
Mendengar ucapan Camelia,siapa pelaku yang sudah berani sekali ingin menculiknya.
Jhonny, bergegas menuju kediaman orangtuanya Arsen. Memerintahkan anak buahnya, mencari keberadaan Arsen yang sudah berani membangun singa yang tertidur pulas.
Bughhh..!
Bughhh...!
Wisnu,ayah kandungnya Arsen sudah babak belur di pukul Jhonny dan anak buahnya. Terkapar di lantai, istrinya menangis kesegukan dan meminta ampun kepada Jhonny untuk berhenti menghajar suaminya.
"Mas Wisnu,bangun! Jangan tinggalkan aku,mas". Isak tangis sang istri, memangku kepala suaminya. "Tuan Jhonny, kami tidak tau dimana Arsen? Percayalah Tuan, maafkan kesalahan anak kami semata wayang. Dia adalah anak kami satu-satunya,Tuan!". Lisa, berharap mendapatkan iba kepada Jhonny.
"Cuiihh...Saya tidak akan melepaskan anak Anda, sudah berani menculik keponakan saya satu-satunya. Beruntung sekali, keponakan saya bebas dan bisa menyelamatkan diri. Bagaimana perasaan saya,jika anak anda berhasil menyakiti keponakan saya? Coba anda pikirkan baik-baik,saya seperti ini karena anak anda sudah berulah. Jadi, jangan salahkan saya menghabisinya!". Tegas Jhonny,duduk santai.
"Tuan Jhonny,ampuni anak saya! Saya berjanji untuk memberikan pelajaran kepadanya,tolong jangan melakukan apapun. Jangan sampai melayangkan nyawanya,saya mohon Tuan!". Lisa, bersimpuh di kaki Jhonny.
Dengan gerak cepat, anak buah Jhonny menyeret Lisa agar menjauhinya.
"Ayo,kita pergi dan cari anak itu. Jangan sampai dia lolos,". Tegas Jhonny, tersenyum smrik.
Lisa,yang pasrah menerima takdirnya. Sudah satu kali, Jhonny memperingati anaknya. Kini berulah kembali,tak akan dapat kata ampun dari Jhonny.
Sepanjang perjalanan menuju mansion, Jhonny tak tenang karena pelaku belum tertangkap.
"Tuan,ada seseorang menghubungi dimana anak pak Wisnu". Kata Jecky, sontak membuat Jhonny mengangguk dan senang mendengarnya.
***********
Sedangkan Camelia, tengah bersantai di kamar. Tak sabar menunggu berita Arsen, sudah pasti nyawanya tak tertolong lagi.
"Hahahaha... Makanya jangan main-main dengan ku, Arsen nyalimu memang berani". Kata Camelia, kebetulan pintu kamarnya tak terkunci.
Rupanya Clara,tengah menguping perkataan Camelia. Awalnya dia berniat untuk masuk kedalam kamar Camelia,ada yang di bicarakan.
"Camelia, rupanya kamu seorang gadis kecil yang licik". Kata Clara, nyelonong masuk kedalam.
"Eehh...Ada Tante Clara, emangnya masalah untuk mu? Lagipula aku tidak berbuat apa-apa,aku cuman mengatakan yang sebenarnya". Kekehnya Camelia,duduk santai di tepi ranjang.
"Apa benar kamu menginginkan apartemen,lalu merobohkan bangunan perusahaan Sean?". Tanya Clara,dia samar-samar mendengar pembicaraan Jordan dan Jhonny tadi.
"Kalau iya,kenapa Tante? Toh,bukan uangmu juga hihihi...!". Jawab Camelia, tersenyum manis. Hahahaha....Takut yah,karena keluarga mu sangat ketergantungan dengan keputusan ku. Jangan harap aku mengubah pikiran ini,karena kalian pasti jatuh miskin semiskin mungkin.
"Camelia,kamu masih kecil. Tidak pantas memerintahkan pamanmu, melakukan hal ini. Apa kamu tidak berpikir jernih, sama saja menyusahkan pamanmu. Batalkan keinginan mu ini, karena ayahku masih menginginkan perusahaan Sean!". Tegas Clara, berharap Camelia langsung ciut.
"Apa tadi,aku masih kecil dan tidak berpikir dewasa. Lalu, bagaimana dengan Tante ha? Apa sudah berpikir dewasa,belum?". Tanya Camelia, memainkan kedua alisnya. Dia masih ingin bermain-main dengan, Clara.
"Oh...! Aku tersentuh dengan perkataan, Tante.sudah berpikir dewasa,sejauh ini tidak tau siapa pelaku yang sudah merusak wajah Tante? Padahal Tante Clara,nampak santai-santai dan tidak bertindak apapun.Apakah paman Jordan, membantu istrinya? Nyatanya tidak kan, aduhhh....kasian sekali,". Ejek Camelia, puas melihat mimik wajah Clara yang gelisah gusar.
"Camelia,apa yang kamu katakan?Tidak pantas kamu berkata seperti itu,paham!kamu masih kecil,tapi sikapmu tak wajar". Bentak Clara, terkejut mendengar ucapan keponakan suaminya.
"Aku sudah dewasa, Tante. Wajarlah kalau aku, berkata apapun. Setidaknya Tante,sadar diri dong dan berpikir panjang. Menikah dengan paman Jordan,bukan karena dasar cinta. Melainkan untuk balas dendam,atas kematian adik Liliana. Kasian sekali kamu Tan,mana tidur berpisah lagi". Ejek Camelia, tersenyum merekah.
"Kau, tidak tau apa-apa tentang kematian Liliana. Sebenarnya aku,bukan sepenuhnya membunuh adiknya. Yang membunuhnya adalah Leona, kakaknya Liliana sendiri. Mereka berdua saudara kembar,aku takutnya Liliana disini melainkan Leona. Sudahlah,aku tidak paham tentang masalah ini. Aku mohon kepadamu, Camelia. Jangan meratakan perusahaan Sean, biarkanlah tetap beroperasi seperti dulu. Aku mohon Camelia,". Ucap Clara, dengan iba.
Aku baru tau,jika Liliana memiliki saudara kembar.Maksud dari perkataan Clara,apa? Sudahlah untuk apa aku ikut campur urusan pribadi mereka, selagi Liliana tidak mengusikku. Batin Camelia, manggut-manggut saja.
"Camelia,kenapa melamun? Jawab perkataan ku, ubahlah pikiran mu untuk meratakan perusahaan Sean. Aku memohon kepada mu, biarkanlah perusahaan itu berdiri tegak". Kata Clara, menangkup kedua tangannya ke depan.
"Oh, walaupun kamu bersujud kepada ku dan menangis darah sekalipun. Aku tidak akan pernah, mengubah pikiran ku. Perusahaan Sean, sudah jadi milikku yang di berikan oleh paman Jhonny. Jadi, apapun yang aku lakukan terserah akulah. Kalian semua tidak berhak mengatur segalanya,paham!". Camelia, tersenyum smrik.
Clara,yang sudah geram langsung mencekram lengan Camelia. "Aku katakan sekali lagi, Camelia! Jangan lakukan itu, turuti perkataan ku".
Secepatnya Camelia, menghempaskan tangan Clara dan menendang perutnya.
Bruuukk....
"Aaakkhh...!". Pekik Clara, kepalanya terbentur tepi ranjang.
Camelia, tersenyum sumringah dan membenarkan rambutnya. "Astaga! Baru segitu aja,kamu kalah dengan bocah ini".
"Kurang ajar sekali kamu, Camelia! Aku ini Tante mu, tidak pantas sikapmu seperti ini. Apa jadinya jika Jordan, mengetahui sikap keponakannya menyakiti istrinya!". Teriak Clara,cukup keras. Beruntung kamar Camelia, kedap suara dan tidak terdengar oleh orang luar.
"Hahahaha....Mau mengadu kepada paman Jordan? Oh, silahkan Tante Clara. Ayo,siapa yang mendapatkan hukuman? Aku atau Tante Clara, taukan aku keponakan yang paling di sayang". Camelia, tersenyum mengejek ke arah Clara.
"Aaarghhh....Awas kamu,aku tidak akan tinggal diam!". Bentak Clara, berusaha untuk berdiri tegak.
"Aduhhh...Tante, beraninya cuman sama aku. Menghadapi Liliana saja, nyalinya langsung ciut dan kabur. Bahkan,merusak wajah Tante sendiri saja tidak mencari tau siapa pelakunya. Hahahaha....Kasian sekali,berani dengan bocah seperti ku. Padahal kalah dengan ku tadi, cuiihh...!". Ucap Camelia, dengan tatapan tajam.
Clara, mengepalkan tangannya dengan erat. Dengan perasaan dongkol,dia langsung meninggalkan kamar Camelia.
Bruuukk...
Clara, yang tergesa-gesa keluar dari kamar dan tertabrak Liliana. "Jalan itu, lihat-lihat dong. Dasar!". Gerutunya, memandang sinis ke arah Liliana.
"Ck,kamu yang salah.Main tabrak aja, jalan liat ke depan bukan belakang!" Liliana, membentak keras kepada Clara.
"Sialan,kau yang salah. Terutama tinggal di mansion ini, kamu bukan siapa-siapa di sini. Tidak malu kah menumpang di mansion Allen,kalau aku wajarlah seorang menantu". Ejek Clara, tersenyum. Tidak memperdulikan Liliana,yang mau menerkam mangsanya hidup-hidup.