SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Gagal


 Plak!


Clara, menampar wajah adiknya Ryan. Dia begitu marah kepadanya, ada seseorang yang mengirim video tentang mengubah nilai Camelia.


"Kenapa menampar wajah ku,kak?"Tanya Ryan, memegang pipinya terasa perih.


"Kamu nanya kenapa,ha? Lihatlah rekaman video ini,dimana kau dan teman-teman mu membongkar rahasia kita. Kau tau akibatnya Ryan,aku bakalan kehilangan pekerjaan dan nama baikku tercoreng. Sudah aku katakan kepadamu,jangan sembarangan berbicara dengan siapapun. Kau begitu ceroboh,belum lagi Jordy yang di pecat oleh Camelia dari perusahaannya". Ucap Clara, menatap tajam ke arah Ryan yang terkejut mendengarnya.


"Apa! Kenapa bisa ketahuan,kak? Bukankah kami tidak melihat siapapun di sana,ini salah kak". Ryan, terlihat panik dan mengusap rambutnya.


"Salah darimana, Ryan? Ini sudah terbukti,kalau seseorang menyebarkan video ini dan kita akan habis!". Bentak Clara, meninggalkan Ryan yang frustrasi sendiri.


"Aaarghhh.... Bagaimana ini bisa terjadi? Sialan, sekarang tidak bisa berbuat apa-apa". Ryan, terduduk lemas di sofa dan mendengarkan kakaknya bertengkar dengan sang suami.


"Kamu itu, benar-benar cerobong mas? Masa, melakukan apapun selalu gegabah. Sudah aku katakan kepadamu, berbuat baiklah kepada Camelia sebagai peluang untuk mendapatkan keinginan kita. Sekarang apa mas,kamu sudah di pecat secara tidak hormat oleh Camelia. Memalukan sekali kamu mas,aku tidak sudi hidup bersama seseorang pengangguran". Clara, langsung meluapkan amarahnya kepada Jordi Alba.


"Kamukan salah satu dosen di kampusnya,bisa di andalkan ancam nilainya. Aku tidak tau, bagaimana bisa Camelia secerdas itu". Jordi, menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.


"Mana mungkin bisa,aku mengubah nilainya dan mengancam seenaknya saja. Kau tau sendirilah, kampus di sana di jaga ketat". Bantah Clara,padahal kedoknya sudah terbongkar.


"Ck, tidak berguna sama sekali" Gerutu Jordi, bangkit dari ranjang dan keluar dari kamarnya.


 Bukan hanya Ryan dan Clara saja yang ketakutan atas rekaman video tersebut. Ryan,juga mengirim ke Kaizam dan lainnya.


"Jangan sampai video ini,di ketahui oleh Cika dan Rika". Kata Kaizam, menggeleng pelan.


"Apa di antara kita ada pengkhianat,siapa pelaku sebenarnya. Kalau seperti ini,kita gagal membalas dendam kepada Camelia". Leo, mengepalkan kedua tangannya karena Camelia lolos dari jeratan mereka.


Sedangkan Camelia,duduk santai di bangku kebesarannya menikmati suasana sekarang. Dia begitu senang mendapatkan informasi, sekaligus kartu AS untuk menyingkirkan musuh-musuhnya.


"Camelia,mau di lawan. Oh,kalian salah sudah mencari gara-gara dengan ku". Ucap Camelia, tersenyum sumringah dan melirik jam dinding menunjukkan pukul 4 sore.


"Aku tidak sabar menunggu, bagaimana rekaman video ini sampai di ketahui Cika dan Rika? Oh, jelaslah mereka berdua menyesali perbuatannya dan bermohon-mohon kepadaku". Kekehnya Camellia, jangan harap pengkhianat akan mendapatkan kesempatan lagi.


 *****************


Malam harinya, Cika dan Rika menunggu kedatangan Kiki di kafe Leo.


Mereka berdua tidak sabar menunggu jawaban Kiki, berharap jawabannya tidak mengecewakan perasaannya.


Kiki, terkejut melihat Cika dan Rika sudah menunggu kedatangannya. Mau bagaimana lagi, Kiki harus memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Bagaimana Kiki, ayahmu mau membantu perusahaan ayah kami? Memang benar bahwa perusahaan ayah kami,di ambang kebangkrutan karena tidak mau menjalin kerjasama". Rika, tertunduk sedih.


"Kiki, cuman kamu satu-satunya harapan keluarga kami. Bukankah dulu,kalian sempat berjanji akan membantu kami jika meninggalkan Camelia. Kalian harus menepati janji itu,jangan spesial kami menyesal karena salah pilih" sambung Cika, menatap mereka silih berganti.


 Ki". Rika, tersenyum getir ke arah Kiki.


"Yah... Ayahku tidak mau menolong perusahaan ayah kalian. Kata ayahku,memang benar kinerjanya buruk sekali. Maaf,aku tidak bisa berbuat apa-apa dan cukup sampai di sini membantu kalian". Kiki,mendengus dingin karena gagal menantang perkataan Camelia.


"Ha! Mana mungkin Kiki,kamu harus bisa membujuk ayahmu. Kalau seperti ini, bagaimana dengan nasih keluarga kita". Cika, langsung membentak Kiki karena kesal.


"Cukup! Masih untung loh,aku membantu kalian. Ayah kalian aja,yang gak becus mengurus bisnis dan seringkali di tinggal rekan bisnis lainnya. Jangan meminta bantuan kepada ku lagi,minta sana sama Camelia!". Pekik Kiki, lumayan keras.


 "Sudahlah! Jangan marah-marah seperti ini, begini saja aku punya ide". Kaizam,mulai menyusun rencana liciknya.


Cika dan Rika, manggut-manggut mendengar penjelasan Kaizam dan mau menuruti perintahnya.


"Tapi, apakah Camelia mau memaafkan kesalahan kami?" Tanya Rika, sebenarnya ragu dengan ide mereka ini.


"Harus di lakukan lah,kita pura-pura putus dan kamu harus berakting sebaik mungkin terluka karena ku. Dari situlah, Camelia akan merasa kasian kepada mu sayang.Ini demi keluarga mu loh,kalau keadaannya sudah membaik. Kita balikan lagi seperti semula, tidak diam-diam menjalin hubungan". Bujuk Kaizam, tersenyum manis.


"Bagaimana jika Camelia, mencurigai semuanya?". Tanya Cika, sebenarnya dia tidak yakin ini berhasil.


"Sayangku, tidak salahkan di coba. Kamu gak maukan, perusahaan ayahmu bangkrut?" Tanya Arjun, seketika Cika menggeleng pelan.


"Maka dari itu,kalian harus mengambil hati Camelia lagi dan menjadi sahabatnya.Ini tidak akan lama, pasti kembali seperti semula. Cuman ini, jalan satu-satunya Cika, Rika". Sahut Leo, tersenyum smrik karena Cika dan Rika mau di ajak kerjasama dan bisa di manfaatkan begitu saja.


Sepulang dari kafe, Cika dan Rika sempat termenung sejenak memikirkan rencana mereka.


"Apa rencana ini, berhasil?" Tanya Rika, sebelum masuk ke dalam rumah masing-masing.


"Kita coba saja dulu, demi keluarga kita Rik. Setelah semuanya kembali normal,baru kita mulai dari awal lagi. Ya sudah,aku masuk duluan". Cika,masuk kedalam rumah cuman berhalat beberapa langkah saja.


Rika, kebingungan mencari ide untuk memperbaiki semuanya dan kembali berteman dengan Camelia. Semua ini, dilakukan demi keluarga kesayangannya dan mengorbankan rasa malu.


Deg!


Rika, sudah di sambut hangat oleh ayahnya menunggu kedatangannya sedari tadi.


"Bagaimana Rika,apa ayah temanmu membantu perusahaan ayah?". Pak Juniarto langsung membentak keras kepada anaknya.


"Maaf, temannya Rika tidak bisa membantu perusahaan ayah. Semua itu, kesalahan ayah katanya tidak becus menjalin kerjasama". Jawab Rika, menundukkan kepalanya.


Plak!


Rika, mendapatkan tamparan keras dari ayahnya. "Makanya punya otak mikir jangan memikirkan cinta saja. sekarang keluarga kita kesusahan siapa yang menolong,ha? Kekasih mu itu,yang tak mau membantu dan malah meninggalkan Camelia jelas-jelas dia sangat berarti". Bentak pak Juniarto, amarahnya sudah mendidih.


Rika,menangis kesegukan meratapi nasibnya mendapatkan amarah habis-habisan dari sang ayah. Awas kamu Camelia, semua gara-gara kamu dan aku terkena imbasnya.Batin Rika, mengepalkan kedua tangannya.