
"Bi Darla!". Jecky memanggil pelayan mengurus keponakan Tuannya. Setelah Jhonny, memerintahkan memanggil bi Darla karena merasa ada sesuatu yang tidak beres
Jhonny, menghempaskan tubuhnya di atas sofa.Matanya calingukan melihat sekeliling dan menajamkan pendengarannya. Berharap ada suara Camelia, samar-samar.
Jecky, asisten pribadi kepercayaan Jhonny. Sekaligus tangan kanannya, dan mengurus apapun.
Bi Darla, tergesa-gesa menuju ruang tamu dan menundukkan kepalanya. "Tuan Jecky, memanggil saya?".
"Dimana nona Camelia,bi?". Tanya Jecky,melirik sekilas ke arah Jhonny.
Bi Darla,tak berani menatap ke arah Jhonny. Bibirnya bergetar,karena ketakutan.
"Camelia,ikut bersama Clara kediaman Sean. Katanya dia mengenali adiknya Clara, yaitu Ryan". Sandra,sang ibu langsung menjawabnya.
"Kenapa mamah, mengijinkan dia ke sana? Apa mamah yakin, mereka tidak mencuci otak Camelia". Sahut Jhonny, tangannya mengepal erat. Ketika Camelia, mengenal pria lain.
"Tidak ada apa-apa, Camelia sudah besar. Biarkanlah dia menghabisi waktunya, untuk bermain-main". Sandra, memberikan kode agar bi Darla pergi.
"Jecky, jemput Camelia di kediaman Sean. Sekarang juga!". Perintah Jhonny, dadanya naik turun mengontrol dirinya.
"Astaga, kenapa kau bersifat seperti ini? Apa jangan-jangan kamu, menyukai keponakan sendiri". Sandra, cengir kuda dan menggoda Jhonny.
"Mah,aku sudah berjanji kepada orangtuanya Camelia. Selalu menjaganya, tidak akan pernah terjadi apa-apa dengannya. Cukup sekali aku pernah gagal,". Tegas Jhonny, berlalu naik ke atas dan meninggalkan Sandra.
"Ck,aku sudah lama mengenali Jhonny. Walaupun aku bukan ibu kandung mu, tetapi aku mengenalimu luar dalam". Gumam Sandra, menggeleng kepalanya.
*************
Sedangkan Camelia,bersama Ryan berkeliling di kediaman Sean.
"Siapa nama anak itu?". Tanya Camelia, pura-pura tidak tahu apa-apa.
Anak yang di maksud adalah anak Rendy dan Bella. Katrina, menatap tajam ke arah bocah itu. Yang tengah bermain-main, dengan bonekanya.
"Namanya Sheila,kenapa kamu tiba-tiba menanyakan nama anak itu?". Tanya Ryan, penasaran.
"Hehehehe...Aku cuman kepo saja,". Kekehnya Camelia, berlalu pergi untuk berkeliling lagi.
"Aku permisi dulu,mau ke toilet. Biasa kebelet nih, jangan kemana-mana yah". Pinta Ryan, langsung di angguki Camelia.
Mata Camelia, calingukan melihat sekeliling dan mendekati bocah itu yang main di pinggir kolam dan tidak memperhatikan Camelia mengendap-endap.Sangat berhati-hati agar tidak mengetahui dirinya masuk kedalam ruangan cctv. Di kediaman Sean, Camelia sudah mengetahui sudut mana yang tidak terkena cctv.
Diam-diam Camelia, menutup pintu berlahan. Apa lagi kalau bukan, mematikan cctv di seluruh kediaman Sean. Cuman beberapa cctv,yang di pasang itupun tempat yang tertentu saja. Setelah selesai aksinya, barulah melanjutkan langkah rencananya lagi.
Setelahnya Camelia, mengeluarkan boto kecil berisi minyak di dalam tasnya. Dia menyirami tangga paling atas, berharap ada seseorang yang lewat dan tergelincir ke bawah. Minyak tersebut sudah di siapkan dari mansion, sebelum berangkat.
Setelah selesai, barulah kembali ke ruang cctv untuk memulihkan kembali. Semuanya sudah beres, menunggu hasilnya saja.
Camelia,tersenyum sumringah. Karena Sheila,sibuk dengan bonekanya. Niatnya untuk bergabung,agar membuang jejak semata.
"Sheila, coba main bonekanya lempar-lemparan. Pasti seru deh,". Kata Camelia, tersenyum manis.
Sheila, tercengang mendengar ucapan Camelia. "Lempar-lempar, emangnya seru". Kata Sheila,nampak keheranan jadinya.
"Camelia,sama aku yuk!". Tiba-tiba Vanya, menarik lengan Camelia. Agar lebih dekat dengan dirinya, membuat Camelia risih saja."Keponakannya aunty,aku bawa yah. Temannya,dah...!".
Camelia, pasrah dan mengikuti langkah kakinya Vanya. "Emangnya kita mau kemana?". Tanyanya, langsung menarik lengan dari genggaman Vanya.
"Aaaaaaaaa.....!". Teriak seseorang dari kejauhan, sontak membuat Vanya terkejut.
"Suara siapa? Kenapa berteriak,ayo kita ke sana". Vanya, langsung menarik lengan Camelia sedikit berlarian.
Degggg....
Target utama jatuh kepada Bella, membuat Camelia semakin bahagia. Karena wanita itu,tak sadarkan diri di pangkuan Rendy. Darah segar mengalir deras di kepalanya, bahkan di pangkal paha juga.
Semua orang lain,syok melihat kejadian itu. "Tidaaaakkkk....Bella,anakku!". Rendy, meraung-raung dan langsung mengangkat tubuh istrinya itu. "Aaarghhh...Awas saja,siapa yang berani melakukan ini. Jika keluarga pak Doni, terbukti melakukannya. Maka siap-siaplah untuk berperan,karena sama saja mengibarkan bendera perang". Teriak Rendy,penuh dengan amarahnya.
Katrina, tertawa terbahak-bahak dalam hatinya. Rupanya Bella,tengah mengandung anak kedua mereka. Satu harapannya, semoga kandungannya tidak selamat.
"Aku sebagai ibu mertuanya Bella, tidak terima atas kejadian ini. Bersiaplah untuk mendapatkan hukuman setimpal,". Bentak Lena, dengan tatapan tajam.
"Cukup! Jangan sembarang tuduh, terhadap keluarga ku. Bisa jadi istri mu,yang lalai dan ceroboh". Bantah keras Doni, langsung.
"Ck,apa kalian punya bukti ha? Sok-sokan sudah pasti menuduh kami,yang melakukannya ha". Teriak Linda, ikut-ikutan emosi.
Sedangkan ibu mertuanya Bella, menangis kesegukan meratapi nasib menantu dan takut kehilangan calon cucunya. Rendy, langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa ke rumah sakit.Berharap istri dan anaknya, selamat dan baik-baik saja.
"Pasti kalian kan, melakukan ini! Kalian harus bertanggung jawab,". Teriak Jessica, dengan tatapan tajam. "Lihatlah,kalian puas kan. Kakak ipar kami jatuh dari tangga,apa lagi tengah mengandung Keponakan kami".
Plakkkk....
"Jangan asal tuduh kamu,". Bantah Linda, langsung.
"Bisa jadi,kau pelakunya Jessica". Clara,malah menyalahkan Jessica.
Jessica,terdiam membisu karena pipinya terasa perih sekali. Bagaimana bisa, seorang artis terkenal dan terpopuler di tampar oleh Linda.
"Camelia, tidak salah kak. Dia bersama ku tadi,". Vanya, langsung membela Camelia. Walaupun yang lain,mana mungkin menuduhnya.
"Tenang saja, Vanya. Aku tidak menyalahkan Camelia, melainkan mereka para benalu". Tunjuk Jessica, dengan tatapan murka.
"kakak ipar mu yang jatuh,itu kesalahannya sendiri. Aku dan keluargaku, tidak ada salah apapun". Bantah Doni, dengan keras.
"Nona Camelia, silahkan pulang atas perintah tuan Jhonny". Jecky,datang dan menjemput dirinya. Yang lainya langsung terdiam, tidak berani berkata apa-apa lagi.
"Jecky, beritahu paman Jhonny. Aku tidak bisa pulang sekarang,karena ada kecelakaan di sini. Sudah pasti polisi akan datang,lalu interogasi satu persatu antara kami". Ucap Camelia,mana mungkin melewati dramatis ini.
"Camelia,pulanglah. Kami bisa menyelesaikan masalah ini,mana mungkin kamu tersangka atas kecelakaan kakak ipar Bella". Kata Jessica, dengan lemah lembut.
"Benar sekali Camelia, pulanglah sayang. Kami tidak apa-apa,kok". Clara, mendekati Camelia.
"Tidak mau,aku khawatir dengan keadaan kalian Tante. Apa kata orang lain,". Camelia, memasang wajah sedihnya.
"Nona Camelia, silahkan pulang sekarang. Tuan Jhonny, sangat marah besar jika tidak di turuti kemauannya". Pinta Jecky, dengan suara sedikit mengiba.
"Tante dan kalian, apa gak masalah aku pulang?". Tanya Camelia, sebenarnya dia tidak ingin pulang dulu.
"Tidak apa sayang, pulanglah". Ucap Linda,mengelus lembut rambut panjangnya Camelia.
"Baiklah, terimakasih atas semuanya. Maaf,aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Aku benar-benar syok melihat kecelakaan itu". Kata Camelia,menyeka air matanya dan di peluk Clara.
Dengan perasaan senang, Camelia langsung mengikuti langkah Jecky untuk pulang ke mansion Allen. Tugas pertama sudah selesai, nanti selanjutnya. Ngomong-ngomong, bagaimana nasib anak Rendy dan Bella.
"Aaaaaaa....Nona Sheila!". Terdengar teriakan pelayan, begitu keras. Namun Camelia,malah tersenyum mengerikan.