
3 Tahun Kemudian.
"Suamiku,aku ada meeting pagi ini. Aku harus pergi sekarang,tolong jaga anak-anak yah. Kalau mereka sudah bangun, mandikan mereka dan kasih sarapan pagi. Ingat, jangan menuruti kemauan mereka jangan memanjakan anak-anak". Ucap Camelia, bersiap-siap mengenakan pakaian kerja kantornya. Wajahnya masih terlihat muda, tidak ada perubahan sedikitpun.
"Tenang saja,aku akan menjaga anak-anak dengan baik. Jangan mengkhawatirkan soal itu, kamu fokus dengan pekerjaan saja". Kata JJ Abrams, masih berbaring di atas ranjang bersama anak-anaknya yang sudah berusia 3 tahun. Itulah masa-masa aktifnya, sudah pasti kewalahan menjaga si kembar.
"Satu lagi, jangan mengajari anak-anak yang berbahaya sayang. Anak-anak kita masih kecil,mana paham soal senjata yang kamu beritahukan kepada mereka. Aku tidak mau anak-anak kenapa,ingat itu". Camelia, selalu menguras tenaga menghadapi sikap suaminya jika bersama anak-anak.
Seringkali Camelia, memergoki suaminya melakukan ekstrim terhadap anak-anaknya itu.
"Sayang, wajarlah aku memberitahu soal itu. Mereka akan seperti ku, harus berani tidak mengenal takut. Mereka akan baik-baik saja, dalam pengawasan ku sayang". Sahut JJ Abrams, tersenyum manis. "Mereka harus seperti ku, tidak lemah menghadapi apapun dan nekad mengambil keputusan".
Camelia, menggeleng kepalanya dan menatap ke arah suami melalui pantulan cermin. "Mereka masih anak-anak suamiku,jangan melewati batas demi kehendak mu itu. Ya sudah,aku pergi dulu sayang".
Camelia, mendekati tepi ranjang dan mencium suaminya itu.
Cup
Cup
Cup
"Aku mencintaimu sayang".kata JJ Abrams, membelai lembut pipi istrinya. "Jangan nakal di belakang ku,jangan dekat-dekat dengan rekan bisnis pria lainnya. Mereka diam-diam menyukai mu, meskipun tau dirimu istri siapa?". Raut wajah JJ Abrams, berubah masam.
"Dudududuudu... Suamiku cemburuan deh, padahal sudah punya anak dua.Aku juga mencintaimu,jaga anak-anak yah". Dah...kalau ada apa-apa hubungi aku, atau tanyakan kepada bu Minah. Satu lagi,kalau tidak mampu menjaga atau mengurus mereka berdua. Katakan saja kepada baby sitter, mereka akan menangani semuanya". Ucap Camelia, sebelum menghilang di balik pintu.
JJ Abrams, cuman mengacungkan jempolnya dan menatap kepergian sang istri. "Hmmm... Sudah jam 7 lewat, anak-anak dady masih tidur. Setiap hari bangun siang, gak mau tidur di kamar sebelah". Gumamnya JJ, mengelus lembut pucuk kepala anak-anaknya.
JJ Abrams,menatap langit-langit kamarnya memikirkan kehidupan bersama istri dan anak-anaknya. Tidak kerasa anak-anaknya sudah berumur 3 tahun lebih,dalam kesibukannya sempat membantu sang istri menjaga anak-anak.
Selama 3 tahun ini, JJ Abrams semakin waspada terhadap musuh-musuhnya. Terutama menjaga anak-anaknya, karena mereka ada senjata kelemahan.
Selama ini juga, JJ Abrams masih belum bisa mengetahui keberadaan saudara Down yang menghilang bagaikan di telan bumi. Down, meninggalkan dunia 3 tahun yang lalu karena tak mampu menyandang racun yang menggerogoti tubuhnya.
JJ Abrams, tersenyum sumringah melihat anak-anaknya menggeliat dan mengerjapkan bola mata masing-masing.
"Anak-anak dady, sudah bangun yah? Ayo,jangan tidur sudah siang loh". Kata JJ Abrams, mencium kening anaknya silih berganti.
"Mom".
"Mommy, sudah berangkat kerja dulu. Nanti siang datang kok,biar dady menjaga kalian". JJ Abrams,turun dari ranjang menggendong kedua anaknya menuju kamar mandi.
JJ Abrams,telaten memandikan kedua anaknya. Meskipun penuh dengan ekstra sabar,dia ikut-ikutan mandi bersama anak-anaknya.
Hampir setengah jam,mandi bersama dan bermain-main juga. Susah payah JJ Abrams,meminta anak-anaknya untuk berhenti mandi.
JJ Abrams, mencari-cari pakaian untuk sang buah hati dan mau mengenakan pampers juga. Lagi-lagi kesabarannya di uji,karena si kembar sangat aktif dan berlarian untuk menghindari ayahnya.
Sedangkan si kembar berlarian kemana-mana,menaiki atas ranjang,sofa,meja, bahkan lainnya juga.
Baru selesai satu anak mengenakan pampers, harus mengejar satunya lagi. Lagi-lagi sang anak begitu jahil mengerjai ayahnya,malah di lepas pampers yang sudah di kenakan.
JJ Abrams,menghela nafas beratnya melihat ke arah si kembar cekikikan tertawa berhasil mengerjai sang dady.
"Dady, pakaikan". Si kembar mendekati sang dady,sambil membawa setelan pakaian yang diletakan di atas ranjang tadi.
"Anak-anak dady,jangan mengerjai dady dong. Belum apa-apa nih, sudah berkeringat menjaga kalian setelah ini,kalian sarapan pagi". Akhirnya JJ Abrams, sudah mengurus kedua anaknya.
Si kembar tersenyum manis, mengikuti langkah kaki ayahnya menuju meja makan. Kedua baby sitter,sigap menyiapkan sarapan pagi untuk Tuan muda.
"Tuan, sarapan paginya". Ucap sang pelayan, meletakkan sarapan pagi di depan JJ Abrams.
"Anak-anak dady,makan yang banyak yah. Jangan lupa di habiskan, kalau tidak akan dady adukan sana mommy". Ancam JJ Abrams, langsung di angguki si kembar.
"Aduh... Cucu-cucu nenek sudah wangi, makan yang banyak yah". Bu Minah, menemani mereka berdua makan.
"Bu,aku ke dana dulu. Titip mereka berdua,ada sesuatu yang harus di selesaikan". Pamit JJ Abrams, langsung di angguki bu Minah.
"Si kembar menuruti perkataan kita bu, tapi kalau sama dady nya pasti ngelawan". Kekehnya Vika, mengelus perut buncitnya.
"Dede,ada dede di sini nek". Artyn, mengelus lembut perut Vika.
"Yee...Ada Dede!". Pekik Artynon, ikut-ikutan sambil bertepuk tangan.
"Iya,ada dede di dalam perut aunty Vika. Kalau dede nya sudah lahir nanti, tolong di jaga yah". Kata bu Minah, mengelus lembut pucuk kepala Artynon.
"Iya,nek". Jawabnya, senyum-senyum.
Selesai sarapan pagi,si kembar berlarian kemana-mana sampai kewalahan menjaga mereka berdua.
JJ Abrams, menggeleng kepala membiarkan apa yang di lakukan sang buah hati. Menonton televisi siarannya gonta-ganti tak karuan, bahkan merebut remote tv segala.
"Jecky,apa ada kabar tentang Roy Hodgson?". Tanya JJ Abrams.
"Tidak ada Tuan". Jawab Jecky, sudah berusaha mencari keberadaan saudara Down yang menghilang beberapa tahun yang lalu.
"Baik, kita harus waspada terhadapnya. Aku yakin sekali,Roy Hodgson merencanakan sesuatu untuk mengambil alih pertambangan emas. Meskipun Roy Hodgson, tidak ada hak atas pertambangan emas itu. Namun,dia bisa melakukan apapun untuk merebutnya kembali. Dulu,dia ingin merebutnya dari tangan saudaranya sendiri. Apa lagi sekarang,Mr.Down sudah mati". Ucap JJ Abrams, pikirannya belum tenang saat ini.
"Tuan JJ Abrams, takutnya Roy Hodgson malah mengincar nona Camelia. Apa lagi,nona seringkali pergi menghadiri acara apapun dan berkunjung ke tempat lainnya". kata Jecky, menoleh ke arah bos besarnya.
"Jangan memikirkan soal itu, Camelia bisa menjaga dirinya sendiri". JJ Abrams,yakin bahwa istrinya mampu mengalahkan orang yang ingin berbuat jahat kepadanya.