SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Makam


Acara pemakaman Sandra sudah selesai. Banyak orang-orang meninggalkan pemakaman,ada juga mendekati Camelia untuk bersimpati atas kehilangan sang nenek.


Banyak orang lain menyalahkan Sandra,karena dia memindahkan kakaknya di rawat mansion. Namun di perjalanan Sandra,malah merenggang nyawanya.


Maryam, menangis histeris di makam kakaknya itu. Beberapa kali meminta maaf,atas kehendaknya uang merawat kakaknya di mansion saja.


Camelia, meninggalkan pemakaman cukup sudah berada di bawah terik matahari meskipun.


Sesampai mansion sangat sepi karena orang-orang sudah pergi. Camelia, bernafas lega sekarang dan tidak ada hubungan antara keluarga neneknya itu.


Marni dan anak-anaknya mendekati Camelia, sepertinya mereka akan meninggalkan mansion dan membawa koper-koper mereka.


"Kami pamit dari mansion ini, bukan mendapatkan kehidupan enak. Tapi,malah sengsara berlama-lama di sini". Ucap Marni,membuang muka ke arah lain.


"Baguslah, lebih cepat lebih baik kalian pergi". Kata Camelia, menyunggingkan senyumnya.


Mutia dan Yuli,menarik koper masing-masing dan melangkah keluar mansion.


Marni, berdecak kesal karena Camelia cuek dan tidak memperdulikan mereka mau pulang. "Sialan,pulang saja kita mengeluarkan uang untuk membayar taksi".


"Menyebalkan sekali,bu. Bukannya enak tinggal di mansion,malah sengsara daripada di rumah kita". Geruti Mutia, memasang wajah masamnya.


"Iya,kalau dirumah kita ada art dan membereskan semuanya. Sedangkan di sini, tidak ada pelayan atau apapun". Sambung Yuli,masuk kedalam taksi mobil yang di pesan ibunya.


Kebetulan sekali, Maryam dan anak-anaknya datang dari pemakaman. Melihat Marni dan anak-anaknya, pergi dari mansion tak betah berlama-lama di sini.


Camelia, tersenyum sumringah ke arah Maryam yang baru datang. "Nenek Sandra, sudah tiada dan kalian tidak berhak tinggal di sini. Silahkan,bawa barang-barang kalian pergi dari sini!".


Maryam,berdecak kesal karena baru datang dan langsung di usir Camelia. "Tidak! Meskipun Sandra sudah meninggal dunia,kami tidak akan keluar dari mansion ini. Maaf,aku ingkar janji apa yang aku katakan".


"Enak saja,mau mengusir kami dari sini. Keenakan kamu dong, iyakan bu". Sahut Shima,duduk santai di sofa dan berhadapan dengan Camelia.


"Camelia,kau sok belagu karena memiliki bodyguard di samping mu. Kalau tidak ada mereka itu,mana mungkin berani melawan kami". Ejek Jordi, diiringi cekikikan tawanya.


"Benar sekali,dia mana mampu melawan kita yang banyak dan dia cuman sendirian. Camelia,kamb itu sangat lemah sekali". Sambung Laras, tersenyum semanis mungkin.


 "Terserah kalau kalian tidak mau pergi, aku tidak masalah sih. Tetapi,apa kalian sanggup berlama-lama di sini? Setiap hari mengerjakan semuanya, pengen makan beli dan bertambah boros. Apa lagi, kalian tidak bisa menikmati fasilitas kemewahan di sini". Ucap Camelia, mengedipkan sebelah matanya.


"Lihat saja nanti,kami bisa membuka semua ruangan mansion ini. Apapun caranya Camelia,ingat itu". Bentak Maryam, menahan amarahnya.


Maryam, memasang wajah masam tidak bisa berkutik apapun. Bergidik ngeri melihat beberapa bodyguard yang menjaga, Camelia.


"Bu, transfer uang 80 juta mengganti bayar koki dan pelayan. Masa iya,bayar mahal jasa mereka demi menutupi rasa malu ke teman-teman ibu". Laras, langsung menagih uang kepada ibu mertuanya.


 "Benar bu,80 juta jumlah yang banyak. Uangku tinggal sedikit di ATM,mana belum dapat pekerjaan lagi. Gimana nasib kami bu,makan harus beli dan laundry pakaian juga?". Sambung Jordi, cengengesan menatap ke arah Maryam sang ibu.


"Gak! Enak banget mau minta ganti 80 juta,itu resiko kamu sendiri mau bayar. Ibu,memang sengaja gak bayar jasa mereka. Berharap mereka menagih uangnya kepada Camelia, ini malah kamu yang bayar. Sekarang apa ha? Yang ada rugi bukan,malah minta ganti sama aku". Maryam, langsung menolak untuk mengganti uang anaknya.


"Sialan". Gumam Jordi, mengacak-acak rambutnya. "Camelia,ganti uangku 80 juta mengganti bayar jasa mereka tadi. Inikan mansion kamu dan mereka membersihkan mansion ini. Sudah sewajibnya kamu bayar mereka, cepat kirim uangnya ke rekening ku!" Perintah Jordi, dengan nada tingginya.


"Hahahah... Hahahah...Apa tadi,aku mengganti uang karena kamu sudah membayar jasa mereka. Hello...!Aku tidak tau apa-apa loh, bahkan akau tidak memerintahkan jasa mereka mengerjakan ini dan itu. Bukankah ibumu yang menyewa jasa mereka,demi menutupi segalanya dari teman-teman arisan beliau. Jadi,kau tagih uangnya kepada ibumu sendiri dan aku tidak tahu apa-apa". Camelia, cekikikan menahan tawanya.


"Camelia! Uang 80 juta jumlah sedikit bagimu, tidak perlu pelit sama keluarga sendiri.Pokoknya kau harus menggantikan uang kami 100 juta, tidak punya hati!".Ucap Maryam, suaranya menggelegar seisi ruang tamu.


Lagi-lagi Camelia, mengangkat kedua bahunya dan senyum-senyum sendiri. "Kasian sekali,mau sok bergaya tapi isi dompet tak sesuai. Makanya jadi orang jangan sok-sokan menjadi orang kaya raya,jika fasilitas milik orang lain. Apa kalian lupa,ha? Kalian cuman menumpang di sini,aku adalah pemilik aslinya bukan kalian. Sadar diri napa, tidak mampu bergaya tapi memaksakan diri".


"Camelia! Cukup yah,kamu menginjak-injak harga diri kami. Apa kamu tidak memperdulikan perasaan ku,ha? Saat ini,aku tengah berduka atas meninggalnya kakakku. Sedangkan kamu cuman santai-santai saja, tanpa bersedih sedikitpun. Keterlaluan sekali kamu, Camelia!". Teriak Maryam, mendekati Camelia ingin memberikan pelajaran. Akan tetapi, bodyguardnya langsung mencegah Maryam dan menunjukkan tangannya mengepal kuat.


"Jangan menyakiti ibuku, kalau tidak berhadapan dengan ku langsung". Teriak Jordi, langsung berdiri tegak di depan sang ibu.


"Camelia,kamu wanita licik tidak punya hati". Sahut Shima, menghentakkan kakinya dan berlalu pergi.


"Kenapa,kau ingin menghajar bodyguard ku? Silahkan hajar mereka,jangan salahkan aku jika kaki dan tangan mu patah". Ucap Camelia, menaikkan satu alisnya.


Nyali Jordi langsung ciut melihat wajah sangat bodyguard, Camelia. Susah payah meneguk air liurnya, memundurkan beberapa langkah.


Maryam,kesal dengan anaknya tak berani melawan. Dia ikutan pergi meninggalkan ruang tamu,takut jika wajahnya di tampar oleh bodyguard itu.


[Sayang,aku beberapa hari ini sibuk ada urusan bisnis melewati jalan laut. Sangat susah menghubungi dirimu sayang,tau sendiri tidak ada sinyal]


Camelia, mengerutkan keningnya membaca pesan dari sang kekasih. pasti ada sesuatu yang tidak beres, JJ Abrams tidak memberitahunya.


Beberapa kali Camelia, mencoba menelpon kekasihnya itu. Tak kunjung aktif nomornya, semakin mencurigai JJ Abrams. "Kebiasaan deh, kalau ada masalah pasti menghilang bagaikan di telan bumi. Awas kamu JJ,kalau seperti kemarin lagi". Katanya masih memandang layar ponsel,mengetik beberapa pesan mengirim dan cuman centang satu.


"Non, seperti perintah anda tadi. Lampu di mansion akan padam dalam 2 jam lagi,kita saksikan bagaimana mereka?" kekehnya kepala pelayan mansion.


Camelia, manggut-manggut tak sabar menunggu momen dimana mereka kegelapan dan air akan mati juga.