SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Sindiran Keras


Rendy,tak kalah syok berat mendengar cerita Doni. Darimana lagi, mereka mendapatkan penghasilan besar. Jika perusahaan Sean,akan dilenyapkan begitu saja.


"Lama-kelamaan aku tidak suka dengan keponakan, Jordan. Baru berumur bau kencur, sok-sokan mau membangun apartemen". Decak Linda, langsung.


"Gimana lagi, Camelia Keponakan Tuan Jhonny tersayang". Sahut Lena, memasang wajah masam.


"Pak tua,coba kamu meminta bantuan kepada Clara. Bukankah Tuan Jordan, cinta mati dengan anakmu. Pasti Tuan Jordan, mengabulkan keinginan istrinya. Kau gunakan baik-baik anakmu, sebagai menantu di keluarga Allen". Kata Rendy , langsung.


"Masalahnya mulai kemarin, Clara tidak mengaktifkan Ponselnya. Katanya takut dengan pesan orang lain,yang menghina wajahnya sekarang". Jawab Linda, dengan tatapan sinis.


"Sialan,kalau seperti ini terus-menerus. Bagaimana nasib kita,pak tua? Harapan satu-satunya adalah kediaman Sean,kita tidak memiliki pekerjaan. Aku selalu di tolak perusahaan manapun,ketika melamar pekerjaan. Satu-satunya harapan, meminta bantuan kepada Clara. Jika Tuan Jhonny, mengabulkan permintaan adiknya itu. Pasti hidup kita bergelimang harta,masih di pandang tinggi. Kita masih berdiri tegak,di perusahaan Sean". Rendy, kesal dengan Doni yang tidak bisa tegas dengan menantunya.


"Itu, resiko kalian lah. Kami masih enak dong,karena Clara bisa kami andalkan sebagai ATM berjalan. Walaupun suamiku tidak bekerja,tinggal minta dengan menantu kami kaya raya". Ejek Linda, langsung.


"Oh, tidak bisa begitu. Kita sama-sama memiliki rahasia besar, otomatis kami memiliki bagian dong". Sahut Lena,tak kalah dengan Linda.


"Enak saja, tidak ada sangkut pautnya dengan kalian. Suruh saja, Vanya menikahi pria kaya raya". Bantah Linda, langsung menyunggingkan senyumnya.


"Sudah, cukup! Kalian jangan buat keributan dong, kepalaku sudah hampir pecah. Pikiran kalian cuman uang dan uang, apa pernah memikirkan perjuangan kami ha?" Bentak Doni, langsung.


Dua wanita itu, langsung diam dan tidak berbicara apapun lagi.


"Jelaslah kita membutuhkan uang pak tua,kalau tidak kita semua tak akan hidup". Sahut Vanya, langsung.


"Vanya, satu-satunya harapan adalah kamu nak. Transfer uang kepada mamah,jangan jadi anak durhaka yang lupa pada ibu kandungnya. Setelah masuk kedalam keluarga,ternama di kota ini". Sindir Lena, membuat Linda geram mendengarnya.


"Apan sih,mah? Bukankah mamah, memiliki kekasih. Biasanya minta uang langsung di transfer,sampai nominal puluhan juta". Vanya, tersenyum karena mengetahui sang ibu diam-diam memiliki kekasih. Namun,dia tidak mengetahui siapa pria tersebut.


"Apa! Mamah,punya kekasih yang selalu mengirim uang. Katakan mah,siapa orangnya?". Sahut Rendy,ada senjata ampuh mengejek keluarga Doni. Dia langsung tersenyum sumringah,dapat uang tanpa ba-bi-bu.


Glekkkk....


Lena, susah payah meneguk salivanya mendengar ucapan sang anak.


Begitu juga Doni, langsung salah tingkah dan membuang muka ke arah lain. Sindiran Vanya, sampai menusuk hatinya.


"Wahhh... Baguslah,bu Lena punya kekasih dan sebentar lagi kalian punya ayah baru. Mana mungkin kan,dapat calon suami kere". Linda, berpura-pura memuji Lena. Tetapi,dalam hatinya tak terima mereka bahagia dan bergelimang harta.


"Oh, kekasih mamah tidak ada lagi. Karena dia sudah jatuh miskin,bukan level mamah lagi". Jawab Lena, langsung menyindir Doni.


"Yahh... Cari pria kaya raya mah,aku bisa mengurus ini. Aku punya ide loh,ada rekan bisnis masih duda dan kaya raya. Mau gak mah, demi uang mah". Bujuk Rendy,ada kesempatan untuk mengandalkan ibunya.


Lena, mengangguk pasrah menerima tawaran anaknya. Kebetulan sekali,aku ingin memanasi perasaanmu Doni. Bagaimana perasaan mu, ketika aku dekat dengan pria lain? Kamu tidak bisa di harapkan lagi, sudah kere.Batin Lena, waktunya mencari mangsa baru.


Doni, mengepalkan tangannya dengan erat. Hatinya terasa teriris-iris, mendengar ucapan Lena. Begitu hinanya di mata Lena,ketika dia tak memiliki apapun lagi. Kini malah pergi meninggalkan begitu saja,tanpa memikirkan perasaannya selama ini.


"Aku akan menemui tuan Jhonny, berharap mendapatkan pekerjaan di perusahaannya. Doakan semoga saja,aku diterima mah". Kata Rendy, mencium punggung tangan ibunya.


"Hati-hati nak,mamah selalu mendoakan agar kamu cepat sukses kembali". Lena, mengelus lembut pucuk kepala anaknya. matanya melirik tajam ke arah Doni,yang tak berani menatapnya.


********************


Camelia, mengehentikan mobilnya di tengah jalan. Ada sebuah mobil,menghadang jalannya. Kebetulan sekali,jalan nampak sepi dan dekat dengan taman tak ada rumah penduduk juga.


Beberapa pria bertubuh besar,keluar dari mobil. Nampak jelas Arsen, ikutan keluar dan berjalan mendekati mobilnya Camelia.


Baru beberapa langkah, Camelia membuka kaca mobil dan langsung menodongkan pistol.


Dor!


Satu tembakan tepat mengenai sasaran,anak buah Arsen. Karena Camelia, memiliki senjata api mereka semua gelabakan mengundur diri dan berlindung.


"Hahahaha....Kau ingin bermain-main denganku,Arsen. Kau tau,aku siapa kan? Ingin menculik ku,lalu memeras pamanku Jhonny. Oh, tidak semudah itu sayang!". Ucap Camelia, cukup keras.


Arsen, terkejut dengan sikap Camelia yang sangat berani. "Sialan,dia memiliki pistol. Aaarghhh.. Aku gagal menangkap Camelia,".


"Bos, bagaimana ini? Satu orang sudah kena tembak,". Kata salah satu anak buahnya, yang berlindung diri.


"Diam! Berpikirlah dulu, bagaimana cara untuk menangkap dia!". Bentak Arsen,yang kesal karena gagal.


Camelia,menyala mesin mobilnya. Dia berniat untuk menerobos mobil yang menghalangi jalan, baginya tak takut sama sekali. "Kau kira aku tidak berani, menerobos dan menabrak kalian".


Bremm...!


Bremm..!


Camelia, menancapkan gas mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sontak membuat Arsen, terkejut dengan cepat untuk menghindarinya.


Bruaakkkkkkk...!


Camelia,lolos begitu saja. Walaupun depan mobilnya, sedikit rusak karena hantaman mobil Arsen tadi. Tetapi,dia sangat puas dengan keberaniannya jantungnya berdegup kencang.


"Astaga! Aku benar-benar melakukannya". Kata Camelia, tangannya gemeteran sudah. Dia langsung mengambil jalan lain,agar Arsen kehilangan jejaknya.


"Aaaarrgghh.... Camelia!". Teriak Arsen, mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Bos, bagaimana ini? Apa yang kita lakukan?". Tanya anak buahnya, kebingungan dengan sikap sang bos.


"Aaaaa.... Pergi sejauh mungkin,kalian akan mati di tangan Tuan Jhonny. pergilah sejauh mungkin,itu yang harus dilakukan!". Teriak Arsen, membuat yang lainya terkejut mendengar. Masalahnya mereka semua, tidak menahu soal perempuan yang mau di tangkap.


"Apa! Jadi perempuan tadi,ada sangkut pautnya dengan Tuan Jhonny?". Seorang pria,yang bertubuh kekar sudah menggeretakkan giginya.


Glekkkk..


Arsen, sudah terlanjur ketakutan melihat wajah anak buah yang di sewanya memasang wajah sangar.


"Kita harus membawanya kepada bos besar". Ucap mereka salah satu, menyeringai tajam. Arsen,yang tak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf,aku,aku bisa jelaskan semuanya. Tolong,beri..."


Bughhh...!


Satu tamparan keras, Arsen langsung tak sadarkan diri dan di bawa oleh mereka ke suatu tempat.