Suami Pengganti Nona Muda

Suami Pengganti Nona Muda
Part 70


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Napa lo, Dud?" tanya ArXy sambil cekikan saat ia bersama ketiga sepupunya datang dan masuk kedalam kamar XyRa


"Au ah." malas rasanya bagi Axel jika harus meladeni kakak ipar rasa musuh bebuyutan seperti Si bujang lapuk yang Karmanya akan segera meluncur.


"Makanya, sebelum makan baca doa, biar berkah," ledek Rain tak mau kalah.


"Doa makan ya, bukan doa mandi abis Hiya Hiya," sambung Skala di tengah gelak tawa.


Axel hanya bisa membuang napas kasar, tentu ini bukan karena ia adalah menantu Rahardian, Karna nyatanya mulut para genk kompor meleduk tak bisa di rem apalagi di kontrol dengan siapapun termasuk pada salah satu di antara mereka.


Semua tahu, sakit yang di alami Axel adalah nyeri di bagian perut hingga harus menguras nya sampai lemas begini, itulah yang membuat mantan Duda satu anak tersebut ha is jadi bulan bulanan para sepupu istrinya.


"Dud, ini apa?" tanya ArXy saat melihat isi dalam bungkusan berwarna hitam.


"Lontong," jawab Axel.


"Isinya?"


"Daging cincang, enak deh. Cobain gih," titan Axel yang sedang duduk bersandar di punggung ranjang.


Kini semua mata tertuju pada ArXy yang sedang membuka makanan berbalut daun pisang tersebut. Tak aneh memang karna pernah memakannya meski tak sering.


"Pakein sambel, JangPuk," kata Heaven yang duduk di sofa single dengan tangan melipat di dada.


"Gak, ah. Takut atit piyut," jawab ArXy dengan gaya seperti anak kecil dan itu tentu hanya untuk meledek adik iparnya.


ArXy yang siap memakannya masih menjadi pusat perhatian dari empat pria di kamar XyRa.


"Kok gini ya rasanya? gak sama kaya yang Mhiu suka bikin," gumam ArXy sambil terus merasakan dan membandingkan apa yang sedang ia kunyah saat ini.


"Sialan!"


"Kenapa?" tanya Skala yang duduk di tepi ranjang sedangkan Rain malah berbaring seolah seperti ia yang sakit.


Tak perduli apa dan bagaimana masa lalu Axel terlebih kesalahan yang pernah ia buat yaitu menghilang nyawa Dave secara tak sengaja, buktinya smua bisa menerimanya dengan sangat baik serta tangan yang terbuka. Bukan kah yang terpenting itu adalah masa depan?


Ya, masa depan Axel bersama XyRa lah yang jauh lebih mereka pikirkan dibanding harus mengungkit masa lalu seseorang yang tentu tak ada habisnya untuk di bahas. Jika Tuhan saja mampu menutup AIB umatnya, lantas apa hak manusia yang justru malah sibuk mengumbar tanpa berkaca diri lebih dulu.


"Ini sih bukan daging cincang!" omel ArXy kesal sendiri merasa di bohongi saat ia melihat Axel tertawa sampai memegang perutnya sendiri.


"Isiny apa?" Heaven yang penasaran bangun dari duduknya, Ia hampir ArXy lalu di rebutnya juga Si lontong dari tangan sepupunya.


"ONCOM!"


Gelak tawa riuh cukup menggema se isi kamar padahal hanya ada 5 orang pria di dalamnya. Pria berhati lembut, berjiwa besar yang penuh kasih sayang kepada para pasangannya.


"Eh, enak tau," kata Axel sambil menghapus cairan bening di ujung matanya karna menertawakan ArXy yang sedang mengumpat kasar. Puas rasanya melihat Si bujang lapuk merasa dongkol di bohongi.


Sebenarnya memang enak dan malah justru nikmat, karna terbukti ArXy hampir habis satu saat melahap nya. Tapi karna ia di bohongi, jadilah rasa itu berubah menjadi kecewa lalu enggan menghabis kan apa yang masih tersisa.


Begitu pun dengan hidup, jangan pernah memainkan rasa percaya, karna tak perduli senikmat apa yang sudah di jalani, semua akan berakhir sia-sia saat mulai tak lagi di hargai.


.


.


.


"Cakwe enak nih, Sayang," ujar pria tampan dengan tubuh lebih tinggi dari istrinya.


"Donat madu aja ya," tawar XyRa yang tentunya sangat jauh dari yang inginkan Sang suami.


"Kalau aku mintanya bolu, kamu kasih donat masih nyambung, Sayang, karena mereka masih satu bangsa," jawab Axel.


"Jauh lebih sehat, Mas. Gak bikin kamu mules lagi karna gak ketemu SAOS!"


"Haha tau aja," kekeh Axel sambil mengusap tengkuknya sendiri.


Banyak yang di inginkan pria itu, tapi tak semua di turuti oleh XyRa, wanita halalnya tersebut tentu tak ingin Axel merasakan sakit dan perih seperti yang kemarin ia alami.


"Kita jadi pulang?" tanya Axel kemudian.


XyRa diam, ia tak punya jawaban untuk pertanyaan yang satu ini. Ada kebimbangan antara dua pilihan yang tak bisa ia ungkapkan namun berharap Axel paham.


"Aku msih ada pekerjaan, Sayang. Tak apa jika kamu masih ingin disini."


XyRa yang awalnya menunduk pun langsung mendongak, ia yakin penawaran itu memang pasti di lontar kan suaminya.


"Mas Axel serius? lalu bagaimana dengan Sean?" tanya XyRa yang kini apa-apa selalu memikirkan anak itu.


"Nanti aku yang hubungi pihak Sekolahnya untuk minta izin," jawab Axel sambil menarik tubuh XyRa untuk masuk kedalam dekapannya.


"Terimakasih, Mas. Maaf jika aku mungkin masih terlalu egois ingin lebih lama bersama orang tuaku saat ini," ucap lirih XyRa.


"Tak apa, aku paham dan asal tak lebih dari satu pekan," pinta Axel yang mulai melakukan negoisasi karna ada pendidikan Sean yang tak boleh di abaikan meski hanya sekedar taman kanak-kanak.


XyRa mengangguk sambil tersenyum dalam pelukan suaminya, mendapatkan izin seperti ini saja ia sudah sangat berbunga-bunga sebab kini ia cukup sadar diri dengan statusnya yang sudah menjadi istri dan ibu dari dua orang anak meski yang satu masih ada dalam kandungannya.


Mereka yang masih berada di rumah utama belum sempat kemana-mana termasuk ke kediaman Rahardian, belum lagi ada satu tempat yang sangat ingin juga di datangi XyRa mumpung mereka sedang ada di ibu kota entah kapan lagi kemari dalam waktu dekat mengingat kondisinya yang sedang hamil.


"Mas, nanti sepulang antar kamu ke Bandara, aku langsung pulang ke rumah ya, tapi--," ujar XyRa yang malah tak melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa, Sayang?" tanya Axel yang sudah menebak ingin istrinya tersebut.


"Tapi kita ke makam Dave dulu, bisa?"


"Tentu, kita akan kesana. Aku juga rindu padanya," jawab Axel yang lagi dan lagi membuat XyRa tersenyum senang.


"Benarkah?" goda XyRa, sebesar apapun rindu Axel, pastilah rindu XyRa pemenangnya.


.


.


.


Tentu, dan akan ku katakan padanya jika aku sangat bersyukur memilikimu saat ini...