
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Axel yang sudah rapih begitu pun dengan XyRa langsung menggandeng tangan Sean kiri dan kanannya, anak itu begitu nampak senang kanan tangannya kini terisi penuh tak seperti 5 tahun lalu yang hanya ada Sang Papih yang menggenggamnya. Senyum lebar terus terukir di keluarga bahagia tersebut mana kala semua nyaris sempurna.
"Abang udah gak pangku Mamih lagia ya sekarang," ucapnya dari kursi belakang.
"Iya, kan Abang sudah besar, perut Mamih juga," sahut XyRa yang tak curiga apapun dengan pertanyaan bocah tersebut.
"Kalau dede bayi lahir juga sama kan? Abang gak pangku Mamih lagi?"
XyRa dan Axel yang sudah nyaman di kursi depan pun saling pandang lalu berbarengan menoleh ke arah Si sulung yang eksperesi wajahnya sulit di artikan.
"Abang bisa peluk Mamih, Ok."
Sean mengangguk lalu tersenyum kecil, ada rasa cemburu di hati anak itu tapi ia tak bisa mencurahkannya dengan benar hingga hanya sebuah tanya dan tanya yang Sean lontarkan.
Orangtuanya sedikit paham mungkin Sean masih ingin bermanja namun kenyataan nya ia malah harus menjadi Abang, segitu saja Axel tak pernah berlebihan saat mengusap atau mengajak bicara anak keduanya saat di hadapan Sean.
Kaget, mungkin dan takut pun wajar, kini tugas mereka adalah bagaimana bersikap adil terutama XyRa yang bagaimana pun anak yang di rahimmya adalah darah dagingnya secara nyata.
"Abang nanti bisa bobo sama sama, jagain dede bayi sama-sama juga, gimana?" tawar Axel, yang tadinya hanya sebatas senyum simpul malah kini menjadi senyum lebar khas anak anak yang polos.
"Beneran boleh?" tanya Sean yang di jawab anggukan kepala bersamaan oleh Mamih dan Papih.
Dari sorot mata yang Axel pancarkan, jelas terlihat kekhawatiran tapi ia harap mereka bisa menyelesaikannya tanpa menyinggung perasaan Sean.
Hampir satu jam, kini mobil mewah Axel masuk ke dalam garasi sebuah bangunan bertingkat dua minimalias yang tak lain adalah rumah teman Sean. Astrid memang merayakan ulang tahunnya. di kelas secara sederhana jadi tak salah jika rumahnya sepi dan biasa saja.
"Selamat malam," sapa Axel dan XyRa bersamaan.
"Selamat malam juga, ya ampun Sean, apa kabar anak tampan," balas Sapa ibunya Astrid.
"Baik Aunty."
Seperti para wanita lainnya jika bertemu, pelukan hangat serta cium pipi kanan kiri pun di lakukan dengan sedikit saling memuji satu sama lain.
Sedangkan Axel sudah lebih dulu di ajak masuk oleh Ayah Astrid yang ternyata pemilik salah satu Cafe terkenal di kota ini.
"Ayo masuk, tapi mohon maaf jika hidangannya sangat sederhana," ucap Nella, wanita beranak dua yang salah satunya adalah Astrid sebagai anak bungsu.
"Ini sudah lebih dari cukup, harusnya kami yang mohon maaf karena malah justru yang datang kemari. Sean ingin memberi kadonya di rumah, hari ini ia tak masuk sekolah," jawab XyRa.
"Iya, Miss Natha tadi sudah bilang, Jeng."
Di luar dugaan, Sean bukan bermain dengan Astrid ia malah bertemu dengan kakaknya yaitu Ardan. Keduanya berkenalan karena ini pertemuan pertama mereka.
"Kamu teman Astrid?" tanya Ardan yang sudah berumur 11 tahun, tepatnya ia sudah duduk di bangku kelas 5 sekolah Dasar.
"Iya, kamu kakaknya?" Sean balik bertanya yang kali ini di jawab anggukan kepala saja.
"Yang sedang hamil itu Ibumu?"
"Iya, itu Mamih, Mamih kesayanganku," jawab Sean penuh bangga, ia berani mengatakan itu karna ia punya dua orang ibu dengan rasa yang jauh berbeda.
"Dulu aku juga gitu bilang ke Mama, mamaku yanh terbaik, tapi sekarang mamaku berisik, mamaku bawel dan tak sayang padaku," ungkap Ardan dengan nada kesal dan itu membuat Sean mengernyitkan dahi.
"Kenapa?"
"Karna ada Astrid. Setelah ada Astrid mama tak sayang padaku!"
Sean langsung diam tak lagi berkata, bertanya apalagi menjawab. Ia tentu ingat pada dirinya sendiri yang akan memiliki adik dalam hitungan bulan kedapan.
"Mamih baik, Kak".
" Tapi tidak dengan nanti, lihat dan buktikan saja nanti. Kamu pasti merasakan hal yang sama denganku. Tak lagi di sayang, di manja serta di perhatikan. Semua hanya untuk adikmu, seperti aku yang seluruhnya untung Astrid." kata Ardan meyakinkan jika semua nasib seorang kakak sama termasuk Sean nantinya.
Sean yang hanya bisa menunduk mencoba untuk ingat jawaban Mamih dan papih nya barusan yang terlihat semua akan baik baik saja, tak ada yang akan berubah sekalipun bayi yang sedang mereka tunggu akan lahir secepatnya.
"Mamaku juga dulu baik seperti mamihmu, tapi sekarang galaknya tak lebih seperti petugas keamanan gerbang sekolah," cetus Ardan kesal, Anak-anak yang hampir remaja itu menarik napas dan membuangnya secara kasar dan berat.
Jika sudah begini, sebenarnya tak ada yang bisa di salahkan. Si kakak yang masih butuh perhatian harus rela menunggu ibunya selesai mengurus adiknya lebih dulu, bahkan tak jarang justru melupakan kewajiban yang lainnya saking merasa lelah yang di dera sangat luar biasa.
"Mamih sayang aku, Mamih janji sayang aku," jeritnya yang langsung berlari kearah XyRa dan Nella.
Ardan yang melihat raut ketakutan di wajah Axel seakan percaya jika anak itu akan bernasib sama dengannya.
"Sean, kenapa, Sayang?" tanya XyRa kaget.
"Gak apa apa, Mih."
Nella yang tahu tadi Sean mengobrol di tangga dengan Ardan langsung menoleh kearah putranya.
Tapi tak ada yang mencurigakan dari Si sulung hingga Nella tak bisa menuduh anaknya itu menakut nakuti teman Astrid tersebut.
"Kadonya sudah di kasih, ayo pulang, Mih," ajaknya lagi sedikit merengek.
"Dasar anak-anak, mau kesini nangis minta pulang pun sama," ujar XyRa yang sebenarnya tak enak hati sebab Nella sedang sedikit curhat mengenai Astrid yang begitu pendiam dan sulit bergaul.
"Ya sudah, lain kali bisa main lagi kan?"
Sean hanya mengangguk, ia lalu menarik tangan XyRa untuk menghampiri Papih nya tak kalah seriusnya mengobrol.
"Pih, Abang ngajak pulang," ujar XyRa dengan tangan yang di gandeng oleh putra mereka.
"Pulang? Abang sudah mainnya sama Astrid?" tanya Axel.
"Udah, Abang mau pulang," jawab anak itu.
"Wah, padahal kita belum makan malam bersama ya."
"Tak apa, lain kali kan bisa," jawab Axel yang mau tak mau menuruti keinginan Sean.
Ketiganya pun langsung pamit untuk pulang meski sebenarnya mereka akan ke salah satu resto untuk makan malam.
"Hati-hati di jalan, dan datanglah kembali untuk mengobrol," pesan Nella setelah mengurai pelukan.
"Tentu, jika ada waktu senggang," jawab XyRa yang tak ingin menjangkan apa pun.
.
.
.
Perjalanan di lanjutkan ke tempat tujuan kedua. Salah satu tempat makan yang ayam madunya sangat di sukai oleh Sean. Axel yang aneh sesekali melirik kearah belakang lewat kaca spion
Ya, sepulang dari rumah Astrid kini XyRa dan Sean duduk di belakang dan itu tentu karena keinginan putra mereka yang mengizinkan Mamih nya duduk di depan, bahkan Pintu yang sudah dibuka oleh Axel agar XyRa masuk di tutup kembali dengan sedikit keras.
"Ada apa dengan anak itu?" bathin Axel yang aneh, sangat sangat aneh.
Sean tak berkata apapun, ia hanya memeluk Mamih nya dengan cukup lumayan erat seperti esok tak bertemu lagi. Sedangkan XyRa tanya sama curiga dan tak paham dengan sikap Sean hanya mengusap kepala anak itu denga lembut.
Mobil kini sudah menepi di parkiran Resto, Axel turun lebih dulu untuk membantu XyRa keluar dari bagian belakang bersama Sean.
Dan lagi lagi anak itu tak mau melepas tangannya sedetik pun.
"Sean aneh," bisik Axel pelan.
XyRa menangguk setuju, tapi ia tak kepikiran jauh ke Ardan yang tadi mengobrol dengan anak itu sebab sebelumnya tepatnya tadi pagi Sena memang sudah uring uringan tak jelas, jadi XyRa tak bisa menuduh apapun karna sejak dirumah Sean sudah merajuk dan rewel.
"Abang mau ayam madu dan es jeruk kan?" tanya XyRa yang tahu dan hapal betul dengan kesukaan anaknya.
"Iya mau itu," jawabnya yang masih bergelayut manja.
Tak hanya Sean, karna XyRa dan Axel pun sudah memilih menunya sendiri sendiri.
Saat Sang istri sibuk memilih itulah Axel terus melirik kearah Sean yang memperhatikan Mamihnya dengan tatapan sulit di artikan.
"Posesif nya lebih lebih dari suami istri ini sih, kenapa ya Sean? kaya orang takut, apa karna udah punya perasaan adiknya mau lahir?" gumam Axel dalem hati, ya cukup hanya dalam hati sahat ia bertanya seperti itu karna untuk bertanya secara langsung takutnya Sean akan lebih merajuk pada XyRa atau dirinya.
Obrolan kecil pun di mulai hingga kurang lebih 30 menit, pesanan mereka datang dan siap untuk di nikmati masing-masing.
"Mih, suapin Abang," pintanya yang belum menyentuh makanannya sama sekali.
"Abang biasanya makan sendiri," ucap Axel dengan nada mengingatkan.
"Mau di suapin Mamih, Abang males makan sendiri," jawabnya sambil menggelengkan kepala.
XyRa yang mengedipkan mata pertanda jika suaminya harus diam. Sean yang tak jelas perasaannya hanya ingin di turuti dan itu masih di batas wajar bagi XyRa.
Bahkan dulu tanpa di minta ia akan menyuapi Sean, lalu apa bedanya sekarang?
"Ayo buka mulutmu, Sayang."
Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Sean, ia makan jauh lebih lahap dari biasanya dan itu mampu membuat kedua orang tuanya senang bukan kepalang.
"Bisa endut nih kalau kaya gini," kekeh XyRa menggoda.
Menyuapi Sean nyatanya malah membuat Si ibu hamil itu kenyang, dan tak menghabiskan makanannya sendiri.
"Sekarang giliranmu yang ku suapi," ujar Axel yang membuat XyRa malu.
"Mas, enggak ah, aku kenyang," tolak XyRa dan sayangnya Axel tak menerima bantahan sama sekali.
Axel tak enak hati, hanya karena anaknya merajuk manja XyRa justru tak bernapsu untuk menikmati Makanannya sendiri padahal tempat itu adalah pilihan XyRa yang di sepaksti setelah nanti pulang dari rumah Astrid, teman Sean.
Seperti halnya XyRa ke Sean barusan, itulah yang kini Axel lakukan bahkan di selingi canda tawa dan godaan sampai kedua pipi wanita hamil tersebut merah merona layaknya sebuah tomat.
"Sudah, Mas. Aku kenyang." XyRa langsung menggelengkan Kepala nya saat Axel menyodorkan sendok lagi ke depan mulutnya.
Axel menggeser piring milik sang istri yang masih sisa separuh, ini jauh lebih baik di banding sama sekali tak di makan, mengingat ada anaknya juga di dalam kandungan XyRa yang harus di perhatikan juga asupan gizinya yanh masih lewat Sang ibu.
Perut yang sudah di manjakan sampai kenyang membuat mereka tentunya memilih untuk langsung pulang mengingat besok bukan hari libur yang artinya Sean maupun Axel harus kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
Masih dengan Posisi yang sama yaitu Xyra dan Sean di belakang harus merelakan Axel duduk sendiri di depan layaknya seorang supir pribadi.
Tak ada obrolan apapun karna sepertinya Sean sudah sangat mengantuk tapi matanya enggan terpejam sama sekali.
"Ayo, Bang bobo," ucap XyRa yang di jawab gelengan kepala.
Sean yang mengantuk entah menunggu apa karna biasanya ia langsung tidur jika memang sudah mengantuk tak perduli masih di jalan sebab ia kan bangun sudah berada di kamar.
Hingga sampai kerumah, Sean langsung di gendong oleh Papihnya untuk dibawa masuk kedalam rumah. Di luar dugaan, anak itu menangis saat Axel mau membuka pintu kamar.
"Abang mau bobo sama Mamih!" teriaknya sambil meronta untuk turun. Axel yang tak siap dengan amukan tiba-tiba anaknya sampai kaget saat Sean turun dengan memakai seluruh tenaga yang ia miliki.
Diatas ranjang, XyRa merapihkan selimut dan bantak, kini anak itu sudah bersembunyi usai di bersihkan dan ganti bajunya. Untungnya XyRa wanita yang sabar meski bukan kepada darah dagingnya. Axel tak bisa membayangkan jika istrinya bisa saja lelah dan memilih pergi, mungkin di waktu yang bersamaan hidupnya dan Sean akan kacau berantakan.
Lampu tidur yang menyala dan lampu utama yang padam membuat kamar luas itu menjadi temaram dan itu otomatis menjadikan Sean kini sudah cepat terlelap dalam dekapan XyRa yang hangat penuh kasih sayang.
"Abang kenapa ya, Sayang?" tanya Axel bingung.
"Entah, namanya juga anak anak, Mas. maklumi saja, mungkin suasana hatinya sedang tak baik," jawab XyRa yang sama tak tahunya.
"Kita liat besok ya, kalau masih begini aja, nanti kita bicara dengannya," balas Axel.
"Jangan terlalu keras, Mas. Abang masih anak-anak yang moodnya naik turun, biarkan saja toh dia hanya merajuk, tak sampai mengamuk hingga melukai dan membahayakan kita," ucap XyRa yang kurang suka dengan saran suaminya.
"Terutama kamu, Sayang. Aku takut kamu lelah dan bosan."
"Tak ada dari sananya seorang ibu bosan mengurus anaknya sendiri," cetus XyRa sedikit tersinggung.
.
.
.
Hari hari di jalani tak jauh berbeda dari biasanya, Axel dengan rutinitas Kantor sedang XyRa dan Sean masih bersama berkutat dengan tugas sekolah anak itu.
"Kita pulang besok pagi kan, Mas?" tanya XyRa.
"Iya, Sayang. Semua sudah siap?" pria itu balik bertanya sambil mengusap perut sang istri yang semakin besar.
Ya, minggu depan adalah Hari Perkiraan Lahir Sang jabang bayi ke dunia, begitu banyak rasa yang mereka rasakan sejak kemarin saat mempersiapkan semua kebutuhan persalinan nanti yang akan tetap di lakukan di ibu kota tepatnya di rumah sakit Rahardian Group.
Perjalanan kali ini akan normal seperti biasa karna Axel tak akan mampir kemana-mana untuk mengisi perutnya yang terasa lapar terus menerus. Jadi sudah bisa di pastikan semua aman terkendali hingga sampai di rumah orang tuanya.
Semua sudah di persiapkan termasuk izin sekolah Sean, tapi anak itu tentu tak sepenuhnya akan meninggalkan pelajaran karna semua tugas akan tetap ia kerjakan seperti biasa.
Dan besok pagi yang di tunggu pun tiba, dimana semua sudah siap untuk melakukan perjalanan yang cukup melelahkan bagi XyRa yang sedang hamil besar.
Di dalam mobil, Sean begitu anteng duduk di kursi belakang dengan beberapa mainan baru yang di beli semalam bersama papih nya. Axel terpaksa melakukan itu agar Sang putra tak merasa bosan jika punya yang baru meski nyatanya jika sampai di ibu ia akan membeli yang lainnya juga.
Seperti perkiraan awal, semua berlalu sesuai rencana meski masih meleset satu jam dari yang seharusnya, tapi kali ini bukan karena Axel tapi melainkan karna Sean yang tak mau masuk ke dalam mobil saat ada pertunjukan badut di pinggir jalan. XyRa maupun Axel pun tak berani memaksa karna ada gelak tawa yang membuat orang tua itu akhirnya tak tega merusak kebahagiaan sederhana putra mereka.
Sampai di kediaman Rahardian, mereka sudah disambut oleh Amih dan Apih tapi tidak sang kakak yang sedang ada di luar negeri mengurus bisnisnya yang sedang lumayan pesat, ArXy yang kini semakin sukses justru semakin lupa dengan kewajibannya yaitu menikah.
"Kamu pasti lelah, ayo masuk dan istirahat," titah Amih yang senang bercampur khawatir.
"Iya, Mih. Punggung ku sakit," keluar XyRa yanh menambah kecemasan wanita paruh baya itu.
XyRa yang langsung ke kamarnya hanya di antar oleh Amih sebab Apih, Axel dan Sean masih di lantai bawah. XyRa tak begitu memikirkan karna kini perutnya justru semakin kencang.
"Amih pijit punggung mu dulu sebentar ya, Nak"
" Iya, Mih. Aku ingin itu," jawab XyRa yang kini sudah berbaring dengan posisi menyamping.
Se bar bar apapun Amih, ia akan tetap jadi ibu yang baik untuk kedua anaknya ArXy Rahardian Wijaya dan XyRa Rahardian Wijaya. Semua itu ia Contoh dari sang Ibu mertua yaitu Ummi Khayangan.
Wanita mualaf yang baiknya nyaris seperti bidadari dunia, jadi tak salah semua begitu menyayanginya termasuk Abi Bumi.
"Amih berdua saja dengan Apihmu, memang Axel belum mau mengurus perusahaan disini?" tanya Amih yang entah sudah keberapa kali.
"Mas Axel masih nyaman di tempatnya yang sekarang, Mih. Aku tak berani memaksa karna bekerja bukan satu dua hari tapi sepanjang menafkahi kami, iya kan?"
XyRa yang seolah ada di persimpangan jalan bingung harus memilih yang mana. Tak hanya XyRa pastinya, tapi semua anak di dunia ini akan bingung jika sudah menyangkut orang-tua dan pasangan.
"Iya, hanya saja Amih khawatir jika kamu sudah melahirkan dan jauh sendiri di luar kota, Sayang."
"Nanti akan ku coba bicarakan lagi, Amih tak perlu khawatir," pesan XyRa yang hanya di jawab anggukan kepala saja oleh menantu Rahardian tersebut.
Lain di kamar lain juga di ruang tengah lantai bawah dimana Axel dan Apih berada. Tuan besar Rahardian itu sengaja memilih tempat tersebut agar Sean bisa anteng menonton TV dikala ia dan papihnya sedang mengobrol tentang banyak hal sedangkan ia juga tahu jika Sang putri butuh istirahat total setelah menempuh perjalanan jauh
Sama halnya saat kemari dengan keadaan hamil muda yang tak bisa naik pesawat, begitupun dengan sekarang yang dalam kondisi hamil besar Trimester akhir yang bisa saja justru memancing kontraksi palsu.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Apih.
"Lancar semua, Pih."
"Belum adakah tanda-tanda naik jabatan, hem?"
Axel tentu Langsung menggeleng kan kepalanya karna untuk hal tersebut ia tak bisa memastikan, sebab ia benar-benar merangkak dari bawah yang dari bukan siapa-siapa hingga kini menjabat sebagai General Manager di perusahaan yang tentunya jauh dari kata besar jika di bandingkan dengan perusahaan Rahardian Group.
Axel memang tahu dari awal siapa wanita yang ia nikahi tanpa niat dan rencana itu tentu bukan dari kalangan biasa, akan sulit memberi nafkah yang seimbang bagi Sang Nona muda yang bisa hidup dengan Kemewahan, bahkan hartanya sudah berlimpah sejak masuk dalam bentuk kecebong hasil semburan Si Pepaya Gantung.
"Masih ku pikirkan masak-masak, Pih. Ini adalah pilihan yang sulit untukku," jawab Axel.
"Apih paham, hanya saja jika bukan kamu, lalu siapa yang akan menempati kursi Direktur milik XyRa, apa kamu mau istrimu itu bekerja?"
"Tidak, Pih."
Sudah dari sejak awal memang pria itu enggan memiliki istri yang gila kerja dalam artian wanita karier. Ia rela banting tulang asalkan saat pulang di sambut senyum manis wanita halalnya yang bisa melebur segala lelah dan penatnya setelah seharian beraktivitas dengan segala bentuk Pekerjaan yang menguras otak dan tenaga sebab Axel kadang tak diam di ruangannya saja atau pun di kantor, ia kerap kali keluar untuk menghadiri beberapa meeting dengan para petinggi perusahaan lainnya juga.
" Baiklah, Apih tunggu kabar baik darimu, pintu kantor Rahardian Group akan selalu terbuka lebar untukmu, Axel."
"Terima kasih, Pih. Aku benar-benar hanya bisa mengucapkan itu sebab Apih percaya padaku," ujar Axel yang tak pernah menyangka akan berhadapan langsung dengan Tuan besar Rahardian Wijaya.
Apih hanya tersenyum dan mengangguk, ia lalu mengajak Sean bermain di halaman belakang karna tak kalah rindunya dengan Sang cucu.
Axel sampai menghapus cairan bening di ujung matanya manakala ia begitu terharu dengan sikap tangan terbuka sang Ayah mertua. Pada hal jelas Axel adalah penyebab awan hitam dalam hidup Sang Nona muda, ia hantam hati wanita itu dengan sebuah perpisahan tak terduga tepat di hari bahagia.
.
.
.
Dua hari di kediaman Rahardian nyatanya membuat XyRa semakin tak nyaman padahal ia bisa beristirahat total karna Sean sibuk dengan mainnya, entah itu bersama Apih, Papih juga sepupunya yang datang atau juga ia yang kerumah utama mendatangi Si kembar 3 dan 2.
"Sayang, kenapa?" tanya Axel yang mulai panik padahal ini bukan yang pertama bagi pria itu melihat istrinya meringis seperti menahan sakit.
"Hem, pinggangku panas, Bagian bawah perut juga kurang nyaman, Mas," jawab XyRa.
"Kita kerumah sakit untuk periksa ya," ajak Axel sambil mengusap perut besar istrinya.
"Baru kemarin sore, masa mau balik lagi?" kata XyRa.
"Gak apa-apa, mumpung rumah sakit milik pribadi," kekeh Axel.
Ia tentu tak pernah menyangka akan mendapat jodoh yang bukan sekedar kaya raya tapi ini adalah keluarga konglomerat. Dan beruntungnya mereka semua tak pernah sombong sebab ingin hidup seperti padi, semakin tinggi semakin merunduk.
"Kamu aja gih, sana."
XyRa meninggalkan suaminya yang masih tertawa, padahal maksud hati Axel adalah hanya ingin mengalihkan rasa nyeri yang di rasakan Sang istri.
Satu demi satu XyRa menuruni anak tangga untuk menuju lantai bawah hingga tak sengaja bertemu dengan Amih yang sedang menyuapi buah potong untuk Sean.
"Loh, tumben makan pisang?" tanya XyRa sedikit aneh karna itu adalah salah satu buah yang di hindari oleh Sean.
"Di suapin Amih enak loh," kekeh Sean yang membuat Mamihnya kaget sebab saat ia suapi saja akan banyak sekali alasan tak masuk akal termasuk yang tiba tiba sakit perut dan pamit untuk buang air.
"Masa sih?" goda Amih, dari Sean juga ia merasakan lagi nikmatnya mengurus bocah dan ramainya rumah karna candaan anak itu.
XyRa yang baru ingin menimpali langsung tersentak kaget saat ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari daerah kewaNItaannya.
"Mih, aku ngompol," ujar XyRa bingung.
"Loh, jangan jangan itu air ketuban? kamu--, kamu mau lahiran, Ra!" teriak Amih yang langsung minta tolong pada siapa pun untuk memanggil Axel. Dan dalam waktu 5 menit pria itu datang dengan wajah yang tak kalah panik, untung saja salah satu pelayan bicara dengan sangat jelas hingga ia langsung membawa kunci mobi.
Dengan di gendong ala Bridal Style, XyRa langsung di masukkan kedalam mobil untuk di bawa kerumh sakit yang siap menerimanya selama 24 jam, kapan saja wanita itu datang untuk melahirkan.
Hanya ada Axel dan Amih yang ikut ke rumah sakit sedangkan Sean justru di tinggal kan dirumah. Untung saja anak itu paham dan tak ikut menangis saat melihat orang di sekitarnya panik dan menangis.
"Sabar ya, Sayang."
"Sakit banget Mih. Ini sakit banget rasanya," jerit XyRa yang tak kuat menahan rasa sakit dari segala arah tubuhnya yang kini sudah banjir keringat.
"Bertahanlah, ku mohon," ucap lirih Axel yang berderai air mata tak sanggup melihat XyRa kesakitan begitu.
Sampai di rumah sakit, ia langsung di bawa ke ruang pemeriksaan, disana sudah ada beberapa perawat terbaik dan team dokter yang siap bekerja sama untuk menyambut keturunan Rahardian yang seharusnya lahir beberapa hari kedepan tapi nyatanya hari ini saja sudah pembukaan 5.
"Langsung ke ruang bersalin ya, Tuan."
Axel hanya mengangguk, ia pasrah apa pun yang akan di lakukan team dokter pasti yang terbaik.
Detik-detik yang berlalu seolah begitu lamban berlalu hanya doa yang bisa di lakukan Axel dan XyRa di dalam ruangan tersebut sambil menunggu semua pembukaan lengkap.
"Kita akan jadi orang tua Sempurna, kita berjuang bersama ya, Ku mohon bertahan dan harus kuat demi anak kita. Kebahagiaan sudah di depan mata, Sayang." Axel terus saja berbisik dengan tangis yang tak kunjung berhenti.
"Sakit sekali, Mas."
"Aku tahu, tapi sebentar lagi ya, kita akan peluk anak kita yang sudah 9 bulan ini di tunggu, sabar ya, Cantik," mohon Axel lagi.
Hingga akhirnya dokter memberi kode jika senjata sudah siap dan sempurna. Kini saatnya XyRa harus berjuang antara hidup dan mati demi satu nyawa yang sebentar lagi akan menyapa dunia.
"Nona siap ya? mohon ikuti intruksi saya," pinta dokter yang sudah ada di bagian kedua paha yang terbuka lebar tanps apapun.
Dengan tangan saling menggenggam, Axel terus menguatkan dengan doa dan harapan agar anak istrinya selmat bersama.
Dan satu momen yang di tunggu pun terdengar yaitu suara tangis bayi yang begitu menggema ke seisi ruanh bersalin.
"Selamat, Tuan. Anak anda sudah lahir dengan jenis kelamin laki-laki"
Axel yang senang Langsung menciumi wajah XyRa yang kelelahan.
.
.
.
"Terima kasih, Sayang. Tetaplah cantik diantara kami bertiga ya."
\*\*\*\*\*\*
Dari sebelum maghrib gak lolos 4 bab padahal awalnya lancar ya... Akhirnya di revisi di gabungin semua jadi satu, kalau gak lolos juga, dahlah pasrah si Entun. namanya juga Sistem ada aja bengkoknya. Yang ptg udah nulis buat kalian yang harusnya dapet like 4 jadi 1 😭😭😭..
Sinyak juga ngajak geLuuD.. Bismillah lolos 😇