SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Cek Uang


Doni dan Rendy,keluar dari perusahaan Jamila dan mau mencairkan cek di bank. Mereka berdua meminjam uang kepada Jamila, jaminannya tanah kediaman Sean dulu. Niat meminjam uang 1M, tetapi Jamila tidak mau dan memberikan cek senilai 500 juta.


Mau tidak mau, mereka terima karena membutuhkan modal usaha. Pikiran mereka benar-benar buntu,karena Jhonny tidak mau membantu mereka.


Doni, memandang cek di tangannya karena modal untuk usaha 500 juta tak cukup. "Rendy,uang segini mana cukup. Kita harus patungan menambah modal,kamu berbicara dengan Vanya. Aku berbicara dengan Clara, pasti mereka punya uang lebih".


"Sudahlah pak tua,simpan cek itu. Segera mungkin kita cair ke bank,jangan sampai di pergunakan uang itu sembarangan. Uang kita cuman itu, untuk usaha modal dan pegangan kita nanti. Akan aku bicarakan dengan Vanya, semoga dia membantu kita". Rendy, nampak tak suka dengan Doni masih memandang cek uang di tangannya.


Bruuukk...


Seseorang menabrak Doni, alhasil cek di tangannya jatuh dan terbang kemana-mana.


"Fendy, cek uangnya terbang. Kejar Rendy! Jangan sampai kehilangan, cek itu!". Teriak Doni, matanya tertuju pada cek di tengah jalan.


Rendy,yang kebingungan bagaimana caranya mengambil. sedangkan jalan raya, begitu padat lalu lalang mobil lain.


"Aaarghhh.... Semua ini, gara-gara kamu pak tua. Lihatlah, cek uang tadi kemana? Sial, sial!". Teriak Rendy, mereka kehilangan jejak cek uang tersebut.


"Jangan salahkan aku,tadi ad orang yang menabrak dan ceknya lepas di tangan. Kamu sih,lama sekali membuka pintu mobil. Alasan kunci mampet lah,". Gerutunya Doni,yang kesal juga.


Jangan di tanyakan lagi, cek uang sudah berpindah tangan. Camelia,menyamar sedari tadi mengikuti mereka berdua. Sengaja menabrak Doni, mengambil cek uang tersebut. Lalu, menggantikan cek palsu dan membiarkan terbang ke tengah jalan.


Camelia, tersenyum sumringah dan meninggalkan tempat kejadian. Tidak berusaha payah,dia sudah mendapatkan uang 500 juta. "Astaga, mereka berdua benar-benar goblok. Masa cek uang 500 juta, asal-asalan memperlihatkan di pinggir jalan. Sinting kali yah!". Ucap Camelia, mengibas-ngibas cek tersebut.


"Rendy,di sana ceknya. Ayo,kita harus mendapatkan lebih dulu". Teriak Doni, mereka berdua mengambil cek di pinggir jalan. Awalnya tersenyum sumringah,namun kenyataannya cek kosong.


"Aaaarrgghh....Bukan ini,pak tua! Kita kehilangan cek uang!". Rendy, mengacak-acak rambutnya sudah frustasi karena uang.


"Apa jangan-jangan, orang yang menabrak tadi mengambil ceknya Rendy? Ayo,kita cari siapa orang itu". Kaki Doni, melemas karena harapan satu-satunya hilang begitu saja.


Mereka berdua terduduk lemas di pinggir jalan, bagaimana bisa mencari pelakunya? Orang yang berjalan di pinggir, sangat banyak dan tidak bisa menuduh macam-macam.


"Aaaarrgghh....Sial!Sial!Sial!". Teriak Rendy, menendang-nendang bebatuan.


"Sekarang kita tidak memiliki apapun lagi,harta peninggalan keluarga Sean. Semuanya habis Rendy, sia-sia perjuangan kita selama ini. Yang ada hancur berkeping-keping, terutama keluarga ku. Aaaakkhh......!". Teriak Doni, mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


"Apa ini,karma pak tua? Kita sudah merampas hak Katrina,lalu membunuhnya. Aku menyesal melakukan itu, kehidupan ku hancur. Istri dan anakku, sudah tidak ada lagi". Mata Rendy, berkaca-kaca mengingat kesalahannya sudah menghabisi nyawa mending istrinya.


Tidak ada tujuan lain, mereka berdua pulang. Sepanjang perjalanan menuju kontrakan, mereka berdua diam tanpa berbicara apapun.


Lena, tersenyum sumringah melihat kedatangan Rendy dan Doni. Dia tak sabar mendapatkan bagian, hasil meminjam uang kepada Jamila.


"Bagaimana, berapa uang yang kalian dapat?". Tanya Lena, tersenyum sumringah.


Kedua wajah mereka, terlihat jelas kusut dan melangkah gontai. Masuk kedalam kontrakan, berukuran sempit.


"Tidak ada, uangnya hilang". Jawab Rendy, dengan pelan." Kenapa juga,gak transfer ke rekening? Ini semua karena paman, tidak percaya dengan ucapan ku". Gerutunya kesal.


"Apa! Kok bisa,kalian jangan bohong?". Bentak Lena, dadanya terasa sesak mendengar ucapan anaknya.


"Iya, seseorang merampas cek uang di jalan tadi. Kami kehilangan uangnya,puas!". Kata Doni, dengan keras. "Jelaslah,aku tidak percaya dengan mu. Jika uang itu,berada di ATM milikmu. Sedangkan kamu, tidak mau Jamila transfer ke rekeningku". Decaknya melirik sekilas ke arah,Rendy


Lena, terduduk lemas dan bersandar pada dinding. Semuanya sudah hilang, tidak ada harapan lagi. Air matanya luruh sudah, tidak menduga kehidupan mereka jatuh semiskin mungkin.


********************


Sedangkan di tempat lain,di sebuah apartemen. Memperlihatkan Ryan, tengah berisap-siap untuk bekerja di kafe Leo.


"Keluyuran terus,jangan sampai jadi ayahmu". Tegur Linda,kepada anaknya.


"Mau kemana Ryan? Jangan membuat masalah lagi, kepalaku sudah sakit memikirkan kehidupan kita ini". Sambung Clara, ikut-ikutan.


Ryan,menghela nafas beratnya dan duduk di samping sang ibu.


"Aku pamit kerja mah,kak, tidak keluyuran kemana-mana. Aku kerja di kafe teman sekolahku". Kata Ryan, tertunduk sedih.


"Kerja!". Linda, mengelus lembut pundak anaknya. "Maafkan mamah, nak. Maaf,". Tangis Linda, langsung pecah.


Clara,tak sanggup melihat keadaan keluarganya. Seorang kakak,gagal memberikan kebahagiaan untuk mereka.


"Jangan menangis mah,aku baik-baik saja. Aku sanggup menahan malu,demi kebaikan bersama. Aku tidak apa-apa,kak jaga mamah yah. Aku pergi kerja dulu, sepulang sekolah nanti langsung kerja. Palingan malam hari,aku baru pulang. Doakan saja, semoga lancar pekerjaan ku". pamit Ryan, sekuat tenaga menahan air matanya.


Clara, mengigit bibir bawahnya. Tak sanggup menjawab perkataan sang adik,dia cuman mengangguk kepala.


Ryan,keluar dari apartemen dan menunggu di halte bus.Dari kejauhan Camelia, sudah mengintai gerak-geriknya.


Tiba bus datang, Ryan masuk kedalam. Begitu juga Camelia,menuju tempat kerjanya. Tak lupa pula,dia harus menyamar agar tidak di ketahui oleh siapapun.


Beberapa menit kemudian, Camelia keluar dari mobil. Tampilannya sangat jauh berbeda, mengenakan gigi tonggos,tompel, berkaca tebal, rambut keriting dan penampilan acak-acakan.


Semua mata tertuju kepadanya, rupanya di kafe Leo ada Anya dan teman-temannya. Terlihat jelas, mereka berbisik-bisik keheranan melihat.


"Silahkan,mau pesan apa mbak?". Seorang wanita, yang di kenal Camelia. Rupanya Leo, merekrut karyawan dari teman sekolahnya yang kurang mampu.


Camelia, menunjukkan beberapa menu yang lumayan banyak. Yang lainya tercengang mendengar pesanannya,serakus itukah dirinya.


"Permisi mbak kribo,siapa namanya?". Tanya Anya, bergidik geli memandang Camelia.


"Ngomong sama saya yah,mbak?". Camelia, menunjukkan dirinya sendiri. Dia juga mengubah suaranya,agak besar.


"Iya,siapa lagi kalau bukan kamu yang kribo". Jawab Anya, gregetan sekali.


"Nama saya Intan,mbak. Kenapa yah,mau kenalan?". Kekehnya Camelia, mengedipkan matanya.


"Idihhhh..Siapa juga,mau kenalan sama kamu! Mendingan kamu duduk di luar sana,gih! Kamu itu, merusak pemandangan tau". Usir temannya Anya,yang sombong.


"Benar sekali,gak selera makan tau. Penampilan kamu itu, jorok banget tau!". Sambung Anya,lagi.


Camelia, tersenyum smrik karena mereka sama saja merusak kafe Leo.


"Terserah saya lah,mau dimana! Saya ke sini mau nyantai,kafe buat nongkrong orang lain. Apa hak kalian,mau usir saya ha? Dasar sombong,yang lain aja gak keberatan kok". Bentak Camelia, membenarkan kacamatanya. Belum apa-apa, sudah ada yang merekam video aksi mereka.