
Camelia, menatap semangkok baksonya tumpah dilantai. Amisha,yang melakukannya tanpa merasa bersalah pun.
Seisi kantin terdiam membisu, ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Amisha dan ke-dua temannya, senyum-senyum sendiri sambil memandang reaksi Camelia.
"Mau aku pesankan lagi?". Tanya Amisha, dengan santainya.
"Terimakasih, karena mood makan ku sudah hilang. Ketika aku berhadapan dengan makhluk menjijikkan". Ucap Camelia, beranjak pergi dan di ikuti Cika dan Rika.
"Auuuk.... Amisha,meringis ketika tubuhnya di tabrak Camelia lumayan kencang. Amisha,ke samping dan terbentur meja.
"Amisha,kamu jangan macam-macam dan jangan membuly mereka. Apa kamu lupa kasus di kampus ini,siapa yang membuly dia akan mati". Salah satu dari mereka, mencoba menasehati Amisha yang acuh saja.
"Lagipula aku tidak menyentuhnya, apa lagi menyakiti mereka. Jelas berbeda lah,masa iya senior kalah dengan junior". Decak Amisha, meninggalkan kantin.
suasana kampus semakin ramai, Camelia dan kedua sahabatnya masuk kedalam kelas.
"Katanya sih,gak boleh ada yang membuly di kampus ini". Ucap seseorang, sebelah Rika.
"Ha... Emangnya kenapa?".
"Kata abangku, siapa yang membuly salah satu mahasiswi di sini. Maka sang pelaku,akan mati esok harinya".
Camelia, Cika dan Rika semakin penasaran dengan ceritanya.
"Masa sih? Jadi takut tau, dengar ceritanya".
"Benar kan, apa yang aku katakan kemarin. Makanya kampus ini, aman-aman dan tidak ada yang berani membuly kita. Kalau ada,dia bakalan mati".
"Hussssttttt... Emangnya benar gak,yah?". Bisik Cika, menyenggol lengan Rika.
"Aku ke toilet dulu, sebentar kok". Pamit Camelia, menolak minta di temanin.
Camelia, terus berjalan melewati lorongan kampus. Kakinya berhenti melangkah,ketika bertemu dengan Leo dan kakaknya.
Namun, Camelia melanjutkan langkah kakinya tidak memperdulikan tatapan Leo dan lainnya.
Sesampai di toilet, Camelia tersenyum terlihat sekililing ruangan sangat bersih dan nyaman.
Ponselnya bergetar ada pesan masuk dari sang kekasih,dia tersenyum manis dan masuk kedalam toilet.
[Bagaimana kuliah pertamamu? Tidak ada masalah kan,sayang].
Camelia, senyum-senyum sendiri membaca pesan dari JJ Abrams.
[Tidak ada, semuanya berjalan dengan lancar]
Balasannya langsung,dia sudah selesai dan ingin keluar. Tiba-tiba saja, pintu tak bisa di buka olehnya.
Ceklekk.... Ceklekk.... Ceklekk...
Camelia,berdecak kesal karena ada seseorang yang mengerjainya.
"Woy! Buka pintunya,aku tidak mood bermain-main. Buka!Buka pintunya,woy!". Teriak Camelia, menggaruk kepalanya.
"Masa iya, aku manjat". Gumamnya pelan,dia berusaha berdiri di kloset dan mengintip ke luar. Namun,tak ada seorang pun di luar.
Berlahan-lahan Camelia, memanjat dinding dan tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya.
Deg!
Camelia, kebingungan melihat pintu terbuka dan bergegas keluar. Karena penasaran sekali,dia membuka satu-persatu pintu toilet. Pintu paling ujung menjadi pusat perhatiannya, terdengar suara siraman dari kloset.
Rupanya pintu tak di kunci,dia membukanya secara berlahan.
Deg!
Kosong tidak ada siapapun di dalam, membuat Camelia penasaran dan melihat sekeliling. Dia menemukan sesuatu,yang tidak menduga.
Sebuah benang satu petunjuk, mengikuti benang tersebut ke arah tembok. Di tembok ruangan tersebut,ada lobang kecil dan benang mengarah ke sana.
"Aku yakin sekali,ada seseorang yang iseng mengerjai mahasiswi jika ke dalam toilet ini". Gumamnya Camelia, bergegas ke luar ruangan dan mencari tau kebenarannya.
Namun sayang, ruangan yang di tuju terkunci dan bertulisan di larang masuk.
"Maaf,mau sedang apa di depan pintu itu". Tegur salah satu senior dan mendekatinya.
"Hmmmm... Tidak apa-apa kak,cuman mendengar suara kucing di dalam. Takutnya kucing terkunci,lalu gak bisa keluar". Alibi Camelia, tersenyum manis.
"Oh,kami Junior baru masuk tahun ini. Asalkan kamu tau, profesor Haris melarang masuk kedalam tanpa seizin beliau. Sana, masuklah ke dalam kelasmu". Sang senior meminta Camelia, untuk pergi dari pintu itu.
Namun, Camelia masih penasaran dan tak akan membiarkan begitu saja. Ada senyuman smrik di sudut bibirnya, berlalu pergi meninggalkan seniornya.
Sesampai di dalam kelas, Camelia menceritakan apa yang di terjadi di toilet .
"Lain kali,kita barengan ke toilet nya jangan sendiri-sendiri". Rika, bergidik ngeri mendengarnya.
"Benar tu, takutnya kenapa-kenapa loh. Kaya kamu tadi, terkunci di luar". Sambung Cika,juga.
"Aku yakin sekali,ada yang jail sama toilet. Bisa jadi sih, untuk melakukan efek jera berlama-lama di toilet cuman menghindari mata pelajaran dosen killer". Kata Camelia, melirik ke arah dua sahabatnya.
"Bisa jadi tuh,karena dosen killer geregetan sama mahasiswinya dan melakukan ide buruk itu. Sekedar untuk menakuti-nakuti mereka saja". Rika, manggut-manggut mendengarnya.
Mereka mendengar pengumuman, segera berkumpul di aula kampus. Pidato yang panjang dari senior, sebelum para dosen berdatangan.
Mata Camelia, tertuju pada seorang wanita yang sangat mirip dengan Clara. Mana mungkin Clara,tapi bisa jadi deh. Apa jangan-jangan Clara, melakukan operasi plastik untuk wajahnya? Akan aku cari tau deh,siapa tau benar.Tunggu dulu apa Ryan,kuliah di sini? Tapi, jurusan apa yah?.Batinnya, calingukan melihat sekeliling.
Deg!
Mata Camelia, tertuju pada Leo dan kekasihnya tengah berkumpul dengan teman-teman. Namun,satu laki-laki menjadi pusat perhatian.
Leo, tengah berbisik apa laki-laki itu dan berbalik badan.
Glek
Benar sekali Ryan, berkumpul dengan teman-teman Leo. Dari tatapan Ryan, seperti tidak beres.
Apa yang dibicarakan Leo, kepada Ryan? Tunggu dulu, bukankah Leo mengetahui kejahatan ku kepada Ryan. Sial, apa jangan-jangan Leo ingin balas dendam kepada ku. Aku yakin sekali, Ryan pasti bersekongkol dengannya.Batin Camelia, melihat mereka berbisik-bisik.
"Camelia,ada apa?". Tanya Rika, penasaran apa yang di lihat sahabatnya itu.
"Loh,kaya mirip Ryan. Benarkan Ryan itu,iyakan?". Cika, menggoyangkan lengan Camelia.
"Benar sekali, dari tatapan mereka saja. Aku bisa menilainya,jika mereka bermusuhan dengan ku. Ayo,kita pergi". Camelia, langsung mengajak kedua sahabatnya keluar dari aula kampus.
Aku harus berhati-hati dengan Ryan dan Leo. Clara, pasti itu dia dan menjadi dosen di kampus ini. Apa tujuannya sebenarnya, jangan-jangan mereka merencanakan sesuatu.Batin Camelia,terus berjalan sambil memikirkan sesuatu.
"Apa Ryan,satu jurusan dengan Leo? Oh,tadi aku ketemu dengan kak Kaizam. Tapi, wajahnya kaya marah begitu". Kata Cika, tersenyum kecil.
"Sudahlah Cika, jangan membahas Kaizam deh. Pasti Kaizam, marah kepada Camelia tentang jadian itu. Semua ini,bukan salah Camelia loh.Tapi,salah paman-nya Camelia mau gimana lagi. Mereka tetap, menyalahkan Camel". Sahut Rika, tangannya meremas satu kertas yang berikan Kaizam. TEMUI AKU DI KAMPUS AB. Rika, mengacak-acak kertas tersebut dan membuangnya ke bak sampah. Maafkan aku Camel, Cika, bukannya aku menutupi semuanya. Tetapi, aku juga penasaran apa maksud Kaizam.
Ketika masuk kedalam kelas, Camelia berjalan-jalan keliling melihat ruangan dan ketika lengah kedua sahabatnya. Bergegas Camelia,menuju bak sampah. Dimana Rika, membuang kertas yang menjadi pusat perhatiannya tadi. Camelia, tersenyum smrik membaca kertas yang di temukan langsung di masukkan ke dalam kantong.