
"Kau tidak pantas melakukan ini, Camelia! Ingat umur yang masih bocah, lepaskan aku!". Teriak Lena, sekuat tenaga."Kau benar-benar jahat, Camelia!". Teriaknya keras.
"Apa ibu mertua, lupa? Kalau aku,bukan Camelia loh. Melainkan Katrina, menantu yang kalian bunuh". Ucap Camelia, tersenyum manis di bibir mungilnya. "Kau mengatakan aku jahat,lantas bagaimana dengan kalian? Malaikat, peri, pahlawan,Ck".
"Apa yang kamu lakukan, Camelia? Jauhkan aku dari pisau itu,kau dengar ha!". Bentak Lena, sangat ketakutan melihat aksi Camelia semakin mendekati dirinya.
Sreeett....
"Aaarghhh.... Sakit!kurang ajar kamu, Camelia!". Teriaknya menahan rasa perih. "Lepaskan aku, durhaka sama orang tua kamu".
Camelia, menggores pipi Lena menggunakan pisau kecil sangat tajam. Terlihat jelas dari pipi kanan Lena, mengeluarkan darah bercampur air matanya.
Tidak itu saja, Camelia memberikan goresan di beberapa wajah,lengan,kaki, bahkan menusuk ujung pisau di bagian lainnya.
Tubuh Lena, bersimbah darah segar. Keadaannya sangat memperihatinkan, sudah lemah tak berdaya lagi. Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering.
Byurrrrr.....
Camelia, menuangkan jerigen berisi minyak bensin ke tubuh Lena. Badannya meronta-ronta seperti cacing kepanasan, merasakan sangat perih di bagian lukanya.
Woousss....
Camelia, melempar korek api dan membakar seluruh tubuh Lena.
"Tidaaaaaaakkk....!". Lena, berteriak-teriak histeris merasakan tubuhnya terbakar. Suara rintihan itu, lama-kelamaan hilang.
Setelah selesai, Camelia meninggalkan tempat eksekusinya itu. Tak ketinggalan untuk menghilangkan jejak,serta bukti-bukti lainnya.
Mayat Lena,di biarkan begitu saja. Aromanya tak sedap, sangat menyengat di penciumannya. Tubuhnya yang hangus terbakar,sulit di kenal wajahnya. Namun bagi Camelia, biasa saja malah tersenyum manis.
Di sepanjang perjalanan,air matanya mengalir deras. Beberapa kali,dia menghapus air matanya. Tetap saja mengalir,tak henti-hentinya. Luka di hatinya,masih menganga lebar. Meskipun mereka satu-persatu mati,tak bisa menyembuhkan lukanya dalam sekejap.
Di tempat kematian Lena, seorang pria berdiri tegak dan beberapa orang lainnya. Dia bergidik ngeri, melihat aksi seorang perempuan di bawah umur. Melakukan sekeji ini, meskipun tak jelas apa yang mereka bicarakan. Pria itu, sudah menduga ada balas dendam yang harus di bayar nyawa.
"Bos,ini rekaman tadi".
"Bagus,cari tau bocah ingusan tadi. Seenaknya saja, melakukan pembunuhan di wilayah ini. Kubur mayat ini, hilangkan jejak yang masih ada. Bocah itu, milikku jangan sampai ada orang yang memilikinya". Seringai tajam pria itu, menoleh ke arah anak buahnya yang bengong.
"Bos,ingat umur".
"Diam!". Bentaknya,keras.
**************
Sore harinya, Camelia terkejut mendengar suara pecahan di kamar Liliana.
Ketika dia ingin turun ke bawah, perutnya sudah keroncongan ingin di isi.
"Kau kira,aku tidak tau!". Bentak Jordan,serta menunjukkan jarinya tepat di muka Liliana. "Sekarang kamu pergi,jangan pernah kembali ke mansion ini. Aku masih bersabar Liliana, jangan sampai aku berubah pikiran dan menjebloskan kamu ke penjara". Ancamnya Jordan, dengan tatapan tajam.
Camelia,masih berdiri di depan pintu dan menyaksikan pertikaian antara mereka.
Liliana, tertunduk kepala serta berderai air matanya. "Aku sangat mencintaimu, Jordan. Makanya aku melakukan hal itu, demi cintaku padamu. Aku tidak terima jika ada orang memiliki mu, termasuk kembaran ku sendiri".
"Cinta katamu,ha? Itu bukan cinta Liliana, tetapi egois, ambisi untuk memiliki seseorang. Pergi dari sini,atau aku yang menyeret mu!". Jordan, mengusirnya lagi.
"Jangan macam-macam dengan keluarga Allen,aku bisa melenyapkan mu tanpa jejak". Ancam Jordan, langsung.
Setelah selesai,dia keluar dari kamar dan melewati Camelia yang masih diam.
Tatapan Liliana, sulit di artikan oleh Camelia. Ada senyuman kecil di sudut bibirnya,ada sesuatu yang tidak beres di pikiran Liliana.
Camelia, sudah hapal dengan lirikan mata dan senyumannya itu. Aku yakin sekali, Liliana akan meluapkan emosinya kepada ku. Dia tidak akan membiarkan Jordan,lepas begitu saja. Jangan-jangan berniat untuk menculik ku lagi, astaga! Haruslah aku ikut campur dalam masalah mereka, menyebalkan sekali.Batinnya Katrina, menatap kepergian Liliana.
"Paman". Camelia,masuk kedalam kamar dan memeluk erat tubuh Jordan. "paman,aku takut sekali. Mata Tante Liliana, menyeramkan tadi. Apa dia akan mencelakakan diri ku ini,aku takut". Rengeknya manja, itu adalah aktingnya belaka.
"Sayangnya paman,jangan takut yah. Dia tidak akan bisa menyentuh ku, seujung rambut pun. Tenang saja,paman akan waspada terhadap Liliana dan meminta bantuan kepada seseorang". Jordan, menenangkan perasaan keponakannya.
Camelia, mengangguk pelan dan tersenyum. "Terimakasih, paman. Aku ke bawah dulu,mau sarapan". Kekehnya Camelia, beranjak pergi dan melambaikan tangannya.
Jordan, tersenyum melihat tingkah laku Keponakannya. Dia duduk bersandar di sofa, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
****************
Prok! Prok!Prok!
Camelia,Cika, Rika dan pelanggan kafe lainnya. Bertepuk tangan ketika Kaizam, sudah selesai bernyanyi.
Mereka semua sangat menyukai lagu yang di nyanyikan Kaizam, begitu juga alunan musiknya yang mampu membawa suasana semakin damai.
"Wahhhh...Suara Kaizam,bagus sekali. Kalau kita lulus SMP,masuk sekolah di tempat Kaizam aja. Biasa kapan-kapan dong,liat kak Kaizam nyanyi". Kekehnya Cika, matanya masih tertuju kepada kaizam dan temannya.
"Hmmm... Aku bakalan masuk di sana,gimana kamu Rika? Gak mungkin kan,mau beda sekolah". Camelia, menyenggol lengan temannya masih bengong menatap ketampanan Kaizam.
"Eee... Pastilah,aku akan masuk sekolah di tempat Kaizam. Sudah lama aku ingin sekolah di sana, pengen cepat-cepat lulus. Tampan sekali kak Kaizam,apa sudah punya pacar yah?". Tanya Rika, mengerucutkan bibirnya.
"Yeee...Tanya aja sana". Sahut Camelia, diiringi cekikikan tawanya.
"Liat deh,kak Kaizam menuju ke sini". kata Cika, langsung merapikan penampilannya. Begitu Rika,tak kalah hebohnya dari Cika.
Camelia, menggeleng kepalanya dan memberikan liptin kepada temannya yang minta.
Ada beberapa sepasang mata,tak menyukai Kaizam mendekati mereka bertiga. Siapa lagi,teman perempuan di sekolahnya itu. Kaizam,memang terpopuler di sekolahnya yang berwajah tampan sekaligus kapten tim basket.
"Hai, Camelia!". Kaizam, menyapa Camelia yang duduk manis.
Cika dan Rika, memajukan bibirnya karena kalah bersaing dengan Camelia. Mata Cika dan Rika berkedip, memberikan sebuah kode.
"Malam kak Kaizam, aku suka lagu tadi". Kata Camelia, tersenyum manis dan melirik ke arah temannya yang sudah gelisah gusar.
"Terimakasih, rupanya kamu datang dengan teman yah. Apa mereka yang kamu bicarakan tadi siang, Camel?" Tanya Kaizam, sontak membuat Cika dan Rika terkejut mendengarnya. Diam-diam Camelia, sudah bertemu berdua dan berbicara tentang mereka.
"Eee... Kenalin kak, temanku". Camelia, langsung menyenggol lengan temannya. Ada sorotan mata tajam,yang di berikan Cika dan Rika. Mereka ingin meminta penjelasan dari Camelia, kapan dia bertemu dengan kaizam. Apa lagi mereka berdua, tidak di ajak olehnya.
Kaizam, mengulurkan tangannya silih berganti dengan Cika dan Rika. Tak berselang lama, teman-temannya Kaizam datang dan mengajak kenalan juga.
Dari kejauhan Leo, memasang wajah masam. Karena Camelia,di kelilingi teman kakaknya itu.