
"Aaaaaa...Aduhh....Aduhh...Nek, ampun! Ampun,nek!". Pekik Camelia, ketika telinganya di jewer oleh Sandra.
Jordan dan Lili sang istri cekikikan tertawa melihat Camelia mendapatkan hukuman.
"Bagus yah! Di mansion banyak masalah,kamu malah asyik-asyiknya pergi beberapa hari. Apa kamu menghindari nenek mu ini,janji ingin membawa pacarmu ke sini. Nyatanya mana, Camelia? Kamu mulai berani berbohong kepada nenek,lalu kabur!". Bentak Sandra, dengan mata nyalangnya.
"Aaauu...Aduhh...Ampun nek! Aku tidak berbohong nek,dia masih di luar negeri". Camelia, mengelus kupingnya memerah sudah.
"Bantah terus... perkataan nenekmu ini, jangan bilang masih mengharapkan pamanmu Jhonny kan?". Delik mata tajam, Sandra.
"Ya ampun!". Camelia, menepuk keningnya. "Aku tidak mengharapkan paman Jhonny,ayolah. Nenekku sayang, jangan menaruh rasa curiga apapun kepadaku. Ini adalah fakta sebenarnya,jika kekasih ku masih sibuk".
"2x kamu sudah membohongi nenekmu ini, haruskah aku percaya padamu lag?". Tanya Sandra, menyipitkan bola matanya.
"Hehehehe... Harus nek, karena aku adalah cucu tersayang nenek yang paling imut dan manis". Bujuk Camelia, mengelus punggung tangan sandra. Ampun dah,kalau nenek-nenek marahnya bisa lama dan susah di bujuk.
"2x kamu sudah mengecewakan nenek mu ini,mau sampai kapan mengecewakan perasaan nenek?".
"Aku tidak bermaksud mengecewakan perasaan nenek,tapi takdir berkata lain". Camelia, pasrahkan diri sendiri karena Sandra tak mempercayainya..
"Mah, Camelia tidak berbohong kepada kita. Bukannya siang tadi, sudah ke sana tempat kerjanya. Bahkan mamah, mendengarnya sendiri jika kekasih Camelia sibuk ke luar negeri". Jordan, langsung menangani masalah ini.
"Terus,kapan katanya pulang?". Tanya Sandra, menatap tajam ke arah cucunya.
"Dia akan datang kok,ketika kelulusan nanti". Jawab Camelia, cengengesan.
"Yakin? Gak bohong lagi,atau malah lebih parah". Tatapan Sandra, semakin tajam.
"Nek,aku tidak bisa menjanjikan soal itu. Apapun yang kita rencanakan,bisa jadi tak sesuai". Jawab Camelia, tersenyum manis
"Ck,". Sandra, berdecik kecil.
"Camelia pasti membawanya kepada nenek,jangan marah yah". Bujuk Camelia, mengedipkan bola matanya. "Oh yah,aku lupa memberitahu paman Jordan. Sudah lama sih,tante Clara menghilang dan tidak tau kemana. Setelah berpisah dengan suaminya,tak lupa membawa uang banyak. Takutnya dia malah operasi plastik,lalu menggoda paman Jordan. Hati-hati loh". Kekehnya Camelia, tersenyum sumringah.
"Hmmmm...Pasti paman hati-hati kok,kamu tenang saja". Jordan, langsung menjawab perkataan Camelia.
"Eeee..Clara itu,mantan istri mu kan? Dia seorang artis terkenal juga,tapi sayang wajahnya rusak". Sahut Lili, memandang wajah suaminya.
"Sayang,jangan memikirkan wanita itu. Meskipun dia berniat untuk menghancurkan rumah tangga kalian,tapi ingat saling percaya. Kau juga Jordan,jangan macam-macam dengan wanita manapun. Mamah, tidak rela menantu ku ini tersakiti". Ancam Sandra, langsung.
"Bakalan jadi perkedel kentang,kau nanti paman". Sambung Camelia, menutup mulutnya dengan tangan.
"Tidak hanya Jordan saja,kau juga Camelia. Sudah beberapa kali ini,kamu mengecewakan perasaan nenek". Sahut Sandra, langsung membungkam mulut Camelia.
"Huuuu... Emang enak,kau kena juga". Ejek Jordan, mengubah ekspresi wajahnya.
"Menyebalkan sekali,kau pun sama". Balas Camelia,tak mau kalah.
"Jangan saling menyalahkan,kalian sama kok. Sudahlah,kita tidur sudah larut malam. Jhonny, tidak pulang karena menemani Olivia. Beruntung sekali,anak Olivia bisa di selamatkan. Mamah, sudah hampir jantungnya mendengar keadaan Olivia. Berharap Jhonny, benar-benar berubah dan menjalani rumah tangganya seperti pada umumnya". Sandra, tersenyum dan merangkul pundak cucunya.
Tinggallah Jordan dan istrinya masih menikmati menonton film di ruang tamu mansion.
"Mendengar ucapan Camelia,aku merasa was-was". Kata Lili, memandang wajah suaminya.
"Jangan memikirkan macam-macam, Clara tak semudah itu masuk kedalam rumah tangga kita. Aku sudah melupakannya Lili, cuman kamu seorang di hatiku". Jordan,membawa istrinya ke dalam pelukannya.
**********************
Di rumah sakit, Jhonny masih setia menemani Olivia. Meskipun dia sibuk dengan laptopnya,ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan.
"Jhonny,apa kamu mengkhawatirkan keadaan anak kita?". Tanya Olivia, masih berbaring lemah di ranjang pasien.
"Jangan memikirkan macam-macam, fokuslah dengan kesembuhan mu. Aku akan menemanimu, tidurlah jauh lebih baik". Jhonny,menghela nafas dan melepaskan kacamatanya.
"Ck,apa karena anak ini kau masih mempertahankan diri ku? Seandainya anak ini,tak selamat pasti kau meninggalkan ku". Olivia, tersenyum getir.
"Olivia,detik ini aku belum bisa mencintaimu. Maaf,apa lagi atas pengkhianatan terhadap ku. Kau malah memilih Li Yun, nyata-nyata ingin membunuhmu". Jhonny, menyunggingkan senyumnya.
"Aku terpaksa melakukan ini,hatiku sakit Jhonny. Kau belum bisa mencintai ku, masih mencintai keponakan mu itu. Hatiku masih tidak terima dengan Camelia,karena dia sangat spesial bagimu". Air bening menetes di kedua sudut matanya.
"Jangan menyalahkan Camelia,dia tidak tau apa-apa. Cinta kamu tumbuh, sebelum kau masuk kedalam kehidupan ku. Ingat itu, Olivia! Kita di jebak oleh seseorang, sampai detik ini aku tidak tau. Apa jangan-jangan,ini adalah rencana licik mu". Jhonny, menaruh rasa curiga kepada istrinya.
"Segitunya kamu mencurigai ku, Jhonny? Tidak bisakah memikirkan perasaan ku, menjalani rumah tangga seperti pada umumnya. Aku sebagai istri, ingin di cintai sesosok suami bukan seperti musuh". Kata Olivia, dalam isak tangisnya.
"Aku sudah bilang kepadamu, jika ingin bertahan dalam pernikahan ini. Silahkan saja,akan tetapi aku memerlukan waktu untuk mencintai mu. Entah sampai kapan,setahun,dua tahun,atau bertahun-tahun". Jhonny, memijit pelipisnya dan menutup laptop.
"Kau benar-benar egois, Jhonny". Olivia, merasakan hatinya teriris-iris mendengar ucapan sang suami.
"Terserah kamu bilang apa, Olivia. Jika kamu pergi karena Lela dalam berjuang,aku tidak masalah. Asalkan kamu tau, aku tidak akan pernah melupakan kewajiban ku untuk membiayai anak itu". Jhonny, menoleh ke arah Olivia menangis kesegukan.
"Kau jahat Jhonny,". Lirih Olivia, meringis menahan rasa sakit di bagian lukanya.
"Jangan terlalu gerak,nanti lukanya berdarah lagi". Meskipun Jhonny,tipe cuek kepadanya. Dia masih perhatian kepada sang istri, memperdulikan keadaannya saat ini.
"Aaaaaaa... Ssshhhhttt.... Perutku sakit sekali, Jhonny!". Olivia, bahkan mencekram tangan Jhonny dan mengigit bibirnya.
"Olivia,kau tidak apa-apa? Tunggu sebentar,aku panggilkan dokter". Jhonny, mencoba melepaskan cengkraman tangan Olivia. Sebenarnya dia,tak sanggup melihat keadaan istrinya. Mau apa lagi,cinta tak bisa di paksakan.
"Aaaaaaa...sakit! Tolong, sakit sekali!". Olivia, bahkan berteriak-teriak histeris.
para dokter langsung sigap memeriksa kondisi Olivia dan janinnya. Memberikan obat penenang,agar Olivia tak meronta-ronta kesakitan.
Salah satu dokter, mendekati Jhonny dan membicarakan hal serius. "Kami akan melakukan USG, apakah janin di dalam kandungan istri anda jantungnya masih berdetak atau tidak".
Mendengar ucapan dokter, Jhonny terduduk lemas dan menatap kepergian Olivia keruang USG. Satu-satunya bertahan dalam pernikahan ini, adalah anak.