SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Hutang


"Aku kecewa dengan mu, Camelia. Kamu benar-benar jahat,tega memperlakukan kakak ku dengan kasar. Mendorongnya jatuh ke bawah,dimana letak hati nurani mu ha? Kalau kamu tidak mau membantu kakakku, bertemu dengan paman. Tidak perlu kamu berbuat kasar,jahat kamu Camelia!". Ryan, langsung memarahi Camelia dan membantu kakaknya berdiri.


Camelia, menjauhkan diri dari Leo dan mendekati Ryan dengan tatapan tajam.


Plakkk...


Camelia, tersenyum smrik dan menampar pipi Ryan masih terdiam membisu. Ada ras perih di bagian pipi kanannya, Ryan tak menduga Camelia berani menamparnya.


Waw.... Camelia, seberani itu melakukannya.Batin Leo, mengangkat sebelah sudut bibirnya ke atas.


"Jangan berbicara macam-macam Ryan,kalau tidak tau kebenarannya. Asal kamu tau, kakakmu yang lancang ingin membawa tas ku pergi. Dia memaksa ku untuk meminjamkan uang kepadaku,lalu menagih uangnya kepadamu sebagai bayarannya. Asal kamu tau,aku sudah membantu mu". Camelia,geram dengan Ryan tak tau apa-apa.


"Ryan, apa yang di katakan Camelia tidak benar. Dia sudah memfitnah kakak, percayalah kepada kakakmu sendiri. Camelia,cuman orang lain dan jangan di percaya ucapannya. Camelia,anak yang licik mentang-mentang memiliki segalanya. Sama persis dengan pamannya,membuang kakak mu seperti sampah". Bantah Clara, menyunggingkan senyumnya ke arah Camelia.


"Cctv di parkiran ini ada,jika ingin membuktikan siapa yang benar". Sahut Leo, langsung. "Aku kecewa dengan mu Ryan, sangat kasar terhadap perempuan".


Mendengar ucapan Leo, sontak membuat Clara gelabakan. "Katakan kak,apa benar yang di katakan Camelia?". Tanya Ryan, melihat kakaknya cuman diam tak menjawab pertanyaannya. Ryan,mengusap wajah dengan kasar. "Ini adalah terakhir kalinya, aku mempercayaimu kak. Maafkan aku Camelia, terimakasih atas kebaikan mu. Aku serahkan kakak ku, terserah kamu apakan". Ryan, menundukkan kepalanya karena malu.


"Kamu ngomong apa sih, Ryan? Jangan sembarang loh,aku ini kakakmu. Cuman aku yang bisa membawa mamah, sedangkan kamu mana mau menolong mamah. Kamu bosnya Ryan kan?". Tanya Clara,ke arah Leo berdiri di samping Camelia.


"Iya,kak. Memangnya kenapa?". Tanya Leo, tersenyum kecil.


"Aku ingin meminjam uang 20 juta, untuk melunasi hutang mamah ku dan juga mamah Ryan. Bayarannya potong gajih Ryan, setiap bulan". Ucap Clara, sontak membuat Ryan terperangah mendengarnya.


"Kak Clara,jangan berbicara macam-macam. Aku tidak mau,bos Leo jangan mau. Aku mohon, biarkanlah mereka menyelesaikan masalah ini. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan hutang mereka, palingan kakak ku berbohong. Pasti hutang kakak ku,bukan hutang mamah". kata Ryan, membuat Clara geram dan menatap tajam ke arah adiknya.


"Diam kamu, Ryan! Mana bakti mu kepada orang tua,ha? Kamu lupa jasa mamah,yang sudah melahirkan mu?". Clara, mendorong tubuh adiknya dan terhayung ke belakang.


"Ini adalah rekaman cctv, memang benar ucapan Camelia". Leo, memperlihatkan ponselnya kepada mereka.


"Jika aku membawa ke jalur hukum, otomatis Tante Clara masuk penjara atas perampokan. Bagaimana Tante,mau?". Kata Camelia, tersenyum smrik.


"Camelia,kamu benar-benar jahat yah. Sama kaya paman-paman mu itu,gak punya hati. Termasuk kamu Ryan,aku kecewa karena memiliki seorang adik tak tau diri". Clara, menunjukkan jarinya ke arah Camelia dan Ryan.


Tentunya Leo,waspada terhadap Clara dan takut berbuat kasar kepada Camelia.


Para pengunjung kafe, terkejut-kejut mendengar teriakkan Clara semakin heboh saja.


Leo, mengangguk pelan."Tidak apa-apa, terimakasih sudah mengunjungi kafe ku". Matanya menatap ke arah Camelia, sudah masuk kedalam dan meninggalkan parkiran kafenya.


"Ryan,kamu mau kemana?". Clara,mengejar Ryan lumayan jauh melangkah.


"Cukup,kak! Aku tidak perduli dengan kalian lagi, silahkan saja. Mamah, menganggap aku anak durhaka sekalipun. Siapa suruh ha, meminjam uang kepada rentenir. Kalian memang serakah, tidak bisakah mengurangi ego kalian ha? Sudah tau jatuh miskin, sok-sokan jadi orang kaya". Ryan,menepis tangan kakaknya.


"Aku tidak tau,mamah yang nekad meminjam uang dan berfoya-foya". Sahut Clara, dadanya naik turun mengontrol dirinya.


"Ya sudah,suruh mamah yang melunasi hutang-hutangnya. Kalau perlu mamah dan kak Clara,menikah sana. Biar ada yang menafkahi, tidak menyusahkan ku seperti ini". Ryan,tau jika kakaknya enggan mencari pekerjaan. Meskipun wajahnya tak secantik dulu, setidaknya usaha dulu mencari pekerjaan dan jangan menyerah.


"Kamu itu,tega yah sama kami. Tega menelantarkan ibu dan kakakmu, asalkan kamu tau Ryan. Aku dan mamah, belum ada yang makan karena tidak ada uang untuk membeli makanan". Terlihat jelas di mata Clara, sudah berkaca-kaca.


"Siapa suruh,gak mau cari kerjaan. Jangan beralasan wajah kakak buruk rupa, selagi niat dan berusaha pasti dapat. Bersyukur mendapatkan pekerjaan apapun, jangan ngeluh dan ingin mendapatkan gajih yang besar". Ryan, lagi-lagi menepis tangan kakaknya. Ketika dia berlalu pergi, suaranya terkuras habis dan menahan rasa malu.


Clara, menghentakkan kakinya karena tak mendapatkan uang. "Sialan, berhutang kemana lagi aku". Gumamnya pelan, meninggalkan kafe Flower.


**************


Clara, uring-uringan masuk kedalam apartemen. Linda, menatap ke arah anaknya dan langsung menghampiri.


"Bagaimana Clara,kamu dapat uangnya? mamah takut nak, pasti rentenir itu datang ke sini dan menagih uangnya".


"Tidak ada bu, Ryan benar-benar kurang ajar. Dia sudah tidak memperdulikan kita lagi,ini adalah resiko mamah. Kok bisa sih,minjam uang dengan rentenir? Harusnya paham dong, resiko ke depannya nanti mah. Rentenir itu,bisa mengambil apartemen ini". Clara,kesal dengan mamahnya tanpa sepengetahuan meminjam uang dan jaminannya tempat tinggal mereka.


"Kamu sih,gak mau kasih mamah uang. Mamah, sudah kebelet pengen shopping dan jalan-jalan mall. Sumpek tau, hidup seperti ini". Sahut Linda,tanpa memperdulikan perasaan Clara.


"Mah,aku uang cuman sedikit buay makan sehari-hari kita loh. Jangan menuruti ego mamah,kita tidak sekaya dulu. Aku capek mah, menghadapi sikap mamah tak mengerti dengan perasaan kami. Pantesan aja, Ryan pergi dan tak memperdulikan mamah. Lama-kelamaan aku juga pergi, silahkan mamah cari uang untuk melunasi hutang dari rentenir dan aku tidak perduli.TITIK!". Tegas Clara, sudah lelah menghadapi ibunya yang tak paham dengan keadaan sekarang.


"Ee...Jangan jadi anak durhaka kamu, sudah wajah jelek sok belagu lagi. Kamu anak pertama mamah, sudah sepatutnya menuruti perkataan ku dan memberikan uang serta kebahagiaan. Mau kena azab kamu,ha?". Linda, menunjuk-nunjuk jarinya di kepala Clara.


"Terserah mah,aku tidak perduli! Aku capek, dengan sikap mamah seperti ini. Pikir sana baik-baik, bagaimana melunasi hutang mamah". Clara, berlalu meninggalkan Linda yang masih memanggil namanya.


Langkahnya terhenti karena mendengar bel apartemen berbunyi, jantungnya berdegup kencang. Sudah pasti rentenir dan anak buahnya,menagih uang yang sudah di janjikan Linda.