Pada periode ini, ibu akan terhindar dari risiko kelahiran mendadak atau kelahiran prematur.
Belum lagi saat trimester pertama, biasanya ibu hamil akan mengalami mual dan mudah lelah. Pastinya, hal ini justru dikhawatirkan akan mengganggu selama di perjalanan dan di dalam pesawat.
"Biar ku cek jadwalku besok ya, ini sangat mendadak dan aku takut ada pekerjaan atau pertemuan yang harus ku datangi sendiri," ucap Axel yang tak bisa menjanjikan apapun.
.
.
.
Menu obrolan ternyata masih sama saat keesokan harinya. Tapi kali ini yang bicara cukup Papih dan anaknya saja. Sebab XyRa sibuk menyiapkan sarapan untuk kedua pria kesayangannya.
"Abang mau main, Pih. Maren udah telepon kembar 3, iya kan, Mih?" Sean pun langsung menoleh kearah ibu sambungnya di tengah rengekannya ingin ke ibu kota.
"Iya, Mamih udah bilang kok"
"Terus?" tanya bocah itu lagi tak sabaran.
"Papih cek kerjaan dulu di kantor ya, nanti kita bicara lagi saat makan malam," jawab Axel.
Tak perduli kaya raya dan tak perduli Sean masih terhitung anak tunggal, ia memang sudah terbiasa untuk di ajar pengertian. Semua yang ia dapat adalah hal yang paling ia butuhkan bukan sekedar ia senangi.
Axel maupun XyRa cukup paham jika kali ini Sean sedikit memaksa karna usai pulang sekolah anak itu jarang sekali bermain dengan teman atau anak seusianya jika bukan XyRa yang rajin mengajak anaknya itu ke taman dekat rumah.
Semenjak ada Mamihnya, seolah dunia Sean hanya tertuju pada wanita itu. Dan memang rasanya wajar karna XyRa bisa menjadi teman dan ibu bagi Sean.
Sarapan selesai, kini saatnya XyRa mengantar suaminya seperti biasa sampai ke teras depan.
"Aku berangkat ya, kamu hati hati saat antar Sean dan jangan lupa hubungi aku jika mau pergi," pesan pria beranak 2 itu pada Sang istri.
"Iya, Mas. Kabari aku juga jika memang nanti kamu bisa ya. Jadi saat jemput Sean pulang sekolah aku bisa langsung ke rumah sakit," balas XyRa yang di iyakan oleh Axel sembari menganggukkan kepala juga.
Ciuman di punggung tangan dan juga seluruh wajah XyRa sudah di lakukan, kini saatnya Axel pamit pergi ke kantor, sudah terbayang di mata pria itu betapa banyak tumpukan pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini di tengah sibuknya mencari cemilan yang ia ingini.
Axel yang sering berangkat diantar supir pun tiba tiba meminta untuk membelokkan kendaraan mewahnya kerah kanan usai lampu merah di depan.
"Disini, Tuan?" tanya supir.
"Hem, iya. Lurus saja sampai ada sekolahan di dekapan kantor kecamatan," jawab Axel dengan mata tak lepas dari layar ponsel di tangannya.
"Baik, Tuan."
Dan tak sampai 15 menit nyatanya mobil sudah berhenti di tempat yang di perintahkan Axel. Pria itu pun tersenyum lalu memberikan selembar uang pada Si supir pribadi.
.
.
.
Kamu beli kue Lupis sana, gulanya bilang yang banyak ya.