
"JJ,kau dimana?". Camelia, calingukan melihat sekeliling mencari JJ Abrams tidak ada di sekitar. Dia masih berenang menjauhi reruntuhan tebing jurang tersebut,ada rasa khawatir di benaknya. "Yang benar saja, JJ Abrams tidak bisa berenang". Kata Camelia,menyelam lagi mencarinya.
Cukup lama Camelia,menyelam menelusuri di dalam laut berharap menemukan JJ Abrams. Dia naik ke atas sudah tak sanggup menahan nafas lagi,masih tidak menemukan sesosok pria yang membuat dirinya kesal.Lalu, kembali menyelam lagi dan berulang-ulang kali.
Sedangkan anak buah Ardan dan JJ Abrams, menulusuri tepi pantai dan mulai mencari bosnya dan kekasihnya. Beberapa orang sudah mulai berenang,ada juga mengawasi dari tebing tinggi.
"Hai! Aku di sini!Hai!". Camelia, melambaikan tangannya agar anak buah JJ Abrams dan Ardan melihat. "Huuuff.. Dingin sekali,mana tanganku sakit".
"Itu nona Camelia,kami akan ke sana!". Jawab salah satu mereka, langsung berenang mendekati Camelia.
Ardan, sudah menghubungi seseorang untuk mengirimkan helikopter dan penyelamat lainnya. Tak mungkin membiarkan JJ Abrams,tewas begitu saja.
Mendengar kabar Camelia, sudah terlihat dan tidak kenapa-kenapa. Ada rasa lega rasanya di hati, Ardan. Namun sayang, JJ Abrams belum di temukan lagi.
Jhonny, segera menuju tepi pantai untuk menemui Camelia. Apa lagi, kalau bukan membawanya pulang karena sudah selesai misi mereka. Melihat Camelia,masih ditengah dan berenang untuk menjemputnya.
Li Yun, senang sekali mendengar kabar bahwa JJ Abrams belum di temukan. Ini adalah impiannya sejak lama,dia tersenyum sumringah dan tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya. "Baguslah, kita impas JJ Abrams. Selamat atas kematian mu,aku harap mereka menemukan mayat mu". Gumamnya pelan, berlalu meninggalkan tempat tersebut.
"Jangan seperti ini, JJ". Gumam Camelia, tubuhnya menggigil kedinginan cukup lama di dalam air. "Aku mohon, kembalilah JJ Abrams".
Deggg....
Jhonny,mencekal lengan Camelia dan mulai menariknya ke tepi. "Ayo,kita pulang Camelia. Buat apa kamu mencari JJ Abrams,anak buahnya banyak mencari dia jangan mengorbankan dirimu. Lihatlah, tubuhmu sudah menggigil kedinginan".
"Lepas! Ini semua gara-gara aku,dia menyelamatkan nyawa ku. Sudah sewajarnya aku mencarinya sampai ketemu,aku berhutang nyawa kepada JJ Abrams. Pergilah sana,aku tidak membutuhkan dirimu". Tegas Camelia, sorotan matanya yang tajam.
"Tidak! Aku tidak membiarkan mu begitu saja,apa perlu nenek yang menjemput mu ha. Urusan kita belum selesai Camelia, kau bebas dari jeratan JJ Abrams. Berkas-berkas berharga miliknya, sudah di tangan Olivia". Jhonny, berusaha menarik lengan Camelia secar paksa. "Kau yakin tidak menurut ha,apa perlu aku hubungi nenek tercintamu". Jhonny, penuh penekanan pada katanya.
Camelia, berdecik kecil terpaksa berenang menepi dan matanya tertuju pada tengah laut. Dimana anak buahnya JJ Abrams dan Ardan,masih mencarinya.
"Ketemu!". Teriak salah satu dari mereka, langsung menarik tubuh JJ Abrams menepi pantai.
Ardan, langsung mendekati mereka dan merasa lega karena JJ Abrams ditemukan.
Camelia, menghempas cengkalan Jhonny dan mendekati tubuh JJ Abrams. Betapa terkejutnya dia,besi runcing tajam menancap di bagian perutnya. Salah satu anak buahnya,menarik benda itu.
"JJ Abrams,bangun". Pinta Camelia, menggoyang lengannya. "Aku mohon, bangunlah". Lirihnya pelan.
Ardan,mengusap wajahnya melihat JJ Abrams tak sadarkan diri dan beruntung masih bernafas.
"Angkat tubuh bos,kita bawa secepatnya kerumah sakit". Ucap mereka,sigap mengangkat tubuh JJ Abrams berlumur darah.
Air bening mengalir di kedua pipinya, Camelia menghapus dan memandang buliran air mata di telapak tangannya."Ada apa denganku?". Gumamnya pelan. "Aaaaakhh..!" Pekik Camelia,ketika tangannya di tarik paksa oleh Jhonny.
"Ayo,kita tak banyak waktu". Ucap Jhonny,masih menarik tangan Camelia dan memaksa masuk kedalam mobil.
Ardan,juga berencana untuk pulang kediamannya. "Dasar wanita ular,apa yang di inginkannya? Camelia, berpihak kepada siapa?". Ardan, kebingungan karena sikap Camelia berubah-ubah.
"Bagaimana dengan cinta mereka berdua? Aku yakin sekali,adik madu memiliki perasaan sama dengan Tuan JJ Abrams". Kata Wina,masih memandang kepergian mereka.
"Tidak yakin aku, Camelia memiliki perasaan sama dengan Tuan JJ Abrams. Dia wanita ular,sikap dan pikirannya bisa berubah-ubah". Sahut Ardan, lebih dulu masuk ke mobil.
"Hmmmm...Adik madu, tidak mungkin seperti itu". Ucap Anggi, tersenyum manis.
"Semoga saja,adik madu tidak mengecewakan perasaan Tuan JJ Abrams". Sambung Selfi, tersenyum sumringah.
Satu persatu istri-istri Ardan, masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat tersebut.
****************
Di tempat lainnya.
"Hahahaha.... Hahahaha....!". Li Yun dan Olivia, tertawa terbahak-bahak melihat berkas-berkas berharga milik JJ Abrams sudah berada di tangannya.
"Hahahaha... Akhirnya,kita mendapatkan ini. Sudah bertahun-tahun lamanya, menyusun rencana akhirnya terwujud. JJ Abrams, tidak memiliki apapun lagi. Kita menang Li Yun,kita menang!". Olivia, kegirangan atas kemenangannya.
"Benar sekali,kita sudah menguasai seluruh kekayaan JJ Abrams tanpa susah payah. Berkat bantuan Camelia, sangat mudah kita andalkan. Termasuk pamannya yang bodoh, mau-mau termakan manisnya ucapan mu". Li Yun, menyunggingkan senyumnya.
"Yah...Kita berdua pemimpin tambang emas yang baru, JJ Abrams tidak ada sangkut pautnya lagi. Aahh...Aku tidak sabar, memiliki kekayaan yang berlimpah". Olivia, sudah membayangkan dirinya kaya raya tak tertandingi.
"Kita berdua, menjadi pemimpin baru? Olivia,tambang emas cuman memiliki satu pemimpin saja". Li Yun, menodongkan pistol ke arah Olivia.
"Li Yun,kamu apa-apaan ha? Kita tim yang memiliki tujuan sama,ini adalah rencana kita berdua. Ingat Li Yun,kita adalah tim kerja sama". Olivia, terkejut melihat sikap Li Yun.
"Kita memang tim,tapi tidak saling percaya Olivia. Mana mungkin aku membiarkan dirimu, menikmati kekayaan JJ Abrams. Ini adalah rencana ku, kau cuman ikut-ikutan. Sama saja,aku cuman memanfaatkan dirimu saja. Meskipun kau adalah keluarga ku, sekedar sepupu. Akulah yang pantas menjadi pemimpin di tambang emas itu,bukan siapapun". Li Yun, menyunggingkan senyumnya.
"licik? Kau pengkhianat Li Yun! Semua ini,kita mendapatkan secara bersama-sama. Menyusun rencana bersama-sama, mana bisa kamu serakah begini ha! Aku tidak membiarkan itu terjadi,ini adalah hak ku juga". Bentak Olivia,dia gelabakan karena tidak memiliki senjata apapun untuk melawan Li Yun.
"Oh,kau adalah penghalang bagi ku. Aku tau Olivia,kau mengirim seseorang untuk membunuhku. Tapi sayang,aku bisa mengatasinya. Baiklah,aku akan mewujudkan impian mu". Li Yun,menarik pelatuk pistolnya.
Dor!
Satu tembakan mengenai perut Olivia,darah segar keluar terlihat di balik pakaiannya.
"Aaaarrgghh...Kau tega sekali Li Yun,aku tengah hamil anak Jhonny. Aku yakin sekali,kau akan mati di tangannya". Olivia, meringis kesakitan dan menekan bekas lukanya berharap darahnya tak keluar terus-terusan.
Apakah Jhonny, menolong Olivia atau membiarkan dirinya dibunuh oleh Li Yun.