
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku percaya padamu," ucap XyRa meyakinkan Axel dengan keputusannya barusan, pembahasan pun berlanjut ketika pria itu langsung membawa pergi XyRa dari hadapan Maya.
Axel sampai memukul setir mobilnya, karna ia takut apa yang sudah di putuskan wanita halalnya tersebut akan berdampak buruk bagi hubungan pernikahan mereka yang baru saja di tahap bahagia dan sudah saling menerima satu sama lain dengan segala bentuk kenangan dalam kisah masa lalu.
"Bisakah untuk tidak berpikiran buruk tentang masa yang akan datang? aku sedang tak ingin berandai andai, Mas, entah itu baik atau buruk."
"Aku bukan sedang berandai-andai, apa salah jika aku takut dan antisipasi dengan yang mungkin akan terjadi?" tanya Axel dengan nada kesal dan ini baru pertama kalinya ia lakukan.
"Mbak Maya seperti ini karna ku, Mas. Kamu paham tidak? aku hanya ingin memastikan ia baik-baik saja, mungkin dengan bersama Sean kesembuhannya akan jauh lebih cepat. Hanya itu yang aku pikirkan, bukankah kamu pernah merasakan menjadi aku? dimana rasa bersalah itu selalu menghantui, hem?" tetes air mata pun jatuh di pipi mulus XyRa, padahal ia sudah sekuat hati menahannya.
Axel langsung meraih tubuh XyRa dan tangis wanita itupun langsung pecah di detik yang sama.
"Aku takut, Mas. Aku takut Sean membenciku karna sudah mencelakai ibunya, sejauh apapun mereka berpisah dalam diri anak itu tetap ada darah Mbak Maya, aku tak bisa menutup mata akan hal tersebut. Tuhan masih mengasihaniku dengan hanya membuatnya tak bisa berjalan dalam waktu beberapa bulan saja, bagaimana jika sampai Mbak Maya meninggal?" ungkap XyRa sambil terisak sedih dan itu semakin membuat Axel mengeratkan pelukannya agar Sang istri jauh lebih tenang.
"Jangan, Sayang, aku tak mau itu terjadi padamu, cukup aku, jangan kamu!" Axel yang ingat kejadian yang lalu memang belum lepas dari rasa bersalah itu hingga kini, meksipun ada hikmah dan pelangi yang sangat indah setelahnya.
"Aku akan jadi manusia paling jahat karna sudah menjadikan Sean anak pintu, Mas."
"Kamu yang terbaik, kita lewati ini sama-sama ya, akan ku pastikan semua akan berjalan sewajarnya dan terus ingatkan aku untuk menjaga pandanganku, paham kan, Sayang," pesan Axel yang menurutnya ini sangat berat, tapi bukan hidup namanya jika tak ada ujian.
.
.
.
.
Mereka yang sudah di rumah mulai akan bicara dari hati ke hati bersama dengan Sean, keputusan pun tetap pada membawa Maya ke rumah mereka dengan alasan agar kesembuhan wanita itu cepat pulih karna bisa bersama dengan Sang buat selama masa penyembuhan, anggap saja cara itu adalah pancingan semangat untuk Maya karna jika lebih cepat sembuh tentunya lebuh tenang juga perasan XyRa.
"Mamih sama Papih mau bobo sama Sean?" tanya Si anak tampan saat ia sudah berada di tengah tengah orang tuanya.
"Iya, Mamih dongengin berdua sama Papih, boleh?"
"Terserah, Sean mau cerita apa?" timpal Axel dengan menatap kearah istrinya.
Ia tak ingin apapun, begini saja nyatanya sudah sangat membuatnya bahagia tapi Tuhan justru punya kehendak lain dengan membawa takdir masa lalu kedalam pernikahan mereka.
"Mamih punya pertanyaan, Sean jawab ya, Nak," ujarnya yang belum apa-apa matanya malah sudah berkaca kaca.
"Mamih mau tanya apa? besok libur loh sekolahnya jadi jangan tanya mau buatkan bekal apa," ledek anak itu yang langsung membuat kedua orang tuanya tertawa.
Saking sibuknya mengurus Sean, kadang XyRa lupa dengan hal hal kecil termasuk tanggal merah, ia selalu antusias membuat berbagai macam bekal cemilan yang akan di bawa anak sambungnya itu ke sekolah.
"Bukan, Sayang. Mamih dan Papih akan bawa Sean ke suatu tempat," jelas XyRa sambil menghapus cairan bening di ujung matanya.
Ia pikir, kenyataan kehilangan Dave adalah hal yang paling berat, ternyata untuk jujur pada Sean tentang hadirnya Maya jauh lebih membuat sesak dadanya.
"Kita mau kemana? jalan-jalan?" tanya Sean, seingatnya tak ada rencana apapun sebelumnya sebab mereka jarang sekali liburan mendadak karna kesibukan Axel.
"Kita kerumah sakit, jemput Mamihmu--,"
"Sayang, kamu--," potong Axel yang tak pernah siap namun ucapannya juga di potong dengan tatapan memohon dari XyRa.
"Mamihku? ini Mamih ada? atau Mamih mau kerumah sakit?" tanya Sean bingung, semenjak ada XyRa ia tentu tak ingat lagi dengan sosok ibu yang selalu ia tanyakan.
"Bukan, Sayang, Mamih Sean ada di rumah sakit, besok kita jemput dan bawa pulang kesini ya, mau kan?"
Sean langsung menoleh pada papihnya yang diam seribu bahasa, ia sedang bingung menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan di layang putranya sekarang.
.
.
.
Mamih Sean cuma satu kan, Pih?