SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Pelajaran


 "Kami sepakat untuk tidak mengizinkan kamu menikah dengan wanita ular itu, suamiku". Kata Wina, menatap tajam ke arah Ardan.


"Kami tidak mau memiliki adik madu,sok belagu kaya dia". Sambung Selfi,membuang mukanya.


"Kami tak sudi memiliki adik madu seperti dia, suamiku tau sendiri bukan? Jika kami dan wanita ular itu,musuh bebuyutan dari dulu". Sahut Anggun, tersenyum kecil.


"Kami mengizinkan kamu menikah lagi, asalkan pilihan kami sendiri dan harus lulus seleksi kami. Kalau adim madunya Camelia,kami tidak perlu melakukan tes-tes segala". Kata Ning, mengulum senyumnya.


"Eee.... Ngapain kalian membawa nama calon istri ku,tak akan aku biarkan Ardan mengambil Camelia". Ucap JJ Abrams, langsung dan mengecup kening Camelia yang duduk di pangkuannya.


Camelia,tengah menikmati buah anggur baru di petik. "Husss.. Jangan ikut campur urusan mereka, cukup di liat dan nikmat pertikaiannya". Kekehnya Camelia, memberikan satu butir anggur ke dalam mulutnya JJ Abrams.


 "Sayang,jangan kau turunkan kandang besinya. Apa kamu tega melihat suamimu,di santap para singa-singa yang kelaparan ini?". Ardan, memasang wajah sedihnya.


"Lebih baik kamu di santap singa-singa yang kelaparan itu, daripada menikah dengan wanita ular. Pastilah wanita ular itu, ingin menghancurkan segalanya". Ucap Wina, menahan amarahnya.


"Berjanjilah kepada kami, suamiku. Kau tidak akan menikah dengan seorang wanita ular itu,kalau masih nekad untuk menikahinya. Hari ini juga,ajal mu di jemput oleh maha pencipta". Ning, mencibik bibirnya yang marah.


"JJ Abrams, tolonglah aku! Lihatlah, istri-istriku otaknya di pengaruhi Camelia. Kau harus bisa menolong ku,akan aku tepati janji ku". Ardan,kali ini benar-benar memohon kepada JJ Abrams.


JJ Abrams,meneguk salivanya menatap wajah Camelia menyeringai tajam. "Hehehehe...Aku tidak berani Ardan,ini adalah masalah wanita. Aku mana sanggup melawan mereka, sudah pasti tubuhku akan di panggang hidup-hidup". JJ Abrams, mengangkat kedua tangannya ke udara.


 "Buka kandang besi di sebelah suamiku,kita liat siapa di salam?". Perintah Anggun, kepada anak buah suaminya itu.


Ardan,mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tai siapa di dalam kandang besi itu, pasti Citra yang ingin di nikahinya.


"Aaaaaaa....Aku dimana? Ha...Ardan,tolong aku! Tolong aku,aku tidak mau mati sekarang". Citra, begitu ketakutan ketika Selfi mulai menurunkan kandang besi Citra.


"Sayangku Selfi,jangan lakukan itu. Aku tidak mau, jika tanganmu yang mulus membunuh seseorang. Hentikan istri-istri ku tercinta,jangan lakukan itu". Pinta Ardan, memohon kepada istrinya.


"Ck,itu semua kesalahanmu bos. Makanya jangan sok belagu,sama wanita yang diam-diam lebih kejam". Sahut Camelia, menjulurkan lidahnya.


Ardan,geram terhadap Camelia yang seenaknya sendiri mengejek-ejek dirinya.


 "Bilang sama dia, suamiku. Kalau kamu tidak akan menikahinya, sampai kapan pun". Perintah Selfi, menyeringai tajam ke arah Citra.


"Tidak! Ardan, kekasihku dan berjanji akan menikahi. Dia akan menggelar pesta pernikahan yang mewah,kalian tidak berhak melarangnya. Seharusnya kalian tau diri,kalau bukan kekasih ku yang bekerja keras. Mana sangga memenuhi kebutuhan kalian,yang terbilang tak sedikit dan berpenampilan mewah". Citra, tersenyum smrik ke arah istri-istrinya Ardan.


"Oh, lihatlah suamiku sayang. Belum jadi apa-apa,dia sudah berbicara lancang terhadap kami. Jadi itu,yang mau kau jadikan adik madu kami?". Kata Wina, dadanya naik turun mengontrol dirinya.


"Cuiihh... Kau kira kamu wanita manja, begitu? Tanpa menikah dengan bos Ardan,kami lebih dulu memiliki kehidupan mewah". Sahut Anggun, mengacungkan jari tengahnya.


"Suamiku,jika kamu menikah dengan wanita ular ini. Aku lebih baik berpisah dengan mu, jangan pernah menolak keinginan ku". Anggun,tak main-main dengan ucapannya.


"Astaga! Jangan berkata seperti itu, sayangku Anggun. Sampai kapan pun,aku tidak akan menceraikan kalian". Ardan, menggaruk-garuk kepalanya yang tengah kebingungan.


"kalau kamu tidak mau kehilangan kami, silahkan kamu bunuh wanita itu. Kalau kamu biarkan dia berkeliaran dimana-mana, takutnya dia malah nekad. Ular tetaplah ular,yang menusuk kapanpun". Tegas Wina,tidak memperdulikan tatapan suaminya mengiba memohon.


"Kau serakah Ardan, sudah mendapatkan istri-istri yang baik. Ingin kau sia-siakan,demi mengambil batu kerikil di tumpukan sampah!". Teriak JJ Abrams, mengejek Ardan.


"Iya,mana bau tau". Sambung Camelia, cekikikan menahan tawanya.


"Tepati janji mu Ardan,kau akan menikahiku". Teriak Citra,geram terhadap istri-istrinya Ardan yang begitu nekad seperti ini.


Citra,syok berat mendengar Ardan yang tidak memilihnya.


"Kau dengar baik-baik Citra,suami kami tidak menginginkan dirimu". Wina, langsung melepas rantai di tangannya.


"Tidaaaakkkk....Aaaaaaa...!". Citra, berteriak keras ketika kandang besinya meluncur ke bawah.


Braakkkk....


Kandang besinya jatuh ke tanah,yang di kelilingi oleh singa-singa kelaparan.


"Aaaaaa...Tolong! Tolong!". Teriak Citra, menatap wajah istri-istri Ardan tersenyum sumringah.


Roaaaaarrrrr....


Singa-singa mulai berkeliling di kandang besinya, Citra.


Suara mengaum keras, Citra panik melihat sekelilingnya. Pintu keluar di gembok menggunakan rantai besi,tak bisa berbuat apa-apa dan pasrah saja.


Roaaaaarrrrr...


Brakk..


Brakk..


"Ardan! Tolonglah, aku! Ardan, tolonglah aku!Aaaaaa.....!"Citra, semakin panik ketika singa-singa mulai brutal dengan kandang besinya.


"Aaaarrgghh....Aaaaaa....!". Lengannya terkena cakaran para singa-singa, meringis kesakitan.


Sedangkan Ardan, sudah keluar dari kandang besinya. Namun, istri-istrinya masih merajuk karena sikapnya.


Kali ini,ujian berat bagi Ardan. Karena istri-istrinya akan pulang ke rumah orangtuanya, pasti mendapatkan ceramah panjang dari ibu mertuanya.


Istri-istri Ardan, memeluk Camelia secara bergantian. "Terimakasih, Camelia". Ucap mereka,merasa senang dengan idenya.


Camelia, melambaikan tangan menatap kepergian mereka. Ardan, ngos-ngosan mengatur nafasnya berlarian mencari sang istri.


"Ha...Ha...Ha...Sayang,jangan tinggalkan aku!". Teriak Ardan, berlarian sekencang mungkin."Aku menyesal sudah mengenal mu, Camelia". Kata Ardan, sebelum pergi meninggalkan kediaman JJ Abrams.


"Sekarang sudah selesai, sudah waktunya membayar apa yang kau pinta kepadaku". JJ Abrams, mengangkat tubuh Camelia dan membawanya ke dalam kamar.


Berlahan JJ Abrams, membaringkan tubuh sang kekasih. Menciumnya dengan lembut, membuat sang empunya merasa geli.


"Bolehkah". Lirih JJ Abrams, dengan suara seraknya. "Kau pasti membutuhkan belaian bukan, sudah lama tidak di sentuh Katrina". Bisik JJ Abrams, memabukkan pikiran Katrina.


"Ahhhh...Jangan,aku tidak siap". Katrina, berusaha mengontrol akal sehatnya jangan sampai kebablasan dulu.


"Aku akan memakai pengaman,jika kamu tidak mau hamil. Menikah dengan ku,aku tidak tahan lagi". Bisik JJ Abrams,akal sehatnya sudah tak wajar. Terus-terus membelai lembut rambut sang kekasih, tangannya ke sana kemari.


"Bolehkah,sayang!". Pinta JJ Abrams, memandang lekat manik-manik mata Katrina. Berharap mendapatkan lampu hijau, untuk menyentuhnya lebih dalam.