
Glekkkk...
Tenggorokan Linda, terasa tercekat tak berani berkata apa-apa. Ketika melihat siapa tamu, langsung memberikan tatapan tajam.
Bagaimana ini, aku tidak memiliki uang untuk melunasi utang ku? Clara, tidak memiliki uang sebanyak itu. Sedangkan Ryan, tidak mau membantu dan meminjam uang kepada bosnya. Keterlaluan sekali kamu, Ryan.Batin Linda, sudah ketakutan dan buliran keringat membasahi keningnya.
Brakkk...
Pria yang berkumis tebal, menggebrak pintu apartemen Clara cukup keras. Linda, melonjak terkejut melihat aksi sang rentenir.
"Mana uangnya bu Linda,ini sudah jatuh tempo! Masih ingatkan dengan perjanjian kita". Ucap sang rentenir dengan seringai tajamnya. "Hutangmu sudah mencapai 50 juta,serta bunga dan telat denda membayarnya".
Glekkkk...
Linda, menyentuh lehernya seakan-akan tercekik sudah. "Pa,Pak Robby tolong beri waktu 1 bulan lagi. Ini juga usaha untuk mencari uang, langsung melunasi hutang saya. Tolong, berikanlah waktu lagi pak". Linda, memohon sambil menangkup kedua tangannya ke depan.
"Alah...! Saya tidak percaya dengan bu Linda, sudah berapa kali saya memberikan waktu. Sudah cukup kesabaran, apartemen ini sudah milik saya". Tegas pak Robby, dengan mata melotot sempurna. "50 juta,itu semua hutang bu Linda serta bunga dan telat bayar. Mau bari waktu kapan lagi? sampai hutang bu Linda,menumpuk segunung begitu! Intinya apartemen ini,jadi milik saya dan sesuai perjanjian".
"Tidak bisa! Apartemen ini adalah milik saya, tidak ada sangkut pautnya dengan mamah. Kalau pak Robby,bawa mamah. Silahkan pak,jangan sita apartment ini". Sahut Clara,sontak membuat Linda syok berat. Aku mana mungkin kehilangan tempat tinggal ini, biarlah mamah di bawa rentenir ini. Bebanku juga berkurang,jika mamah tidak ada dan aku bebas.
"Anak durhaka kamu, Clara! Kamu tega sama mamah,demi apartemen membiarkan mamah di bawa begitu? Kamu benar-benar anak tidak tau balas jasa orangtua,aku yang melahirkan mu!". Bentak Linda, dadanya kembang kempes menahan amarah dan ingin memukul anaknya itu.
"Iya,aku lebih baik mempertahankan tempat tinggal mah. Daripada memilih mamah, pasti akan berulah lagi dan tidak mau mendengar ucapan ku. Tidak mau luntang-lantung kemana, sedangkan Ryan tidak perduli sama sekali. Pak Robby,bawa saja mamah saya. Terserah mau bawa kemana,ke kantor polisi atau kemana". Clara, sudah lelah menghadapi sikap ibunya yang keterlaluan.
"Clara, lancang sekali kamu ha!". Teriak Linda, melirik ke arah pak Robby yang sudah ketakutan.
"Bos!". Salah satu anak buahnya, berbisik memberikan ide dan di angguki oleh tuannya.
"Hahahaha...Aku suka sekali dengan idemu,bagus, bagus. Baiklah,kalau tidak mau menyerahkan apartemen ini. Maka Bu Linda, harus ikut sana saya dan bertanggungjawab atas meminjam uang kepada. Bawa bu Linda,jangan sampai lepas. Kalau perlu seret paksa,paham kalian!". Perintah pak Robby, langsung di angguki kedua anak buahnya berbadan besar.
"Clara, tolong mamah nak! Jangan biarkan mereka di bawa mamah, berikanlah apartemen ini kepada pak Robby. Tolong mamah! Kasihani lah mamah,janji akan berubah nak! Tolong, mamah!". Linda, di tarik paksa dan meminta pertolongan kepada anaknya masih diam saja.
Clara,menyeka air matanya dan harus merelakan sang ibu pergi di bawa pak Robby.
Namun pak Robby,masih berdiri tegak dan menyeringai tajam ke arah Clara.
"Pak Robby,kenapa tidak keluar dari sini? Keluar pak,dari apartemen saya!". Perintah Clara, mengusirnya.
"Oh, tidak bisa begitu. Walaupun saya tidak mendapatkan apartemen ini,mana mungkin tak mencicipi tubuhmu. Tak masalah wajahmu tak cantik, tetapi di bagian bawah sempit menjepit". Kekehnya pak Robby, menutup pintu apartemen dan melepas sabuk pengamannya.
Clara, menggeleng kepala dan ketakutan sekali. Melangkah mundur,mencari sesuatu untuk menjaga dirinya.
"Aaaaaaa....!". Teriak Cakra, berlari menuju kamar . Tetapi pak Robby, sangat cepat dan bisa masuk ke dalam kamar. "Tidak!Tidak, pergi sana,jangan sentuh aku! Pergi!Tolong!Tolong!". Clara, berteriak-teriak meminta pertolongan.
Namun sayang, tidak ada yang mendengar pertolongannya. "Hahahaha.... Ayolah,kita bersenang-senang sayang. Kamu sok-sokan tidak mau,nanti malah mende-sah keenakan".
"Tidak,jangan sentuh saya pak. Saya mohon, ampunilah saya. Jangan sentuh saya,pak". Clara, menggeleng kepala dan menghindari pak Robby mencoba menangkapnya.
"Hahahhaaha... Kau tidak bisa pergi kemana lagi". Pak Robby, mencekal lengan Clara dan meronta-ronta histeris.
Air matanya mengalir deras,ketika pak Robby merobek bajunya secara paksa. "Aaaaaaaaa...Tidak! JANGAN LAKUKAN ITU,AKU MOHON! TIDAAAAAAAKKK...!".
Pak Robby,geram terhadap Clara terus meronta-ronta tak leluasa menguasai seluruh lekuk tubuhnya.
Plak!
Plak!
Bughhh!
Bughhh!
Beberapa tamparan keras dan bogem mentah di bagian perutnya, Clara. Membuat dirinya meringis kesakitan,tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Pak Robby, meneteskan air liurnya ketika melihat tubuh polos Clara yang menggiurkan sekali.
Hancurlah sudah kehidupan Clara,ketika pak Robby memperlakukan dirinya sangat kasar. Dia menangis meraung-raung menutupi wajahnya,merasa sangat sakit di bagian bawah. Memang dia tak perawan lagi, tetapi mendapatkan sikap kasar.
Pak Robby, semakin bersemangat menghunjam tubuh Clara dan tidak memperdulikan Clara yang menangis histeris.
"Hahahaha.... Sangat enak, ayolah jangan menangis terus. Mende-sah lah,aku ingin mendengar suara desa-han mu". Pak Robby, mencekik leher Clara dan menyodorkannya semakin kencang.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa....!". Teriak Clara, sekeras mungkin.
Setengah jam berlalu, akhirnya pak Robby menuntaskan hasratnya. Dia mengenakan semua pakaian, membiarkan Clara masih keadaan polos dan menangis kesegukan.
Tak hanya pak Robby saja,anak buahnya mendapatkan jatah untuk mereka.
Clara,yang tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah melayani mereka berdua sekaligus. Wajahnya babak belur, anggota tubuhnya juga. Tak bertahan lama,dia tak sadarkan diri.
Setelah puas menikmati Clara,anak buah pak Robby keluar dari kamar dan menyusul bosnya tengah bersantai di ruang tamu. Rupanya dia sedang menyuruh Linda, melayani si otong dan sambil merokok.
"Kenakan pakaian mu,bu linda. Ini semua belum seberapa, kamu harus membayar uang ku". Perintah pak Robby, dengan pasrah Linda menuruti perintahnya.
Pak Robby, bu Linda,serta anak buahnya keluar dari apartemen Clara.
Di sudut ruangan tersebut, Katrina tengah menatap kepergian mereka. Dia menyunggingkan senyumnya, mengetahui kehidupan mereka benar-benar hancur.
Puas rasanya, melihat sang bibi tercinta di tarik paksa oleh anak buahnya pak Robby.
"Aku yakin sekali,bibi Linda akan di jual pak tua itu. Kenapa Clara,tidak? Aku senang sekali,kalau mereka berdua di jual". Kata Katrina, tersenyum smrik.
Langkahnya berjalan dan masuk kedalam apartemen Clara. Membuka pintu kamar, terlihat jelas Clara tengah berbaring telentang dalam keadaan polos. Beberapa kali, Camelia mengabdi dan memotretnya. Beberapa menit kemudian, dengan akun berbeda sudah menyebar foto Clara tanpa busana.