SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Menusuk Dari Belakang


Pagi-pagi buta sekali, Camelia sudah berada di kampus. Dia ingin mengintip Rika dan Kaizam. Apa yang mereka bicarakan, takut sahabatnya itu terpengaruh oleh Kaizam.


Musuh akan mengambil kelemahannya,melalu orang terdekat. Jadi Camelia, harus waspada dan berhati-hati.


Deg!


Benar sekali, Kaizam sudah sampai di kampus dan Rika baru sampai di parkiran.


Namun Camelia, tidak tau dimana ruangan kampus AB. "Sialan, kemana mereka pergi?" Gumamnya pelan, berlahan-lahan mendekati setiap ruangan. Tibalah dia naik ke lantai 3, jantungnya berdegup kencang takut ada yang tau.


Deg!


Camelia, menemukan mereka berdua dan samar-samar mendengar pembicaraan mereka.


"Maaf,ada apa kak?" Tanya Rika,meremas ujung rok mininya.


"Aku kangen sama kamu,malam kemarin tidak datang ke kafe". Kekehnya Kaizam, merangkul pundak Rika sangat intim sekali.


Apa hubungan mereka? Rika, tumben sekali dekat dengan kaizam seperti itu.Batin Camelia, memejamkan matanya.


 "Hmmmm.. Takut ketahuan Camelia,tau sendirilah hubungan kak Kaizam dan Camelia tak baik-baik saja". Kata Rika, menundukkan kepalanya.


Kaizam,mengusap wajahnya dengan kasar. Memandang ke arah luar pintu, secepatnya Camelia bersembunyi.


Cup...


Mata Camelia, membulat sempurna ketika mereka berdua berciuman dengan mesra. Sekarang dia sadar,jika Rika dan Kaizam sepasang kekasih.


Camelia, tersenyum sumringah karena sahabatnya menyembunyikan sesuatu di belakang. Samar-samar mendengar suara Leo dan teman-temannya. Camelia, bergegas mencari persembunyian yang aman.


Karena tidak dapat mendengar pembicaraan mereka, Camelia diam-diam kembali ke dalam kelas tepat di lantai satu.


Dari sini, Camelia merasakan dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Lantas, siapa yang di percaya untuk mencurahkan isi hatinya.


"Astaga! Sejak kapan Rika, berhubungan dengan Kaizam?". Gumamnya pelan,lalu menggeleng kepalanya. "Bukankah dulu, Rika enggan bertemu dengan Kaizam. Apa jangan-jangan, cuman alibinya saja".


[17/8 15.56] Erlina: Camelia,keluar dari kelas dan menuju parkiran sekedar menghilangkan jejak. Kalau dia berdiam di dalam kelas,takut Rika mengetahui semuanya.


Jam terus berjalan, suasana kampus semakin ramai.


Tok...Tok...Tok...


Terlihat Cika,yang baru datang dan mengetuk kaca mobil Camelia.


"Sudah lama, Camel?". Tanya Cika, tersenyum kecil.


"Baru saja,aku nunggu kalian datang". Jawab Camelia, berbohong.


"Oh,tadi Rika berangkat duluan kata ibunya. Biasa mau mampir ke tempat sepupunya, ada yang dia kasih. Ayo,kita ke kelas atau kantin?". Tanya Cika, memainkan kedua alisnya.


"Kita tunggu Rika, takutnya tu anak ngambek loh". Kekehnya Camelia, berusaha untuk menutupi segala-galanya.


"Alah...Rika, sudah sampai di kampus katanya. Ni,aku suruh dia nyusul ke kantin. Ayolah". Cika, menarik lengan sahabatnya.


Cika,aku tidak tau harus percaya dengan mu atau tidak. Ketika Rika,mulai berbohong di belakang ku. Di situlah sebuah keraguan ku, muncul padamu juga.Batin Camelia, sekarang dia sadar dan jangan terlalu berlebihan apapun yang diceritakan.


[17/8 16.03] Erlina: Benar sekali, Rika sudah sampai duluan dan sudah memesan makanan mereka. Dia nampak seperti biasa, seringkali bercanda dan ngomong ceplas-ceplos.


Rika, menyenggol kaki Camelia untuk memberikan kode.Jika Leo, Kaizam dan teman-temannya ke kantin juga.


Di samping Leo, seorang wanita yang bergelut manja. Siapa lagi,kalau bukan kekasihnya Kiki.


Camelia, memandang lekat wajah Rika yang berbeda dari dulu.


"Camel, ngapain kamu liatin aku segitunya?". Rika, tersipu-sipu malu di pandang Camelia.


"Kamu make up an yah, cantik loh. Apa kamu tengah jatuh cinta,hmmm..?"Tanya Camelia, mengedipkan matanya.


"Uhukkk...Yah,gak ada lah. Aku dandan sedikit demi kebaikan ku sendiri,apa lagi di kampus kita banyak cowok ganteng-ganteng. Siapa tau, kecantol sama aku". Kekehnya Rika, setengah berbisik.


 "Nah,aku tadi sudah curiga ada sesuatu yang berbeda dari Rika. Rupanya kamu dandan loh, cantik tau. Iri tau, pengen dandan juga" Cika, memuji kecantikannya.


"Camelia,kamu apa-apaan sih? Jangan liatin aku gitu,malu tau". Rengeknya Rika, mencubit lengan sahabatnya.


"Terpesona tau,sama kecantikan kamu". Camelia, memajukan bibirnya ke depan.


"Jangan gitulah,malu tau" cicitnya Rika,namun dia merasa senang. Maafkan aku Camelia,aku sudah jahat sama kamu.


Aku tau Rika,kamu merasa bersalah dengan ku karena berbohong. Seandainya saja,kamu jujur dan aku tidak akan menghalangi kebahagiaan mu. Jika membuat mu merasa tak nyaman,aku bisa menjauh atau menghindar.


Segerombolan pria mengenakan jaket berwarna hitam,menjadi pusat perhatian para kamu wanita di kampus. Mereka ada 7 orang,duduk lumayan dekat dengan meja Camelia.


Ketika melepas topi jaket, terlihat jelas wajah pria tersebut. Kulit putih, rambut sedikit berwarna coklat,mata biru, wajahnya tampan, badannya tinggi dan sedikit kekar otot-ototnya.


"Apa mereka satu keluarga?" Bisik Camelia,karena mata mereka sama memiliki mata biru.


Cika dan Rika,cuman bisa mengangkat kedua bahunya. Mendengar bisikan-bisikan lainnya, namun sayang tak jelas.


"E'ehmmm... penasaran siapa mereka? Mereka ada keluarga Edward, keturunan bule. Pasti terpesona dengan ketampanan mereka,iyakan". Salah satu teman kelas mereka, memberitahu siapa pria tersebut.


"Camelia,jangan berpikiran aneh-aneh tau. Ingatlah, JJ Abrams di hatimu". Kekehnya Cika, mengerjapkan bola matanya.


"Apaan sih, JJ Abrams memang selalu di hati ku. Kalau cuci mata,gak papakan". Kata Camelia,melirik keluarga Edward. Aku pernah melihat mereka,tapi dimana yah?.


Rika, melirik ke arah Camelia yang tengah melamun sendiri. Sebenarnya, apa yang di pikiran Camelia? Apa jangan-jangan,jatuh cinta dengan salah satu dari mereka. Apa tidak cukup, sudah memiliki JJ Abrams.Batinnya, menggeleng pelan.


"Ee..Mau kemana Camel?". Tanya Cika, melihat Camelia tergesa-gesa beranjak berdiri.


"Ke toilet dulu, kebelet nih". Jawab Camelia, sedikit berlarian dan menjadi pusat perhatian kantin.


Cika dan Rika, terperangah melihat sikap Camelia yang tak biasanya. Mereka berdua juga ikutan menyusul, takutnya terjadi sesuatu.


Betapa beruntungnya Camelia, bertemu dengan Ryan dan mengikutinya dari belakang.


Dari kejauhan Camelia, melihat Ryan bertemu dengan dosen Laras yang mirip dengan Clara.


"Namanya Laras,apa mengubah namanya agar tidak diketahui oleh siapapun". Gumamnya pelan,dia tidak mendengar apa yang di ucapkan Ryan dan Laras. "Sialan, mereka berbicara secara berbisik. Aku harus ke tempat mang Seto dan mencari informasi terkait Ryan".


Deg...


Tubuhnya menegang seketika, merasakan pundaknya di pegang oleh seseorang di belakang. Berlahan-lahan Camelia, berbalik dan tersenyum manis.


Rupanya keluarga Edward,yang memergoki dirinya tengah mengintip Ryan. "Hmmmmm... Aku cuman jalan-jalan". Alibinya Camelia, beruntung Ryan dan Laras sudah tidak ada di sana.


"Lalu,kami percaya saja". Satu pria, menghimpit tubuh Camelia di dinding.


"Iya". Jawab Camelia, mengangguk pelan.


"Benarkah,nona Malik". Bisiknya tepat di telinga, Camelia.


Deg!